Pernahkan kamu memperhatikan logo
Adidas di sepatu, jersey, atau
hoodie? Disini kamu akan menemukan fakta bahwa brand asal Jerman ini punya 3
logo berbeda yang digunakan secara bersamaan. Ada yang berbentuk daun
(Trefoil), menyerupai gunung, ada pula yang hanya berupta tiga garis minimalis.
Namun semuanya tetap berakar pada identitas yang sama yaitu tiga garis.
Lantas, kenapa logo Adidas tidak
hanya satu? Dan apa makna dari masing-masing logo tersebut? Yuk, kita bahas
satu per satu!
Sejarah dimulai pada 18 Agustus
1949, ketika Adolf (Adi) Dassler
mendirikan brand Adidas di kota kecil Herzogenaurach, Jerman. Sebelum dikenal
dengan tiga garisnya, ia menggunakan logo sepatu atletik yang ada diantara dua
huruf "d". Dan menariknya, elemen paling ikonik The Three Stripes alias tiga garis Adidas sebenarnya
dibeli dari merek olahraga Finlandia bernama Karhu Sports.
Konon, Adi Dassler membelinya
seharga dua botol wiski dan sejumlah uang yang setara dengan 1.600 Euro saat ini. Sejak saat itu, simbol
tiga garis resmi menjadi identitas permanen brand Adidas dan melekat erat di
sejarah olahraga dunia.
Secara teknis, garis-garis pada
sepatu kulit dulunya berfungsi sebagai pengikat struktural untuk menjaga
kestabilan sepatu atletik. Namun dari sinilah kekuatan branding Adidas
terbentuk dari elemen fungsional
berkembang menjadi identitas visual global
Di pemasaran global, perubahan
logo sering kali dianggap sebagai risiko besar yang bisa mengaburkan identitas
merek. Namun, alih-alih setia pada satu bentuk tunggal, raksasa apparel
asal Jerman yang didirikan oleh Adolf "Adi" Dassler ini justru menggunakan
beberapa logo berbeda secara bersamaan.
Meski terlihat seperti
inkonsistensi, namun pengamat lifestyle dan pakar strategi branding
menilai keberadaan "banyak wajah" Adidas merupakan sebuah simfoni
segmentasi pasar yang jenius. Berikut fakta lengkapnya:
Diperkenalkan pada tahun 1972, logo trefoil (bahasa latin ‘daun semanggi’) melambangkan
keragaman dan jangkauan global. Logo ini pertama kali dipublikasikan pada ajang
Olimpiade Munich dan seketika jadi favorit para pecinta fashion sporty.
Secara filosofis, tiga kelopak daunnya melambangkan
peta dunia (Amerika, Eropa/Afrika, dan Asia) yang disatukan oleh tiga garis
horizontal. Seiring berjalannya waktu, Trefoil tidak lagi digunakan untuk
sepatu marathon dan perlengkapan teknis teknis. Namun sejak 1997, logo tersebut
secara eksklusif menjadi wajah dari Adidas Originals.
Lini ini fokus pada item-item heritage dan lifestyle,
seperti streetwear, budaya hip-hop,
dan fashion urban. Bagi pecinta streetwear, trefoil membawa pesan nostalgia
sekaligus modernitas. Cocok bagi penggemar fashion vintage, old-school, atau gaya-gaya
santai saat hangout di akhir pekan.
Memasuki era 90-an, Adidas membutuhkan citra yang
lebih agresif dan teknis untuk bersaing di kancah olahraga profesional. Dari
situ lahirlah logo Performance atau "The
Mountain, berupa tiga garis miring yang
disusun sedemikian rupa sehingga membentuk siluet gunung.
Visualnya lebih tegas dan modern dibanding Trefoil menegaskan
filosofi bahwa olahraga adalah perjalanan penuh rintangan. Logo ini
melambangkan tantangan yang harus didaki oleh setiap atlet untuk mencapai
puncak prestasi.
Kini simbol menyerupai bentuk gunung tersebut
digunakan pada lini Adidas Performance,
yang fokus pada produk atletik professional serta inovasi teknologi olahraga. Meski
ditujukan untuk performa, logo ini juga mendominasi pasar activewear.
Menjelang Piala Dunia 2022, Adidas melakukan perubahan
pada logo performance yang
mengubah identitasnya secara signifikan. Dimana mereka menghilangkan
tulisan "adidas" di bawah garis miring dan menyisakan tiga garis
ikonik. Langkah ini dilakukan untuk mengubah kesan dan identitas brand yang
lebih modern, bersih, dan berani.
Keputusan Adidas menghilangkan tipografi dan hanya
menyisakan tiga garis miring menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang luar
biasa. Secara psikologis, sebuah merek dianggap telah mencapai level
"ikonik" jika konsumen bisa mengenalinya tanpa perlu membaca namanya
(seperti Apple atau Nike). Dalam dunia lifestyle digital yang serba
cepat, logo yang lebih bersih ini lebih mudah diaplikasikan di berbagai
platform sosial media dan desain produk minimalis.
Keputusan Adidas mempertahankan
beberapa versi logo menggambarkan pengelolaan identitas yang matang. Setidaknya
ada tiga alasan utama yang melatar belakangi keputusan ini, yaitu:
1.
Manajemen Warisan (Heritage Management)
Trefoil memiliki nilai nostalgia tinggi. Menghapusnya
berarti menghilangkan memori kolektif konsumen lintas generasi.
Pendekatan ini memungkinkan Adidas menjangkau audiens
yang luas tanpa kehilangan fokus. Karena setiap logo merepresentasikan segmen
berbeda:
·
Trefoil → Lifestyle dan heritage
·
Gunung → Performa dan kompetisi
·
Three Bars → Identitas korporat modern
Walaupun visualnya berbeda, elemen tiga garis selalu hadir.
Inilah benang merah historis yang menjaga kesinambungan identitas brand Adidas sejak
1949.
Keanekaragaman logo Adidas adalah refleksi dari kompleksitas
kebutuhan manusia modern. Kita ingin menjadi atlet di pagi hari, profesional di
siang hari, dan penikmat seni atau musik di malam hari. Adidas, dengan jajaran
logonya, memastikan bahwa mereka punya "wajah" yang tepat untuk
menemani setiap fase kehidupan tersebut.
Jadi, versi logo mana yang paling mendominasi lemari
pakaianmu saat ini? Apakah kamu pecinta gaya vintage dengan Trefoil,
atau si aktif yang hobi mengoleksi logo Performance?
Fakta Tentang Logo Adidas Yang Nggak Cuma Satu
Office Siren & Kembalinya Power Dressing: Ketika Ambisi Jadi Estetika
Jangan Asal Murah! Ini 7 Pakaian Sebaiknya Tidak Dibeli Bekas
Mantel Leopard: Statement yang Ternyata Bisa Dipakai ke Mana Saja
Listrik Statis Bikin Pakaian Nggak Nyaman? Ini 8 Cara Ampuh untuk Mengatasinya
Maternity Clothes vs Baju Biasa: Apa Bedanya dan Perlukah Membelinya?
Perbedaan Motel dan Hotel, Jangan Salah Booking, ya!
Kenapa Hampir Semua Selebriti Punya Brand Fashion? Kenapa Bukan Makanan atau Teknologi?
Jangan Abaikan! Ini 5 Pertanda Sudah Waktunya Beli Celana Dalam Baru
Artificially Distressed Clothing: Pakaian “Sengaja Rusak” Keren atau Justru Aneh?