Tahukah kamu, kalau rahasia
dibalik sneakers yang ringan dan nyaman itu bukan hanya tentang pemilihan
material, tetap juga teknik konstruksinya. Diantara berbagai pilihan metode pembuatan
sepatu, Cemented Construction dianggap
sebagai metode yang paling efisien.
Karena upper dan sol hanya perlu direkatkan dengan len khusus, tanpa jahitan structural.
Mekanisme tersebut memungkinkan proses pembuatan yang lebih cepat tanpa
mengorbankan estetika desain dan kualitas. Itulah kenapa konstruksi cemented
ini kerap dipilih oleh produsen sepatu kasual, sneakers, hingga sepatu fashion.
Yuk, mengenal lebih dekat tentang teknik ini!
Secara harfian, cemented
construction adalah metode pembuatan sepatu di mana bagian atas (upper)
dan sol luar (outsole) disatukan hanya menggunakan perekat kimia atau
lem khusus yang sangat kuat. Tidak ada benang, tidak ada jahitan yang menembus
sol, dan tidak ada kerumitan struktur welt yang ditemukan pada
sepatu klasik.
Teknik ini melibatkan proses
stockfitting yang presisi dan penggunaan mesin press untuk memastikan lem
menempel secara permanen. Sehingga menghasilkan sepatu yang lebih ramping, ringan,
dan fleksibel sejak pemakaian pertama.
Karena prosesnya relatif sederhana
dan memungkinkan produksi dalam jumlah besar, teknik cemented menjadi salah
satu teknik paling popular dalam industry alas kaki. Bahkan brand-brand streetwear
seperti Nike, Adidas, New Balance hingga Asics menggunakan konstruksi ini, terutama
untuk kategori sneakers dan sepatu olahraga.
Meskipun terlihat sederhana
karena hanya mengandalkan "lem", cemented construction sebenarnya
melibatkan teknologi kimia dan mekanika yang sangat presisi.
Berikut beberapa aspek yang
jarang diketahui tentang konstuksi ini:
1.
Kimia di Balik Kekuatan Perekat
Kekuatan sepatu ini bukan terletak pada lem kertas
biasa, melainkan pada perekat polimer tinggi (seperti polyurethane atau neoprene)
yang diaktifkan melalui panas.
·
Primer & Cleaner: Sebelum dilem,
permukaan upper dan outsole harus dibersihkan
secara kimiawi dan diberi cairan primer agar pori-pori material terbuka.
·
Heat Activation: Lem diaplikasikan dan
dibiarkan mengering, lalu dilewatkan melalui terowongan panas untuk
mengaktifkan molekul perekat sebelum akhirnya dipress bersama.
2.
Proses Produksi Presisi
Dalam cemented construction, momen paling
krusial adalah saat Sole Pressing. Sepatu diletakkan di mesin
dengan tekanan hingga puluhan PSI (pound per square inch).
Tekanan ini harus merata ke seluruh lekukan sepatu.
Jika ada celah udara sekecil apa pun, oksigen akan masuk dan memicu oksidasi
yang menyebabkan sol copot di kemudian hari (fenomena yang sering kita sebut
"sol mangap").
3.
Desain Tanpa Batas
Berbeda dengan konstruksi jahitan yang membutuhkan
ruang untuk jarum lewat, teknik semen memungkinkan desainer bereksperimen
dengan bentuk yang ekstrem:
·
Outsole Unik: Sol yang melengkung ke atas
hingga membungkus tumit atau jari kaki (sering terlihat pada sepatu bola
atau climbing shoes) hanya bisa dibuat dengan teknik ini.
·
Kombinasi Material: Lem modern mampu
menyatukan material yang mustahil dijahit bersama secara efisien, seperti
menggabungkan plastik keras (TPU), busa empuk (EVA), dan karet (Rubber) dalam
satu unit sol.
4.
Tantangan "Hydrolysis"
Inilah fakta teknis yang sering dialami pemilik
sepatu: Hidrolisis. Ini adalah proses kimia di mana uap air di
udara memecah molekul lem atau sol busa (biasanya pada bahan Polyurethane).
Ironisnya, sepatu cemented justru lebih
cepat rusak jika jarang dipakai, karena tekanan saat berjalan
membantu mengeluarkan kelembapan dari dalam pori-pori lem dan sol.
Cemented construction
adalah bukti bahwa "kesederhanaan adalah bagian dari kejeniusan".
Meski sering dianggap kurang prestisius dibanding sepatu jahit manual, metode
ini memberikan akses bagi semua orang untuk memiliki sepatu yang stylish,
nyaman, dan fahionable tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Kenapa Perempuan Kerajaan Selalu Bawa Tas? Ternyata Bukan Sekadar Gaya
Second Skin: Tren Fashion “Nyaris Telanjang” yang Diam-Diam Jadi Standar Baru
Geser Citra Logomania, Ini Rahasia Brand Loewe Meraih Popularitasnya
Fashion Show Hybrid, Runway Mengubah Cara Brand Fashion Berjualan
Jaket Fleece vs Baby Terry, Apa Sih Bedanya?
Makeup Itu Bagian dari Fashion atau Bukan? Ini Penjelasan yang Lebih Dalam
Apa Itu Pewarna Remasol?
Fashion vs Function: Kapan Style Mengalahkan Fungsi? (Dan Kenapa Kita Tetap Suka?)
Stitch Down, Konstruksi Klasik Yang Bikin Sepatu Auto ‘Bandel’
Baju Couple Nggak Harus Kembaran! Ini Cara Tampil Serasi Pakai Color Theory