Kilau tak pernah benar-benar lenyap dari panggung fashion. Entah
nuansa emas dari zaman kerajaan atau efek chrome yang menghiasi runway modern,
warna metallic dan gemerlap bling-bling punya cara sendiri untuk kembali
mencuri perhatian.Alasannya jelas. Karena sejak dulu kilau selalu identik
dengan sesuatu yang istimewa berupa kekuasaan, kemewahan, dan keinginan menonjolkan
diri.
Dari detail mencolok hingga kilau
yang memantulkan cahaya, warna-warna metallic selalu muncul dalam rupa berbeda.
Yuk, cari tahu akar sejarahnya!
Istilah “bling-bling” populer lewat budaya hip-hop Amerika pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. Kata ini
menggambarkan aksesori mencolok
seperti kalung emas besar, cincin berlian, dan jam tangan mewah yang dikenakan
sebagai simbol status sosial dan kemewahan. Konsep ini kemudian menyebar ke
ranah fashion lebih luas, bukan hanya sebatas di komunitas musik.
Makna bling-bling sendiri masuk
kamus bahasa Inggris modern sebagai istilah yang merujuk pada jewelry atau aksesori yang flashy dan
menunjukkan kekayaan.
Jauh sebelum menjadi bagian dari gaya sehari-hari, kilau dari logam mulia sudah menjadi simbol eksklusivitas, kekuasaan, dan ritual keagamaan. Pada peradaban Mesir Kuno, India, hingga Romawi, emas dan perak digunakan sebagai aksen hias pada pakaian bangsawan maupun pemimpim. Lebih dari sekedar hiasan, kilau dari benda-benda tersebut menjadi penanda status sosial dan siapa yang berhak bersinar atau tidak.

Proses pembuatannya pun penuh
ketelitian. Emas dipintal menjadi benang dan disulam ke kain. Karena emas mudah
patah jika terlalu tipis, benang logam ini dipadukan dengan serat lembut
seperti sutra. Hasilnya adalah kain yang tidak hanya indah dipandang, tapi juga
nyaman dikenakan.
Memasuki abad pertengahan, muncul
istilah cloth of gold yaitu sebutan
untuk kain yang memiliki kilau intens. Meski mengandung kata “gold”, kain ini
tidak selalu terbuat dari emas murni, melainkan campuran berbagai unsur logam
seperti emas, perak, dan tembaga. Dan inilah cikal bakal kain metallic di dunia
fashion.
Teknik tenun dan bordir logam makin
disempurnakan saat era Renaissance dan Baroque. Para perajin berhasil
menciptakan benang metallic yang lebih fleksibel dan ringan, membuat busana
berkilau terasa lebih nyaman dikenakan tanpa kehilangan kesan mewah.
Busana bangsawan Eropa pada masa
ini tak hanya mengandalkan benang logam. Renda, kristal, kancing dekoratif,
hingga panel reflektif ikut memperkuat efek glamor. Sejalan dengan banyaknya
pertambangan batu mulia serta meningkatnya minat pada detail ornamen.
Menariknya, pakaian kala itu
memang dirancang untuk “hidup” di bawah cahaya lilin istana. Semakin ia berkilau
saat tertimpa cahaya temaram, makin tinggi pula daya tariknya. Kilau menjadi
pusat perhatian sekaligus inti dari gaya itu sendiri.
Lompatan besar dalam sejarah
fashion berkilau terjadi pada awal abad ke-20 seiring masuknya dunia ke era
industri. Emas memang masih tergolong mahal, namun tak lagi eksklusif untuk
bangsawan. Siapa pun yang mampu membelinya kini bisa mengenakannya untuk gaya.
Perkembangan teknologi juga mendorong
lahirnya benang metallic dari material alternatif. Pada 1946, The Dobeckmum
Company berhasil menciptakan metallic
yarn dari lapisan logam tipis yang dipadukan dengan plastik. Biaya produksi
pun lebih rendah dan benang ini makin mudah ditemui di pasar tekstil.
