Diantara deretan brand sepatu
lokal, ada satu nama yang sering membuat banyak orang salah sangka dan mengira
asalnya dari luar negeri. Ia adalah Piero, sneakers asli Yogyakarta yang sudah wara-wiri
di pasar lokal dan jadi item andalan para kawula muda.
Dengan nama yang kebarat-baratan,
desain minimalis dan logo ikonik, tak sedikit konsumen menyangka bahwa Piero merupakan
produk impor. Walaupun fokus utama merek ini masih di pasar domestik Indonesia,
namun ia telah menjadi produk kebanggan di luar negeri. Yuk, cari tahu
perjalanan merek ini!
Piero adalah merek sneaker lokal buatan Indonesia, tepatnya berasal dari Yogyakarta. Didirikan oleh Djimanto pada tahun 1999, sepatu Piero dikenal dengan desain simpel, nyaman, dan progresif untuk gaya kasual maupun olahraga.

Sejak awal, merek Piero sudah menempatkan diri sebagai sneakers yang dekat dengan keseharian anak muda. Hal itu terlihat jelas pada setiap desain sepatu yang simpel, fungsional, dan mudah dipadupadankan. Penggunaan sol adaptif, material ringan, serta konstruksi yang sesuai dengan bentuk kaki orang Indonesia, membuat Piero tidak hanya hadir sebagai produk fesyen, melainkan representasi kemajuan teknologi alas kaki di Indonesia.
Sebagai brand lokal yang
progresif, berfokus pada gaya sneakers casual, daily driver,
dan sedikit sentuhan outdoor. Lini produk mereka menggabungkan
desain klasik dengan kenyamanan untuk penggunaan harian, seperti:
·
Piero Jogger (Seri Ikonik): Lini sepatu
kasual yang nyaman dan serbaguna. Ini adalah seri paling populer dan jadi
andalan, meliputi Jogger V54, Jogger RS Evo, dan Jogger
Premium.
·
Piero City
Series (Daily Driver): Didesain
untuk gaya hidup urban dan jalan-jalan santai (city strolling), seperti City Core, City Evo,
dan City Cross.
·
Piero Outdoor/Rugged
Series: Ini merupakan koleksi baru yang terinspirasi dari gaya workwear atau outdoor.
Menggunakan kombinasi CH Leather dan kanvas dengan eyelet besi
yang kokoh.
· Piero Classic
and Casual: Model-model Clayton dan Arcwave yang
menawarkan siluet timeless klasik
·
Piero Active/Running:
kategori sepatu yang didesain untuk aktivitas fisik ringan atau jogging, contoh Piero
Jogger V54 Influx.
·
Piero Junior: Lini sneakers khusus
anak-anak dengan model yang diadaptasi dari seri dewasa.
Sepatu Piero kerap terselip di rak-rak toko ritel besar bersanding dengan brand-brand internasional seperti Nike, Adidas, dan Fila. Desain sepatu yang trendy dan kualitas premium seringkali membuat konsumen terkecoh. Bahkan, tak sedikit yang mengira Piero adalah brand asal Italia atau Amerika.

Padahal, sepatu Piero benar-benar
lahir dari semangat bertahan hidup industri alas kaki lokal Indonesia. Selain
itu, berikut beberapa fakta yang mengiringi perjalanan merek asal Kota Gudeg
ini:
Lahir pada tahun 1999, Piero bukanlah proyek instan.
Merek ini didirikan oleh Djimanto, sosok yang kala itu menjabat sebagai Ketua
Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO).
Konteks kelahirannya sangat heroic, karena saat itu
Indonesia baru saja dihantam badai krisis moneter 1998. Di saat banyak pabrik gulung
tikar, Djimanto justru membangun Piero untuk menyelamatkan ribuan karyawan
pabrik Star Moon yang terancam akan kehilangan mata pencaharian. Piero hadir
sebagai simbol ketahanan ekonomi nasional di titik terendahnya.
