Pernahkah kamu mengeluarkan
pakaian dari mesin pengering dalam kondisi sangat kering, bahkan terasa panas
dan kaku? Atau menjemurnya di luar ruangan sampai seharian penuh dan saaat
diangkat terasa kaku? Banyak orang menganggap hal itu sebagai tanda cucian
bersih dan siap pakai. Padahal, faktanya baju-bajumu sedang mengalami overdrying alias pengeringan berebih
yang berpotensi merusak serat pakaian.
Entah ukuran pakaian yang
menyusut, warna memudar, atau tekstur bahan yang terasa kasar dan mudah robek. Lantas,
kenapa hal itu bisa terjadi? Dan bagaimana cara mengantisipasinya? Simak ulasan
berikut ini, yuk!
Overdrying adalah kondisi ketika
pakaian mengalami fase kekeringan berlebih karena durasi terlalu lama atau suhu
yang terlalu tinggi. Baik menggunakan mesin pengering maupun dijemur di bawah
sinar matahari langsung, hingga melebihi tingkat kering yang dibutuhkan oleh
serat kain.
Dalam praktiknya, overdrying
sering terjadi karena keinginan untuk memastikan pakaian benar-benar kering.
Padahal, ketika seluruh kelembapan alami kain hilang, struktur serat justru
melemah. Akibatnya, pakaian menjadi lebih kaku, mudah rusak, warnanya cepat
pudar, bahkan bisa menyusut dan berubah bentuk.
Secara sederhana, pakaian yang
kering kaku alias overdrying bukan
berarti “lebih bersih” atau “lebih aman”, tetapi justru merusak kualitas kain. Karena pengeringan ideal seharusnya
dihentikan saat pakaian sudah cukup kering, bukan setelah ia benar-benar kering
kerontang. Tujuannya agar pakaian tetap awet, nyaman dipakai, dan tahan lama.
Modern ini, banyak orang memilih mesin cuci washer-dryer karena merasa puas ketika pakaian yang awalnya kotor, tiba-tiba keluar dengan keadaaan sudah bersih, wangi dan siap disetrika. Padahal, tanpa disitulah awal dari kerusakan serat kain yang memperpendek usia baju-baju kesayanganmu.

Selain itu, berikut beberapa
dampak buruk dari pengeringan yang berlebihan alias overdrying:
1.
Pakaian menyusut dan berubah bentuk
Salah satu efek overdrying yang paling sering terjadi
adalah penyusutan, terutama pada bahan seperti katun dan denim. Paparan panas
tinggi secara berulang membuat pakaian menyempit, kehilangan siluet aslinya,
dan terasa kurang nyaman saat dikenakan.
2.
Warna cepat pudar
Suhu tinggi mempercepat degradasi zat pewarna pada
kain. Tak heran jika pakaian berwarna gelap atau cerah terlihat kusam lebih
cepat setelah terlalu sering dikeringkan secara berlebihan.
3.
Serat kain melemah
Overdrying membuat kain kehilangan kelembapan
alaminya. Dalam jangka panjang, serat menjadi rapuh, mudah robek, dan pakaian
terlihat cepat usang.
4.
Pilling
dan permukaan kain kasar
Gesekan berlebihan saat pengeringan memicu munculnya
pilling atau gumpalan serat kecil di permukaan kain, terutama pada bahan
campuran dan sintetis.
5.
Masalah Listrik Statis
Selain merusak tampilan pakaian, overdrying juga
menjadi penyebab utama listrik statis. Ketika pakaian kehilangan seluruh
kelembapannya, gesekan antar kain di dalam mesin pengering memicu pembentukan
muatan listrik.
Akibatnya, pakaian saling menempel, sulit dilipat, dan
terasa kurang nyaman saat dipakai.
Meski terdengar sepele, kebiasaan sederhana dalam rutinitas
mencuci sehari-hari terbukti berpengaruh besar terhadap daya tahan kain. Maka
dari itu, jaga pakaianmu agar tidak cepat rusak dengan menerapkan beberapa
langkah sederhana, seperti:
1.
Angkat pakaian sebelum benar-benar kering
Para ahli laundry
menyarankan agar pakaian tidak
dikeringkan hingga benar-benar 100 persen, entah di dalam mesin ataupun
dijemur di luar ruangan. Idealnya, pakaian diangkat atau dikeluarkan dari mesin
pengering saat masih sedikit lembap (sekitar 70-80% kering). Setelah itu, cukup
diangin-anginkan untuk menuntaskan sisa airnya.
Ini membantu menjaga elastisitas serat kain,
mengurangi kerutan, serta mencegah bau apek. Mesin pengering modern juga sudah
dilengkapi sensor kelembapan yang
dapat menghentikan siklus secara otomatis untuk mencegah overdrying.
2.
Pisahkan cucian berdasarkan jenis bahan
Pisahkan cucian berdasarkan jenis
bahan, bukan hanya warna karena setiap kain memiliki karakter
berbeda. Bahan tipis membutuhkan waktu pengeringan lebih singkat dibanding
bahan tebal seperti denim atau handuk.
3.
Keluarkan pakaian yang sudah kering lebih dulu
Jika memungkinkan, angkat pakaian yang telah kering
lebih awal agar tidak ikut terpapar panas berlebihan.
4.
Sesuaikan durasi pengeringan secara bertahap
Kurangi waktu pengeringan beberapa menit dari
kebiasaan sebelumnya hingga menemukan tingkat kering yang ideal tanpa merusak
kain.
5.
Gunakan suhu pengeringan yang lebih aman
Panas berlebih merupakan penyebab utama serat kain
cepat melemah. Suhu sedang atau rendah jauh lebih ramah untuk pakaian.
6.
Manfaatkan sirkulasi udara alami
Mengangin-anginkan pakaian di tempat teduh dengan aliran
udara baik bisa menjadi alternatif efektif untuk menyempurnakan proses
pengeringan.
Overdrying adalah contoh
bagaimana kebiasaan sederhana dapat membawa dampak besar pada kualitas pakaian.
Dengan mengatur durasi, suhu, serta memilih metode pengeringan yang sesuai,
pakaian tidak hanya bertahan lebih lama, tetapi juga tetap terjaga kualitasnya
meski sering digunakan.
Semoga pengetahuan ini
bermanfaat, ya!
Batasan yang Mencair, Menguak Fakta Dibalik Tren Fashion yang Semakin Terbuka
Awas Overdrying! Jangan Tunggu Pakaianmu Kering Kerontang dan Kaku
Sejarah Pakaian Berkabung: Kenapa Dulu Harus Hitam?
Bag Charm: Detail Kecil yang Membuat Tas Mu Lebih Ekspresif
Ketika Busana yang Dulu Dianggap Aneh, Kini Jadi Legenda: Ironi Dunia Fashion
Perjalanan SPECS, Dari Pelopor Sepatu Futsal Jadi Merek Sportswear yang Melegenda
Simbol Status dalam Fashion: Dulu vs Sekarang, Apa yang Sebenarnya Berubah?
Androgini Style, Gaya Berbusana Yang Menembus Batasan Gender
6 Layanan Reparasi Sepatu yang Bisa Kamu Coba!
Kenapa Tren Selalu Berulang Tiap ±20 Tahun? Ini Penjelasan di Baliknya