Puncak popularitas benang ini
terjadi di era disco tahun 1970-an. Dimana kilau menjadi simbol kebebasan,
pesta, dan ekspresi diri. Dunia mode dipenuhi material baru seperti lamé berlapis foil logam, sequins yang reflektif, dan shimmer dengan efek glossy tinggi.
Gaya berkilau ini makin tegas dan
unisex di era 1980-an. Blazer berstruktur, rok pensil berkilau, hingga aksesori
chrome hadir sebagai bagian dari gaya kerja wanita modern yang kuat, percaya
diri, dan progresif.
Beberapa waktu belakangan, warna metallic juga kembali naik daun, namun dengan pendekatan yang lebih matang. Mereka hadir dalam bentuk statement kecil dengan efek visual yang kuat seperti tas silver, sepatu metalik, atau detail foil pada kain.

Tren fashion masa kini juga
mendorong metallic sebagai bagian dari gaya
sehari-hari. Dipadukan dengan warna netral, siluet minimalis, dan
material yang lebih nyaman sebagai ekspresi gaya personal.
Berikut beberapa varian warna
metallic serta karakternya:
1.
Silver dan Chrome
Warna metallic silver menciptakan kesan yang dingin,
bersih, dan futuristik. Kilauannya memantulkan cahaya seperti cermin halus yang
menggambarkan teknologi, arsitektur modern, dan gaya urban. Warna ini sering
muncul pada jaket, tas, dan sepatu sebagai aksen yang tegas namun tetap netral.
2.
Gold dan Champagne
Berbeda dari silver, gold memberi kesan hangat dan
elegan. Champagne gold tampil lebih lembut, tidak terlalu mencolok, cocok untuk
busana dengan sentuhan glam yang dewasa. Di bawah cahaya, warnanya tampak
berkilau halus, seperti cahaya matahari sore yang jatuh di permukaan kain.
3.
Rose Gold dan Copper
Perpaduan kilau metalik dengan sentuhan pink yang
feminin dan futuristic menghadirkan warna rose gold yang indah. Sedangkan nuansa
copper jauh lebih earthy, hangat,
sedikit vintage, namun tetap stand up.
Keduanya sering digunakan pada aksesori atau detail kain untuk memberi kesan
unik tanpa kesan berlebihan.
4.
Liquid Metallic
Efek liquid metallic tampak seperti logam cair yang
bergerak mengikuti lipatan kain. Kilaunya dinamis, berubah tergantung sudut
pandang dan pencahayaan. Hal ini terlihat pada tas atau outerwear modern,
menciptakan kesan futuristik dan eksperimental.
Dari emas kerajaan hingga chrome
modern, metallic selalu menjadi refleksi tentang kekuasaan, harapan, kebebasan,
dan identitas diri. Di dunia fashion yang terus bergerak, kilau mungkin berubah
rupa, tapi pesonanya tetap konsisten dan relevan mengikuti perkembangan jaman.
Kilau yang Tak Pernah Padam: Sejarah Bling-Bling dan Evolusi Warna Metallic
Ketika Baju Paling Sederhana Justru Paling Sulit Dipilih
Hierarki Tas Hermès, Dari Entry Level hingga Koleksi Impian Kolektor Sejati
Kain Nomex, Rahasia di Balik Seragam Pemadam Kebakaran yang Super Tangguh
Outfit Rumah vs Outfit Keluar Rumah: Kenapa Bisa Beda Banget?
Batasan yang Mencair, Menguak Fakta Dibalik Tren Fashion yang Semakin Terbuka
Awas Overdrying! Jangan Tunggu Pakaianmu Kering Kerontang dan Kaku
Sejarah Pakaian Berkabung: Kenapa Dulu Harus Hitam?
Bag Charm: Detail Kecil yang Membuat Tas Mu Lebih Ekspresif
Ketika Busana yang Dulu Dianggap Aneh, Kini Jadi Legenda: Ironi Dunia Fashion