Melihat fashion show kadang bikin kita bertanya-tanya: ini fashion avant-garde atau maximalist, sih? Keduanya sama-sama bisa menghadirkan pakaian
dengan siluet ekstrem, warna mencolok, material tak biasa, aksesori besar,
sampai bentuk yang rasanya mustahil dipakai sehari-hari.
Buat masyarakat awam, perbedaannya
memang tidak selalu kelihatan. Bahkan, satu look
bisa saja memiliki karakter maximalist
sekaligus avant-garde. Lantas, kalau
sama-sama “berlebihan”, apa yang sebenarnya membedakan?
Maximalist
Fashion: “More Is More”
Gucci. Sumber: www.minniemuse.com
Maximalist fashion adalah pendekatan yang merayakan kelimpahan visual.
Prinsip sederhananya adalah more is more:
semakin banyak warna, motif, tekstur, ornamen, atau aksesori, semakin kuat pula
karakter maksimalisnya. Bayangkan misal blazer bermotif dipadukan dengan rok
penuh ruffle, sepatu statement, tas berornamen, dan perhiasan
berukuran besar. Semua elemen tersebut sengaja hadir bersamaan untuk
menciptakan tampilan yang penuh dan ekspresif.
Namun, maximalist bukan berarti harus aneh. Bentuk pakaiannya masih bisa
sangat familiar—gaun, blazer, rok, celana, atau coat—hanya saja dibuat lebih berani melalui kombinasi warna,
dekorasi, material, dan styling. Jadi,
kata kuncinya adalah kelimpahan.
Avant-Garde: Mendorong Batas Fashion
Sementara itu, avant-garde lebih berkaitan dengan eksperimen dan keberanian menantang konvensi. Dalam fashion,
pendekatan ini bisa muncul melalui konstruksi pakaian yang tidak biasa,
perubahan proporsi tubuh, siluet eksperimental, material tidak konvensional,
atau desain yang membuat kita mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya
disebut sebagai pakaian.
Comme des Garçons. Sumber: www.pinterest.com
Karena itu, avant-garde tidak berarti penampilannya harus ramai. Busana serba
hitam dengan bentuk yang sederhana pun bisa bersifat avant-garde jika desainnya mengeksplorasi hubungan antara tubuh,
pakaian, dan bentuk secara tidak konvensional.
Salah satu nama yang sering
dikaitkan dengan pendekatan ini adalah Rei Kawakubo dari Comme des Garçons.
Karya-karyanya bahkan pernah dibahas The Metropolitan Museum of Art melalui
pameran Rei Kawakubo/Comme des Garçons:
Art of the In-Between, yang mengeksplorasi batas antara fashion dan anti-fashion, tubuh dan pakaian, serta
pakaian dan objek.
Jadi, kalau maximalism bertanya “seberapa
banyak yang bisa kita tampilkan?”, avant-garde
lebih bertanya “seberapa jauh batas fashion bisa didorong?”
Kenapa
Keduanya Sering Terlihat Sama?
Eksperimen avant-garde sering menghasilkan pakaian yang secara visual sangat
mencolok. Maximalism juga sengaja
menciptakan tampilan yang mencuri perhatian. Akibatnya, keduanya bisa sama-sama
menghasilkan rok berukuran raksasa, bentuk tubuh yang tidak biasa, dekorasi
berlebihan, atau material yang tidak lazim. Padahal, penyebab di balik
tampilannya bisa saja berbeda.
Schiaparelli. Sumber: www.nssmag.com
Sebuah busana yang penuh bulu,
kristal, warna kontras, dan ornamen mungkin terlihat ekstrem karena desainer
ingin menciptakan kemewahan visual. Itu memiliki karakter maximalist.
Sebaliknya, pakaian dengan siluet
aneh mungkin dibuat untuk mengeksplorasi bagaimana tubuh bisa dibentuk ulang
oleh pakaian. Fokusnya bukan sekadar membuat tampilan lebih ramai, tetapi
melakukan eksperimen terhadap bentuk dan konsep pakaian. Di situlah karakter avant-garde muncul.
Jadi, daripada hanya bertanya “Ini
kelihatan aneh atau tidak?”, coba dipikirkan lagi “Apa yang sebenarnya sedang
dieksplorasi oleh desainer?”
