Belakangan ini, pakaian dengan
tampilan lusuh, robek, pudar, bahkan terlihat seperti habis dipakai
bertahun-tahun kembali ramai dipakai. Jeans dengan sobekan ekstrem, sweater
bolong di bagian siku, atau kaos yang warnanya seperti sudah 20 kali dicuci — semuanya
dijual dalam kondisi baru, tapi tampak tua.
Sebenarnya, apakah memakai pakaian
yang sengaja dibuat terlihat rusak itu ide yang bagus?
Distressed:
Vintage Instan Tanpa Proses
Secara konsep, pakaian artificially distressed adalah pakaian
baru yang melalui proses khusus agar terlihat usang. Tekniknya bisa berupa pengamplasan
kain, bleaching, pencucian berulang dengan bahan kimia, hingga pemotongan dan
perobekan terkontrol.
Kenapa hal ini menarik?
Karena ia menawarkan estetika vintage tanpa harus berburu barang lama.
Tidak perlu menghabiskan waktu mencari jaket 90-an di thrift store, tidak perlu menunggu denim membentuk fading alami
selama bertahun-tahun. Semua efek “bercerita” itu bisa didapatkan dalam satu
kali beli. Hal ini diibaratkan seperti membeli nostalgia dalam versi instan.
Tapi…
Apakah Terlihat “Asli”?
Di sinilah perdebatan mulai muncul.
Pakaian yang benar-benar usang
karena waktu menyimpan jejak pemakaian yang unik. Lipatan terbentuk sesuai
kebiasaan tubuh pemakainya. Warna pudar muncul secara tidak merata. Sobekan
terjadi di titik-titik yang memang sering tertekan.
Sementara itu, distressed buatan sering kali terasa terlalu “rapi”. Robeknya
simetris. Pudarnya terlalu estetik. Kadang justru terlihat seperti kostum,
bukan hasil perjalanan waktu yang natural. Karena bagi sebagian orang,
keindahan pakaian lama terletak pada cerita di baliknya — bukan sekadar
tampilannya.
Ironi Harga
dan Produksi
Ada juga sisi lain yang cukup
ironis.
Untuk membuat pakaian tampak tua,
dibutuhkan proses tambahan di pabrik. Artinya, ada ekstra tenaga, air, bahan
kimia, dan energi yang digunakan hanya untuk menciptakan efek “usang”. Dari
sudut pandang keberlanjutan, ini menimbulkan pertanyaan: apakah masuk akal
memproduksi sesuatu agar terlihat rusak sejak awal?
Belum lagi soal harga. Banyak item distressed justru dijual lebih mahal
dibanding pakaian biasa. Konsumen membayar lebih untuk efek yang seolah
menunjukkan “ketidaksempurnaan”. Hal ini menciptakan paradoks menarik: kita
membayar mahal untuk sesuatu yang tampak seperti sudah tidak layak pakai.
Antara
Ekspresi Diri dan Konsumsi Tren
Namun, bukan berarti tren ini
sepenuhnya salah.
Fashion pada dasarnya adalah bahasa
visual. Jika seseorang merasa percaya diri dan nyaman memakai jeans robek atau
sweater berlubang, itu tetap valid sebagai ekspresi personal. Dalam konteks streetwear dan budaya pop, estetika
rusak sering diasosiasikan dengan sikap anti-kemapanan, santai, atau rebellious.
Masalahnya muncul ketika tren ini
menjadi konsumsi massal tanpa refleksi. Ketika “rusak” bukan lagi simbol sikap,
melainkan sekadar strategi marketing.
Jadi, Perlu
Dipakai atau Tidak?
Jawabannya kembali ke niat dan
konteks.
Kalau kamu memang menyukai
tampilannya dan memakainya dalam waktu lama, itu pilihan yang sah. Tapi kalau
tujuannya hanya ikut tren cepat, mungkin ada alternatif yang lebih menarik —
seperti membiarkan pakaian benar-benar menua bersama kamu.
Karena pada akhirnya, pakaian yang
paling autentik adalah yang menyimpan pengalaman nyata, bukan efek yang
diproduksi di pabrik.
Distressed buatan memberi kita estetika instan.
Distressed alami memberi kita cerita.
Dan dalam dunia fashion yang
semakin cepat, mungkin justru cerita yang paling berharga.
Artificially Distressed Clothing: Pakaian “Sengaja Rusak” Keren atau Justru Aneh?
Kisah Pijakbumi, Menembus Pasar Dunia dengan Sepatu Ramah Lingkungan
Kenapa Kita Sering Suka Outfit Orang Lain, Tapi Nggak Berani Memakainya?
Distressed Fashion Makin Ekstrem, Ketika Kemeja Gosong Dianggap Sebagai Seni
Berhenti Menebak-nebak! Ini Cara Memilih Ukuran Bra yang Pas
90-an Bangkit Lagi: Deretan Tren Fashion yang Siap Menguasai 2026
Black Opium YSL, Rahasia Dibalik Aroma Sensual Favorit Banyak Orang
Private Label, Cara Cerdas Ciptakan Brand Eksklusifmu!
Bukan Rusak! Ini Fakta Tentang Patina Kulit yang Sesungguhnya
Wrong Shoe Theory: Ketika Sepatu “Salah” Justru Jadi Kunci Outfit Paling Menarik