Meski namanya
sering dikaitkan dengan pesepakbola dunia, Alessandro del Piero, sebenarnya
terinspirasi dari kata dalam bahasa Jawa kuno "Oerip" yang berarti
hidup. Kata ini dibalik pireo lalu diubah
jadi Piero dan diresmikan sebagai identitas merek bersamaan dengan perilisannya
ke publik pada 1999.
Nama tersebut mencerminkan tekad kuat brand untuk
bertahan dan terus berkarya di tengah dinamika industri alas kaki tanah air.
Salah satu alasan mengapa Piero mampu bersaing dengan
merek internasional adalah komitmennya pada inovasi. Merkea tidak hanya menjual
gaya atau estetika desain, tetapi juga fungsionalitas.
Mereka mengembangkan teknologi sol SNC
(Supernatural Comfort) yang fokus pada penggunaan material ringan namun
memiliki daya redam tinggi. Inovasi inilah yang membuat seri-seri termasuk Piero Jogger meledak di pasaran,
bahkan menjadi standar baru bagi sneaker kasual. Karena
teknologi SNC membuat sepatu tetap nyaman meski digunakan untuk mobilitas
tinggi.
Jika bicara tentang produk ikonik, maka Piero Jogger adalah jawabannya.
Seri ini berhasil menjadi game changer di industri sneaker
lokal. Desainnya yang simpel namun tetap terlihat sporty, telah
memasukannya ke daftar alas kaki pilihan lintas generasi. Mulai dari pelajar
hingga profesional muda yang ingin tampil kasual namun tetap rapi.
Keberhasilan seri ini menunjukkan kemampuan Piero
membaca selera pasar dan menciptakan produk yang relevan secara jangka panjang.
Perjalanan Piero tidak selalu mulus. Tantangan besar
datang ketika pemerintah membuka keran impor sepatu secara luas pada
pertengahan 2000-an. Produk murah dari China membanjiri pasar domestik, menekan
harga dan memukul produsen lokal.
Di fase ini, Piero sempat mengalami masa sulit. Efisiensi
produksi menjadi keharusan, jumlah tenaga kerja terpaksa dipangkas, dan
strategi bisnis harus disusun ulang. Banyak brand lokal pada era tersebut
tumbang, namun Piero memilih bertahan dengan fokus pada segmen yang masih bisa
dijangkau yaitu sepatu kasual dan lifestyle dengan kualitas yang konsisten.
Hingga kini, Piero masih aktif
melakukan pembaruan. Kolaborasi dengan komunitas kreatif dan pendekatan pada
kultur streetwear menjadi strategi untuk tetap dekat dengan generasi muda.
Namun, di saat banyak brand terjebak pada euforia kolaborasi semata, Piero
tetap menjaga fokus pada kualitas material dan presisi produksi.
Di tengah semakin ketatnya
persaingan brand lokal, konsistensi inilah yang menjadi modal utama Piero untuk
mempertahankan basis penggemarnya.
Icy Blue Warnai Tren Fashion Musim Dingin 2026
Kisah Sepatu Piero, Brand Asal Yogyakarta yang Sering Dikira Merek Italia
Kain Voal, Solusi Kantong Saku yang Ringan, Nyaman dan Tahan Lama
Hati-hati Ghost Stores: Penipuan Toko Fashion Online yang Semakin Sulit Dibedakan
Tren Fashion yang Sebenarnya Lahir dari Kesalahan (dan Kenapa Dunia Menerimanya)
Kenapa Kita Lebih Percaya Diri Pakai Outfit Lama daripada yang Baru?
Teknologi Vulkanisasi, Rahasia Dibalik Daya Tahan dan Fleksibilitas Sneakers Legendaris
Pakaian Longgar vs Ketat: Sejarah Moral, Agama, dan Cara Tubuh Dikontrol Lewat Busana
Dari “New Look” hingga LVMH, Inilah Sejarah Perjalanan Dior Dari Waktu ke Waktu
Baju Rumah yang Kita Anggap Sepele, Tapi Punya Sejarah Fashion Panjang