Dalam dunia kerja, sering muncul istilah blue collar, white collar, hingga berbagai istilah “collar” lainnya. Istilah ini bukan sekadar sebutan, melainkan cara untuk mengklasifikasikan jenis pekerjaan berdasar karakter, lingkungan, hingga status sosial-ekonominya. Walau awalnya berangkat dari warna kemeja yang dikenakan para pekerja di masa itu, istilah ini kini menjadi simbol yang lebih luas.

Blue Collar
Istilah blue collar
lahir dari kebiasaan pekerja pabrik, buruh, dan teknisi yang mengenakan kemeja
berwarna biru agar noda kerja tidak mudah terlihat. Mereka bekerja secara fisik
dan langsung di lapangan. Jenis pekerjaan ini umunya menuntut ketrampilan
praktis kertimbang administratif.
Cotoh
profesi: tukang bangunan, montir, teknisi listrik, operator mesin,
dan pekerja pabrik.

White
Collar
Kebalikannya, white
collar merujuk pada pekerjaan kantoran yang identic dengan kemeja putih.
Mereka lebih banyak terlibat dalam pekerjaan administratif, analitis, atau
manajerial. Lingkungan kerja biasanya lebih formal, dengan ruang kantor sebagai
tempat utama.
Contoh
profesi: akuntan, sekretatis, analis data, manajer.

Grey Collar
Seiring perkembangan zaman, muncul kategori campuran yaitu grey collar. Pekerja jenis ini
menggabungkan keterapilan fisik dengan pengetahuan professional. Mereka tidak
hanya bekerja di lapangan, tetapi juga perlu analisis dan ketrampilan teknis.
Contoh
profesi: teknisi IT, perawat, polisi.

Pink Collar
Istilah ini muncul untuk menggambarkan pekerjaan yang dulu
identic dengan perempuan, meski kini semakin netral. Profesi dalam kategori ini
niasanya bergerak di sektor layanan atau peran yang berhubungan langsung dengan
orang.
Contoh
profesi: guru TK, resepsionis, pekerja retail, perawat.

Gold Collar
Di sisi lain, gold
collar menggambarkan kelompok profesional dengan keahlian tinggi dan
spesialisasi yang langka. Karena ketrampilan yang sangat dibutuhkan, mereka
sering mendapat penghasilan yang besar.
Contoh
profesi: dokter spesialis, pengacara ternama, insinyur tingkat
tinggi, peneliti sains canggih.

Green
Collar
Seiring isu lingkungan makin penting, muncullah istilah green collar. Kategori ini mengacu pada
pekerjaan yang berfokus pada keberlanjutan dan solusi ramah lingkungan.
Contoh
profesi: insinyur energy terbatukan, konsultan lingkungan, pekerja
daur ulang.
Istilah collar
dalam dunia kerja membantu kita memahami ragam profesi dari sisi peran,
tanggung jawab, hingga citra sosialnya. Meski awalnya sederhana, kini istilah
tersebut mencerminkan dinamika industri dan perubahan zaman. Dari blue collar yang bertumpu pada tenaga,
hingga green collar yang bergerak
demi keberlanjutan, semuanya menunjukkan betapa beragamnya cara manusia
berkontribusi dalam roda perekonomian.
7 Penyebab Pakaian Putih Berubah Warna Jadi Kekuningan (Yellowing)
Dulu Bangsawan Sengaja Pakai Baju yang Tidak Praktis — dan Jejaknya Masih Terlihat Sampai Sekarang
5 Jenis Pakaian Yang Nggak Perlu Langsung Dicuci Tiap Habis Dipakai
Kenapa Selebriti Sekarang Malah Dandan Maksimal ke Bandara? Ternyata Airport Fashion Sudah Berubah Total
Kain Blackout, Solusi Maksimal untuk Menghalau Cahaya di Dalam Ruang
Bukan Sekadar Pajangan: Bagaimana Mannequin di Met 2026 Mengubah Cara Kita Melihat Tubuh dalam Fashion
Mode Inklusif, Revolusi Desain yang Merangkul Semua Tubuh
Indigo: Warna yang Pernah Setara dengan Emas — Dari Jalur Sutra hingga Denim Modern
Off-White, Revolusi "Grey Area" Antara Fashion Luxury dan Streetwear
The Death of “It Girl” — Ketika Ikon Fashion Tidak Lagi Tunggal