Satu Look
Bisa Jadi Keduanya
Schiaparelli. Sumber: www.couturenotebook.com
Maximalist dan avant-garde
bukan dua kategori yang selalu terpisah. Satu busana bisa menggabungkan
keduanya. Misalnya, sebuah gaun memiliki rok superbesar yang dihiasi bulu,
bordir, kristal, dan berbagai lapisan kain. Dari sisi visual, jelas terdapat
karakter maximalist karena elemen
dekoratifnya sangat melimpah. Namun, kalau struktur rok tersebut sekaligus
merupakan eksperimen terhadap cara pakaian membentuk tubuh dan mengubah
proporsi manusia, look tersebut juga
bisa memiliki karakter avant-garde.
Karena itulah memberi label secara
mutlak pada pakaian runway terkadang
tidak semudah yang kita kira.
Avant-Garde Bukan Berarti “Semakin Aneh Semakin Bagus”
Kesalahpahaman lain adalah
menganggap avant-garde identik dengan
pakaian yang terlihat aneh. Padahal, “aneh” hanyalah kemungkinan hasil
akhirnya, bukan definisinya.
Comme des Garçons. Sumber: www.istitutomarangoni.com
Koleksi Body Meets Dress—Dress Meets Body Spring/Summer 1997 dari Rei
Kawakubo, misalnya, menggunakan bantalan yang ditempatkan secara asimetris pada
tubuh sehingga menghasilkan siluet yang tidak biasa. Eksperimen tersebut bukan
sekadar membuat pakaian terlihat unik, tetapi juga mempertanyakan hubungan
antara tubuh dan pakaian serta gagasan tentang bentuk tubuh ideal. Artinya,
sebuah desain bisa avant-garde karena
gagasannya, bukan semata-mata karena penampilannya.
Begitu pula sebaliknya, pakaian
yang sangat ramai belum tentu avant-garde.
Gaun penuh payet, bulu, ruffle, dan
aksesori besar bisa saja murni bermain dalam bahasa maximalism tanpa melakukan eksperimen terhadap konstruksi atau
fungsi pakaian.
Jadi,
Bagaimana Cara Membedakannya?
Saat melihat fashion show, coba perhatikan tiga hal.
Pertama, lihat sumber “kemeriahannya”. Kalau daya tarik utamanya
berasal dari tumpukan warna, motif, tekstur, ornamen, dan aksesori, kemungkinan
besar ia mengandung karakter maximalist
yang sangat kuat.
Kedua, lihat bentuk dan konstruksinya. Apakah pakaian mengubah
proporsi tubuh, menggunakan konstruksi yang tidak biasa, atau membuat kita
mempertanyakan bentuk pakaian itu sendiri? Kalau iya, berarti ini lebih dekat
dengan avant-garde.
Ketiga, lihat konteksnya. Satu foto dari runway tidak selalu cukup untuk memahami
sebuah koleksi. Konsep desainer, teknik pembuatan, material, dan keseluruhan
koleksi dapat menjelaskan apakah sebuah desain memang eksperimental atau
sekadar dibuat dramatis.
Kesimpulannya
Maximalist dan avant-garde
memang sering terlihat mirip karena keduanya sama-sama bisa menghasilkan
fashion yang dramatis dan tidak biasa. Namun, fokus keduanya berbeda.
Maximalist fashion merayakan kelimpahan visual.
Avant-garde fashion mengeksplorasi kemungkinan baru dan mendorong batas
konvensi.
Jadi, jangan langsung menganggap
pakaian yang ramai sebagai avant-garde
atau pakaian yang aneh sebagai maximalist.
Di dunia fashion, penampilan adalah hasil akhirnya, sedangkan pendekatan dan
gagasan di balik desainlah yang sering menjadi pembeda sebenarnya.
Baca juga: Avant-Garde: Seni, Fashion, dan Pemikiran di Luar Batas
Maximalist vs Avant-Garde: Kenapa Fashion yang “Gila” Sering Bikin Bingung?
Kenapa Motif Loreng Disebut Camo? Ini Asal-usulnya!
Atelier vs Butik, Apa Sih Bedanya?
5 Tren Menswear dari Milan Fashion Week SS27: Saat Gaya Pria Makin Berani
Kenapa Serat Kain Satin Mudah Tertarik? Ini Penyebab Snag dan Cara Mencegahnya
Mengenal Kain Bouclé, Rahasia Tekstur Mewah di Balik Jaket Chanel
Arah Serat Kain (Grainline): Pengertian, Jenis, dan Fungsinya
Beauty Milan Fashion Week SS27: Saat Glamour Jadi Lebih Berantakan
Sambut Hari Batik Nasional, Kampung Giriloyo Siap Perkenalkan 14 Motif Batik Tulis Baru
Mewah Tanpa Logo Besar, Ini Rahasia di Balik Gaya Elegan Massimo Dutti