Ada satu momen yang hampir semua
orang pernah alami: melihat tren baru lalu spontan berpikir, “ini kok kayak gaya zaman dulu, ya?”
Entah itu celana cutbray, sepatu platform, tas mungil ala 90-an, atau gaya Y2K
yang kembali merajai media sosial. Fenomena ini bukan kebetulan, dan juga bukan
tanda bahwa dunia kehabisan ide. Faktanya, tren memang punya kecenderungan
alami untuk berulang, biasanya dalam rentang waktu sekitar 20 tahunan.
Pola ini terjadi di banyak bidang—fashion,
musik, desain interior, hingga budaya pop—dan selalu hadir dengan konteks baru.
Untuk memahami kenapa hal ini bisa terus terjadi, kita perlu melihat tren bukan
sekadar soal estetika, tapi sebagai refleksi dari manusia dan zamannya.
Siklus Generasi: Saat Anak Muda Menemukan “Hal Baru” dari Masa Lalu
Peran terbesar dalam siklus tren
adalah pergantian generasi. Setiap
sekitar dua dekade, generasi baru tumbuh menjadi kelompok dominan dalam budaya
populer. Mereka punya kebebasan melihat masa lalu tanpa beban memori pribadi.
Apa yang dulu dianggap “norak” atau “ketinggalan zaman” oleh generasi
sebelumnya, justru terlihat segar dan menarik bagi generasi baru. Gaya yang
pernah ditinggalkan akhirnya menemukan penonton baru yang belum pernah
mengalaminya secara langsung.
Di sinilah tren lama mendapat
kesempatan hidup kembali. Namun kebangkitan ini jarang terjadi dalam bentuk
yang benar-benar sama. Ada jarak waktu yang cukup untuk membuatnya terasa
berbeda, tapi masih cukup dekat untuk tetap relevan secara visual.
Nostalgia: Emosi yang Selalu Laku Dijual
Selain faktor generasi, ada
kekuatan emosional yang sangat besar di balik tren yang berulang, yaitu nostalgia. Manusia secara alami suka
mengingat masa lalu, terutama periode yang diasosiasikan dengan rasa aman,
kebebasan, atau kebahagiaan. Industri kreatif sangat paham soal ini. Nostalgia
bukan hanya kenangan, tapi emosi—dan emosi adalah alat paling ampuh untuk
membangun ketertarikan.
Ketika fashion, musik, atau visual
tertentu dibangkitkan kembali, yang dijual bukan cuma bentuknya, tapi juga
perasaan yang menyertainya. Lagu lama, potongan siluet klasik, atau warna khas
era tertentu bisa langsung memicu koneksi emosional, bahkan pada orang yang
sebenarnya tidak hidup di era tersebut.
Industri Kreatif Butuh Referensi (dan Masa Lalu Itu Tambang Emas)
Di sisi lain, tren juga berulang
karena industri kreatif selalu berdialog
dengan masa lalu. Desainer dan kreator tidak bekerja dalam ruang hampa.
Arsip fashion, majalah lama, foto editorial vintage, dan referensi sejarah
adalah sumber inspirasi yang terus digali. Menariknya, periode sekitar 20–30
tahun lalu biasanya berada di titik yang ideal: cukup jauh untuk terasa “baru”,
tapi belum terlalu tua untuk dianggap kuno.
Alih-alih menciptakan sesuatu dari
nol, banyak tren lahir dari proses reinterpretasi. Siluet lama diberi material
baru, gaya lama dipadukan dengan teknologi atau nilai sosial yang berbeda.
Hasilnya adalah tren yang terasa familiar sekaligus relevan dengan zaman
sekarang.
Media & Pop Culture Mempercepat Daur Ulang Tren
Peran media dan budaya pop juga
mempercepat siklus ini. Di era digital, tren tidak lagi bergerak lambat. Serial
TV, film, musik, dan bahkan algoritma media sosial bisa menghidupkan kembali
satu era hanya dalam hitungan minggu. Visual tahun 90-an atau 2000-an yang
muncul di layar hari ini bisa langsung memengaruhi cara orang berpakaian besok.
Media tidak hanya mendokumentasikan
tren, tapi ikut membentuk dan menghidupkannya kembali. Saat satu estetika lama
mendapat sorotan, ia dengan cepat masuk ke arus utama dan diterjemahkan ulang
oleh generasi baru.
Pola Sosial & Ekonomi yang Ikut Berulang
Menariknya lagi, tren sering
kembali bersamaan dengan pola sosial dan
ekonomi yang mirip. Ketika kondisi masyarakat berubah—entah karena krisis,
ketidakpastian, atau kejenuhan—cara manusia mengekspresikan diri ikut berubah.
Di masa tertentu, gaya minimalis dan fungsional lebih diminati. Di masa lain,
tren yang ekspresif dan berani justru muncul sebagai bentuk pelarian.
Karena sejarah manusia cenderung bergerak
dalam pola yang berulang, respons visual dan budaya pun sering mengikuti ritme
yang sama.
Bukan Sekadar Copy-Paste, Tapi Reinterpretasi
Namun penting untuk diingat, tren
yang kembali bukan sekadar copy-paste dari masa lalu. Setiap kebangkitan selalu
membawa makna baru. Item fashion yang dulu punya konotasi tertentu bisa berubah
total di era sekarang. Apa yang dulu simbol pembatasan, kini bisa menjadi
simbol kebebasan. Apa yang dulu dianggap aturan, kini menjadi pilihan personal.
Inilah yang membuat tren berulang
tetap terasa hidup. Bentuknya mungkin sama, tapi ceritanya berbeda.
Jadi, Apakah Tren Akan Terus Berulang?
Pada akhirnya, tren akan terus
berputar selama manusia masih punya memori, emosi, dan keinginan untuk
mengekspresikan diri. Masa lalu tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya
menunggu momen yang tepat untuk kembali, dengan wajah yang sedikit berbeda dan
makna yang lebih relevan.
Jadi, saat kamu melihat tren lama
muncul lagi, jangan langsung menganggapnya kemunduran. Bisa jadi itu tanda bahwa
kita sedang mengulang sejarah—bukan untuk menirunya, tapi untuk memaknainya
ulang.
6 Layanan Reparasi Sepatu yang Bisa Kamu Coba!
Kenapa Tren Selalu Berulang Tiap ±20 Tahun? Ini Penjelasan di Baliknya
Laundry Kiloan vs Self Service, Mana yang Lebih Baik?
Di Balik Nama Dagang Kain, Panduan Memilih Rayon Berkualitas di Bahankaincom
Perbedaan Stocking, Tights, Pantyhose, dan Leggings: Jangan Salah Pilih dalam Fashion
Desainer Legendaris, Valentino Garavani Meninggal Dunia di Usia 93 Tahun
Miu Miu dan Evolusi Fashion Feminin yang Berani dan Eksentrik
Trench Coat: Mantel Klasik yang Nggak Pernah Kehilangan Gaya
Red Bottoms: Ketika Sol Merah Menjadi Simbol Kemewahan dalam Dunia Fashion
Sudah Dicuci Bersih tapi Warnanya Menguning? Cek Cara Menyimpan Baju Putihmu