Sukses dengan Arva School of Fashion
bukanlah akhir perjuangan seorang Aryani Widagdo. Sang pegiat pendidikan fashion ini memulai perjalanan kreatifnya dengan melakukan berbagai riset
hingga ia menemukan ketertarikan luar biasa pada Zero waste fashion. Ia
pun merasa bahwa keterlibatannya dalam gerakan Zero waste fashion sungguh
“ajaib”.
Sekitar sembilan tahun yang lalu, seorang teman memberinya beberapa lembar fotocopy-an dari sebuah buku.
“Bu, pola ini aneh. Tidak ada
sisa perca kainnya,” kata temannya saat itu.
“Oh, mengapa bisa begitu ya?”
pikirnya.
Berawal dari situlah, Aryani Widagdo mulai mengenal potongan pola tanpa sisa atau Zero Waste Pattern Cutting. Yaitu sebuah metode pembuatan pola dengan memaksimalkan penggunakan kain sehingga tak banyak sisa kain yang terbuang. Bisa dibilang, bahan kain yang digunakan benar-benar terpakai seluruhnya.

Demi mempelajari bagaimana bisa seorang perancang busana menghasilkan model-model busana tanpa meninggalkan perca sedikitpun, Aryani membeli buku “Zero waste fashion” karya Holly McQuillan dan Timo Risannen. Dari situlah, pandangannya mulai terbuka dan sadar bahwa ternyata industri pakaian, khususnya fast fashion adalah pencemar kedua terbesar di dunia setelah industri minyak.
fashion educationist asal Surabaya ini pun berpemikiran bahwa
sebagai seorang perancang busana, ia harus mengambil langkah untuk mengurangi beban
Bumi dari sampah pakaian. Ia ingin dunia fashion aktif turut andil dalam
upaya menjaga kesehatan lingkungan hidup.
Dan menurutnya, Zero waste
fashion adalah jalan keluar sektor perancangan busana guna menekan jumlah
limbah tekstil.
Usai mengorek pengetahuan dari buku Zero waste fashion dan tulisan para pemuka ZW Pattern Cutting, Aryani mulai melakukan riset. Awalnya ia banyak tersesat karena buku atau pola yang tersedia di ruang online tidak disertai langkah kerja.

Ia pernah bingung, pola celana
kok tidak bisa jadi celana? Setelah beberapa hari, Aryani baru menemukan
jawabannya. Ternyata polanya harus dibalik/flipped, baru bisa jadi kaki
celana yang satu.
Setelah memahami konsep dasar dan
merasa cukup menguasai teknik ZW, barulah ia berani membuka kelas belajar pola
ZW. Tepatnya delapan tahun lalu.
Tak disangka, kelas ini ternyata kelas ini langsung banyak peminat saat mulai diperkenalkan. Mungkin juga hal itu terjadi karena perubahan sangat jarang terjadi dalam sektor jahit-menjahit. Bahkan, pola busana secara konvensional tidak berubah sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu.
Hadirnya pola potongan ZW pun memporak-porandakan pemikiran
konvensional dan langsung menarik perhatian masyarakat. Aryani dan tim sempat juga
mengajar di beberapa kota selama tahun 2017-2019.
Kemudian, datanglah pandemi yang
membuat semua kegiatan terhenti. Bagi sebuah “perusahaan” sekecil “kutu” itu, sangatlah
berat mempertahankan agar tetap bisa menggaji para staff saat kelas-kelas yang
menghasilkan sedikit uang stop total. Akhirnya, lima orang staffnya
“dirumahkan” selama Pandemi. Produksivitas benar-benar nol dan aktivitasnya
yang diberi nama “Aryani Widagdo Creativity Nest” benar-benar mati
suri.
Beruntung ternyata muncul Zoom. Bagi Ariani, adanya aplikasi ini adalah sebuah “blessing in disguise”. Sudah lama ia bermimpi untuk bisa mengajar di seluruh Indonesia, tapi saat itu tidak tahu caranya. Ada keterbatasan dalam membuat video, cara memasukkannya ke youtube, dan lain sebagainya.

Zoom memberi jawaban
atas kendala yang menyiksa sebelumnya. Walaupun di satu sisi, kelas yang
mengandalkan jaringan internet ini juga merupakan tantangan baru baginya. Dimana,
ia tak hanya membutuhkan pekerja yang bisa membuat pola dan menjahit tetapi juga
satu staff khusus di bidang multimedia. Memanfaatkan IT pun menjadi bagian tidak
terpisahkan dari setiap kegiatan belajar mengajar.
Hal itu memaksa Aryani untuk
menguasai aplikasi zoom dan belajar bagaimana membuat poster menggunakan Photoshop,
menulis di sosmed tentang pikiran, pendapat atau pengalamannya di bidang fashion.
Sebagai seorang “educationist” atau pendidik, ia terus meyakinkan
dirinya agar tetap belajar entah berapapun usianya.
Tantangan utama dalam menggemakan Gerakan ZW Fashion di Indonesia tentu adalah masih mudanya Gerakan ini. Jika di seluruh dunia, usia ZW Fashion mungkin sudah 20 tahun. Tapi di Indonesia, belum ada sepuluh tahun Gerakan ini tersebar. Itu pun hanya sedikit guru/Lembaga Pendidikan yang mengajarkan materi ini.

Sedangkan tantangan kedua yaitu banyaknya
“prototype” busana yang masih menjadi patokan mayoritas penduduk Indonesia.
Misalnya, banyak orang menganggap busana yang indah adalah yang “ketat”, membentuk
siluet tubuh, bahannya berkilau dan ornamennya harus bling-bling. Ini agak
berbeda dengan pandangan umum tentang sustainable fashion.
Kendati demikian, Aryani masih
terus mengajarkan pola ZW secara konsisten. Ia juga banyak menulis tentang
bagaimana fashion people berttanggung jawab untuk fashion yang eco-friendly. Baik
desainer, produsen, hingga konsumen sekalipun.
Baginya, momen-momen yang
membahagiakan adalah ketika para siswa membuat busana ZW untuk diperagakan. Saat
busana itu dipakai M.C. atau Panitia kegiatan remaja dan saat UMKM mulai
menjual busana-busana ZW di pameran untuk orang umum.
Aryani Widagdo berharap bahwa
Gerakan Zero waste fashion di Indonesia bisa berkembang luas dan makin
banyak diajarkan di sekolah Fashion. Terlebih lagi jika makin banyak
produsen yang mau membuat busana ZW dan masyarakat bisa menerima busana-busana
tersebut.
Sumber:
Buletin Tekstil Edisi 33
Apa Itu Pewarna Remasol?
Fashion vs Function: Kapan Style Mengalahkan Fungsi? (Dan Kenapa Kita Tetap Suka?)
Stitch Down, Konstruksi Klasik Yang Bikin Sepatu Auto ‘Bandel’
Baju Couple Nggak Harus Kembaran! Ini Cara Tampil Serasi Pakai Color Theory
Invisible Fashion: Hal yang Kamu Pakai Setiap Hari Tapi Jarang Kamu Sadari
Kisah di Balik Logo Rubah Merah, Bagaimana Fjällräven Menjadi Ikon Dunia?
Sewa High Fashion? Ini Cara Cerdas Tampil Mewah Tanpa Harus Beli
King of Quiet Luxury , Ini 5 Brand Old Money yang Paling Ikonik
Dari Baju Dalam Jadul sampai “Senjata Rahasia” Anti Dingin (Wajib Tahu Long John Sebelum ke Luar Negeri!)
Kenali Jenis Bedong Bayi dan Bahan Kain yang Aman untuk Si Kecil