Beberapa tahun terakhir, timeline kita dipenuhi gaya “clean
girl”, “soft life”, dan outfit serba effortless.
Tapi memasuki 2026, ada pergeseran yang cukup terasa: perempuan kembali ingin
terlihat tegas, ambisius, dan sedikit intimidating.
Dari situ masuklah estetika Office Siren. Gaya ini bukan sekadar
outfit kerja. Melainkan sebuah citra, aura, dan sebuah performa sosial tentang
kesuksesan, kontrol, dan daya tarik.
Apa Itu
Office Siren?
Sumber: https://lifestyle.okezone.com/
Office Siren adalah interpretasi modern dari power dressing dengan
sentuhan sensual yang halus. Siluetnya ramping, rapi, dan terstruktur —
tapi tidak kaku. Ada unsur “corporate”, tapi juga ada kesadaran penuh akan daya
tarik visual.
Ciri khasnya meliputi:
·
Blazer fitted atau tailored yang menonjolkan pinggang
·
Rok pensil atau straight skirt
·
Kemeja satin, silky, atau sedikit sheer
·
Heels pointed
·
Rambut sleek (low bun atau blowout lurus)
·
Kacamata tipis ala awal 2000-an
Warnanya cenderung netral: hitam, charcoal, cokelat tua, navy, atau putih
tulang. Pokoknya polohan warna serba minimalis, tapi tajam. Selain itu, Office
Siren terasa seperti karakter perempuan karier di film 90-an dan 2000-an, yang
penuh percaya diri, sedikit dingin, dan sangat sadar posisi.
Dari Power
Suit ke Office Siren
Sumber: https://deavita.net/
Untuk memahami tren ini, kita perlu
mundur sedikit ke era 80–90an. Pada masa di mana gaya power dressing identik dengan struktur maskulin: bahu tegas, blazer
oversized, dan siluet lurus. Saat pakaian
menjadi alat bagi kaum wanita untuk “masuk” ke dunia kerja yang didominasi
laki-laki. Contohnya seperti figur fiksi seperti Miranda Priestly dalam The Devil Wears Prada menjadi simbol authority yang dingin, elegan, dan
absolut.
Memasuki akhir 90-an hingga
2000-an, power dressing mulai
berubah. Feminitas tidak lagi disembunyikan, tapi dipoles. Karakter seperti
Rachel Green di Friends menunjukkan
bahwa perempuan bisa fashionable,
profesional, dan tetap stylish tanpa
kehilangan sisi lembutnya.
Office Siren masa kini adalah
evolusi dari dua fase tersebut. Gayanya telah berevolusi dengan menggabungkan
aspek-aspek seperti: struktur yang tegas, siluet feminin, sentuhan sensual yang
subtil, serta kesadaran image yang
sangat modern
Kenapa Tren
Ini Muncul Lagi di 2026?
Tren fashion jarang muncul tanpa
konteks sosial. Office Siren terasa relevan karena beberapa alasan besar.
1.
Kembalinya Narasi Ambisi
Setelah era “soft girl” dan
glorifikasi hidup santai, banyak orang — terutama perempuan muda — mulai
tertarik lagi pada narasi ambisi, karier, dan financial independence. Gaya berpakaian ikut berubah mengikuti mood kolektif itu. Salah satu alasannya
karena siluet yang terstruktur memberi kesan kontrol. Dan kontrol terasa
penting di masa yang penuh ketidakpastian.
2.
Ketidakstabilan Ekonomi & Simbol Kompetensi
Secara historis, ketika kondisi
ekonomi terasa tidak stabil, fashion cenderung menjadi lebih formal dan terstruktur.
Orang ingin terlihat capable. Mereka akan
mengenakan blazer yang fitted, rok
pensil, dan sepatu pointed bukan hanya
untuk sekadar bergaya, melainkan simbol kesiapan dan profesionalisme.
3. Fantasi
Corporate Glamour
Menariknya, banyak Gen Z yang
mengadopsi Office Siren justru bukan karena mereka bekerja di kantor formal. Tren
ini lebih ke fantasi visual: glamor versi dunia kerja. Juga didorong oleh media
sosial yang menciptakan estetika “successful woman” yang polished dan slightly
intimidating. Office Siren adalah kostum untuk memainkan peran tersebut.
Empowerment
atau Male Gaze?
Sumber: https://www.whowhatwear.com/
Di sinilah diskusinya menjadi lebih
kompleks.
Office Siren memadukan
profesionalisme dan sensualitas. Ada yang melihatnya sebagai bentuk empowerment: perempuan bisa powerful dan sensual dalam waktu
bersamaan tanpa harus memilih salah satu. Namun ada juga kritik bahwa estetika
ini masih bermain dalam standar tubuh tertentu dan bisa terasa eksklusif.
Seperti banyak tren lain, maknanya bergantung
pada siapa yang memakainya. Jika dipakai sebagai ekspresi kontrol diri dan
identitas, ia bisa terasa membebaskan. Jika dipakai demi validasi eksternal,
narasinya bisa berbeda. Pada akhirnya, hal ini kembali pada dasarnya: fashion adalah
bahasa, dan bahasa selalu punya banyak interpretasi.
Office
Siren vs Power Dressing Klasik
Power dressing klasik berbicara tentang memasuki ruang kekuasaan. Office
Siren kini berbicara tentang menguasai ruang itu — dengan sadar dan stylish. Jadi,
jika era 80–90an mencoba menyamarkan feminitas agar terlihat kuat, Office Siren
justru mengatakan: kekuatan dan feminitas bisa berjalan bersamaan.
Apakah Tren
Ini Akan Bertahan?
Sumber: https://www.vogue.com/
Microtrend biasanya cepat datang dan pergi. Tapi power dressing bukanlah microtrend — ia adalah
siklus. Di mana setiap kali dunia terasa kompetitif, fashion akan kembali ke
struktur. Setiap kali perempuan ingin menegaskan posisi sosialnya, siluet akan
mengeras lagi.
Office Siren mungkin akan
berevolusi, tapi ide dasarnya — ambisi sebagai estetika — sepertinya akan terus
muncul dalam berbagai bentuk. Dan mungkin itu bukan hal yang buruk. Karena
kadang, berpakaian seperti seseorang yang powerful
bisa membuat kita benar-benar merasa powerful.
Fakta Tentang Logo Adidas Yang Nggak Cuma Satu
Office Siren & Kembalinya Power Dressing: Ketika Ambisi Jadi Estetika
Jangan Asal Murah! Ini 7 Pakaian Sebaiknya Tidak Dibeli Bekas
Mantel Leopard: Statement yang Ternyata Bisa Dipakai ke Mana Saja
Listrik Statis Bikin Pakaian Nggak Nyaman? Ini 8 Cara Ampuh untuk Mengatasinya
Maternity Clothes vs Baju Biasa: Apa Bedanya dan Perlukah Membelinya?
Perbedaan Motel dan Hotel, Jangan Salah Booking, ya!
Kenapa Hampir Semua Selebriti Punya Brand Fashion? Kenapa Bukan Makanan atau Teknologi?
Jangan Abaikan! Ini 5 Pertanda Sudah Waktunya Beli Celana Dalam Baru
Artificially Distressed Clothing: Pakaian “Sengaja Rusak” Keren atau Justru Aneh?