Industri fashion global kini tengah berada di persimpangan jalan antara tradisi dan tanggung jawab lingkungan. Selama bertahun-tahun, sektor ini dihadapkan dengan krisis perburuan liar dan tingginya emisi karbon dari pengolahan kulit hewan. Lalu disambung oleh kulit sintetis yang digadang-gadang bisa menghentikan penyiksaan terhadap hewan tapi justu menimbulkan masalah mikroplastik dan limbah tak terurai.
Kini, pasar mode benar-benar dituntut
untuk mencari solusi yang benar-benar hijau. Dari situ terciptalah inovasi mushroom leather atau kulit jamur, material kulit berbasis bioteknologi yang digadang-gadang sebagai masa depan vegan leather dan sustainable fashion.
Kulit berbasis miselium jamur ini diharapkan bisa menjadi alternatif terdepan untuk fesyen yang lebih berkelanjutan. Yuk, cari tahu lebih banyak tentang inovasi ini!
Di tengah seruan praktik industri yang lebih ramah lingkungan, kulit jamur (mushroom leather) muncul sebagai salah satu terobosan paling inovatif di dunia. Material yang dikembangkan dari jaringan akar jamur (miselium) ini menawarkan janji keberlanjutan tanpa mengorbankan kualitas ataupun estetika.

Sumber: https://www.theguardian.com/Handfeel dan sifat fisik mushroom leather bisa sangat mirip dengan kulit hewan asli karena strukturnya bisa disesuaikan. Bahkan kulit jamur disebut-sebut lebih tahan terhadap air, minyak serta noda lain. Itulah kenapa bahan ini disebut sebagai pengganti bahan kulit terbaik. Karakter bahannya lembut dan fleksibel, cocok digunakan untuk bahan sepatu, handbag, strap jam tangan, dompet, serta keperluan lain.
Kulit jamur juga disebut bahan vegan sekaligus ramah lingkungan karena sepenuhnya bebas unsur hewani dan mikroplastik. Ini memungkinkan pembuatan produk pakaian, aksesoris serta alas kaki stylish yang sesuai dengan etika dan nilai-nilai berkelanjutan.
Kulit jamur dikategorikan sebagai
bahan tekstil vegan dan ramah lingkungan karena:
·
Bebas unsur hewani dan mikroplastik,
sehingga lebih aman serta beretika bagi lingkungan.
·
Dapat terurai secara hayati di akhir masa
pakainya.
·
Menggunakan limbah pertanian seperti
serbuk gergaji, jerami, atau ampas tebu sebagai media tumbuh.
·
Waktu produksinya hanya beberapa
minggu. Jauh lebih cepat dibandingkan siklus produksi kulit hewan yang
membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Pendekatan ini menjadikan mushroom leather sebagai contoh nyata penerapan ekonomi sirkular dalam industri tekstil.
Baca Juga: |
Mekanisme pembuatan tekstil kulit jamur atau Mushroom Leather adalah contoh luar biasa dari bioteknologi sirkular, di mana limbah organik diubah menjadi bahan tekstil.

Sumber: https://www.refinery29.com/
Secara umum,
proses ini terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu:
1.
Persiapan Substrat (Media Tumbuh)
Proses budidaya jamur dimulai dari persiapan substrat atau media tumbuh. Tahap ini berfokus pada penciptaan lingkungan yang ideal agar miselium dapat tumbuh secara cepat.
Bahan bakunya berupa limbah agroindustri
(pertanian), seperti serbuk gergaji, dedak (bekatul) dari penggilingan padi,
ampas tebu, atau jerami. Limbah tersebut dengan dedak (nutrisi tambahan), kapur
(untuk menyeimbangkan pH media), dan air hingga mencapai kadar ideal (sekitar 65%).
