Dari Kaos
Putih Sampai Daster, Semua Ada Ceritanya
Coba tengok baju yang paling sering
kamu pakai di rumah. Bisa jadi kaos lusuh, cardigan tipis, celana longgar, atau
daster favorit yang sudah “ngikutin badan”. Kita sering menganggap baju-baju
ini sekadar pakaian santai—nggak penting, nggak perlu dipikirkan.
Padahal, banyak dari baju rumah
yang kita pakai sehari-hari justru punya sejarah
fashion panjang, bahkan berakar dari dunia militer, bangsawan, sampai
gerakan sosial. Ironisnya, semakin sering kita pakai, semakin jarang kita sadar
bahwa baju-baju ini dulunya bukan baju
rumah sama sekali.
Artikel ini mengajak kita melihat
ulang pakaian rumah dengan sudut pandang berbeda: bukan sekadar nyaman, tapi
penuh cerita.
Kaos Putih:
Dari Pakaian Dalam ke Simbol Gaya Hidup
Sumber: https://www.t-shirtwholesaler.com/
Kaos putih polos mungkin adalah
baju rumah paling universal. Hampir semua orang punya, dan hampir selalu
dipakai tanpa banyak mikir.
Namun awalnya, kaos putih adalah pakaian dalam pria di akhir abad ke-19.
Dipakai oleh tentara Eropa dan Amerika sebagai lapisan dasar untuk menyerap
keringat. Pada masa itu, keluar rumah hanya memakai kaos dianggap tidak sopan—bahkan
memalukan.
Persepsi ini berubah drastis
setelah era 1950-an, ketika figur seperti Marlon
Brando dan James Dean muncul di layar lebar dengan kaos putih sebagai
busana utama. Sejak saat itu, kaos putih menjadi simbol maskulinitas,
kebebasan, dan sikap anti-formal.
Masuk ke rumah-rumah modern, kaos
putih akhirnya “turun pangkat” menjadi baju santai. Tapi jejak sejarahnya masih
terasa: kesederhanaan, kejujuran, dan fungsi murni.
Cardigan
Tipis: Dari Bangsawan ke Sofa Rumah
Sumber: https://en.wikipedia.org/
Cardigan sering kita pakai di rumah
saat pagi atau malam hari—dipakai lepas, tanpa niat gaya tertentu. Padahal,
cardigan punya akar sejarah yang cukup aristokrat.
Nama cardigan berasal dari James Brudenell, Earl of Cardigan,
seorang perwira militer Inggris di abad ke-19. Awalnya dikenakan sebagai
alternatif jaket resmi yang lebih praktis dan hangat.
Seiring waktu, cardigan masuk ke
dunia fashion wanita sebagai simbol kecerdasan, keanggunan, dan
ketenangan—terutama di era 1950-an. Baru setelah itu, cardigan menjadi busana
santai rumahan.
Hari ini, cardigan tipis identik
dengan rasa aman. Dipakai saat ingin merasa “terbungkus”, tapi tidak terikat.
Daster:
Pakaian Rumah dengan Identitas Budaya
Sumber: https://www.pinterest.com/
Di Indonesia, daster sering kali
dipandang sebelah mata. Dipakai di rumah, ke warung, atau sekadar menemani
rutinitas harian. Namun daster adalah contoh kuat bagaimana pakaian rumah punya dimensi budaya.
Secara global, daster punya
kemiripan dengan house dress atau kaftan—pakaian longgar yang muncul sebagai
respons atas pakaian wanita yang terlalu ketat dan membatasi gerak, terutama di
awal abad ke-20.
Daster mengutamakan fungsi, kenyamanan, dan kebebasan tubuh,
jauh sebelum istilah body positivity populer. Dalam konteks lokal, daster juga
mencerminkan peran domestik, kepraktisan, dan adaptasi iklim tropis.
Ia bukan sekadar baju rumah, tapi
cerminan realitas hidup sehari-hari.
Celana
Longgar & Piyama: Dari Simbol Status ke Kenyamanan
Sumber: https://www.oem-pajama.com/
Piyama awalnya bukan pakaian
santai. Kata “pajama” berasal dari bahasa Persia dan India, yang berarti celana
longgar. Di abad ke-18, piyama diperkenalkan ke Eropa sebagai pakaian elite yang eksotis dan
berkelas.
Baru di abad ke-20, piyama menjadi
pakaian tidur dan rumah, terutama setelah perubahan gaya hidup modern yang
lebih privat.
Celana longgar di rumah hari
ini—baik itu piyama, kulot, atau training pants—adalah hasil dari pergeseran
besar: dari status dan formalitas menuju kenyamanan dan fungsi.
Kenapa Baju
Rumah Selalu Terasa “Jujur”?
Ada alasan kenapa baju rumah terasa
paling merepresentasikan diri kita. Tidak ada tuntutan sosial, tidak ada
penilaian visual, tidak ada “peran” yang harus dimainkan.
Baju rumah adalah titik di mana
fashion bertemu psikologi:
·
Kita memilih kenyamanan dibanding tampilan
·
Kita mengutamakan rasa aman dibanding kesan
·
Kita berpakaian untuk diri sendiri, bukan orang lain
Mungkin itu sebabnya baju rumah
jarang benar-benar diganti. Selama masih nyaman, selama masih “kita”, baju itu
akan terus dipakai—apa pun kondisinya.
Penutup:
Baju Rumah Bukan Fashion Kelas Dua
Baju rumah sering dianggap versi
paling rendah dari fashion. Padahal justru di sanalah kita bisa melihat esensi pakaian yang sesungguhnya:
melindungi, menemani, dan membuat kita merasa utuh.
Di balik kaos lusuh, cardigan
tipis, dan daster sederhana, ada sejarah panjang tentang perubahan gaya hidup,
nilai sosial, dan cara manusia memandang tubuhnya sendiri.
Mungkin lain kali, sebelum menyebut
baju rumah sebagai “nggak penting”, kita bisa berhenti sebentar dan menyadari: baju yang paling sering kita pakai, sering
kali yang paling jujur menceritakan siapa kita.
Dari “New Look” hingga LVMH, Inilah Sejarah Perjalanan Dior Dari Waktu ke Waktu
Baju Rumah yang Kita Anggap Sepele, Tapi Punya Sejarah Fashion Panjang
Nggak Cuma Adem, Ini 5 Alasan Kain Rayon Jadi Bahan Daster Favorit Kaum Wanita
Kenapa Orang Indonesia Punya Baju Kondangan Khusus?
Awas, Ini 6 Bahaya Menjemur Pakaian Basah di Dalam Rumah
Nike Mind, Sepatu Berbasis Neurosains yang Diklaim Tingkatkan Fokus dan Konsentrasi
Kilau yang Tak Pernah Padam: Sejarah Bling-Bling dan Evolusi Warna Metallic
Ketika Baju Paling Sederhana Justru Paling Sulit Dipilih
Hierarki Tas Hermès, Dari Entry Level hingga Impian Kolektor Sejati
Kain Nomex, Rahasia di Balik Seragam Pemadam Kebakaran yang Super Tangguh