Selanjutnya, media tanam dimasukkan ke dalam
wadah atau kantung plastik tahan panas (baglog) dan disterilkan dengan
cara diukusan atau menggunakan otoklaf selama beberapa jam. Proses ini sangat
penting untuk membunuh mikroorganisme atau jamur lain dan menghambat
pertumbuhan miselium.
2.
Inkubasi Miselium (Proses Pertumbuhan)
Ini adalah tahap inti di mana miselium
tercipta. Betikut step-stepnya:
·
Inokulasi (Penanaman Bibit)
Setelah media dingin, bibit jamur murni (miselium
starter) ditanam ke substrat. Bibit tersebut umumnya dikembangkan dari
jenis jamur yang mampu menghasilkan struktur padat, seperti Ganoderma
lucidum atau Pleurotus ostreatus (Jamur Tiram).
·
Masa Inkubasi
Baglog atau wadah media diletakkan di ruang inkubasi dengan suhu dan kelembapan
terkontrol, serta kondisi anaerob (minim oksigen). Selang beberapa hari atau
minggu, miselium akan tumbuh dan menyebar ke seluruh substrat, merekatkan
partikel-partikel limbah menjadi sebuah matriks yang tebal dan padat menyerupai
busa.
·
Pembentukan Lembaran
Dalam proses komersial kulit jamur (Mylea™
dari Mycotech Lab di Indonesia), miselium diarahkan agar tumbuh dalam bentuk
film atau lembaran. Jaringan padat miselium inilah yang akan dipanen.
3.
Pasca-Produksi (Penyamakan Vegan)
Setelah tumbuh dan mencapai kepadatan serta ketebalan
yang diinginkan, barulah miselium bisa dipanen. Caranya yaitu dengan memisahkan
miselium dari substrat sisa. Kemudian lembaran dikeringkan agar mengeras dan memiliki
tekstur menyerupai kulit.
Langkah terakhir dari proses produksi
mushroom leather yaitu Penstabilan dan Finishing (Tanning). Ini adalah tahapan kunci
yang menentukan kualitas akhir kulit jamur. Tidak seperti kulit hewan yang
menggunakan penyamakan kromium beracun, kulit jamur distabilkan dengan proses penyamakan
berbasis bio atau nabati.
Tujuannya, yaitu:
·
Meningkatkan
daya tahan, membuatnya lebih tahan air, tahan sobek, dan fleksibel.
·
Pewarnaan
dengan zat warna alami yang diekstrak dari tumbuhan, limbah makanan atau pigmen
lain.
·
Miselium
juga perlu dipres atau diberi tekstur agar benar-benar menyerupai kulit sapi,
domba, atau kulit eksotis lainnya.
Inovasi miselium leather telah menandai
era baru, dimana prinsip sustainable fashion bukan hanya wacana,
melainkan sebuah realitas. Fashion pun tak melulu tentang eksploitasi hewan, bahan
kimia atau sumber daya fosil. Pertimbangkan dengan baik, karena keputusan
akhirnya tetap ada di tangan kita!
Elevated Style, Trik Sederhana Bikin Look Harian Kamu 'Naik Kelas
Chloé Paddington Bag Kembali Populer di 2026, Ini yang Berubah
Kenapa Bahan Kaos Dijual Per-kg bukan meter? Ini Penjelasannya!
Apa itu Blake Stitch Construction?
Rainwear Lagi “Naik Level”—Dari Pelindung Hujan Jadi Statement Paling Berani
Mengenal Kain Verlando: Karakteristik, Jenis, dan Penggunaannya dalam Industri Konveksi
Stop Ikut Tren Tiap Minggu. Perlu Nggak Sih Ngikutin Microtrends Fashion?
Bosan Sama Model Kaos yang Gitu-Gitu Aja? Yuk, Kenalan Sama Kaos Boxy!
6 Panduan Menentukan Ukuran Celana yang Pas
Pernikahan Selebriti Bukan Sekadar Romantis—Ini Cara Brand Fashion “Diam-Diam” Menguasai Dunia