Ketika
seseorang berduka, hal pertama yang sering berubah bukan hanya suasana hati,
tapi juga cara berpakaian. Di banyak
budaya modern, duka hampir selalu identik dengan warna hitam—tenang, sunyi, dan
seolah menutup diri dari dunia luar. Namun, anggapan bahwa berkabung harus berwarna hitam ternyata bukan
hukum alam. Ia adalah hasil dari sejarah panjang, kekuasaan sosial, dan
simbolisme yang dibentuk perlahan selama berabad-abad.
Menariknya,
sebelum hitam menjadi “bahasa universal” duka, manusia mengekspresikan
kehilangan dengan cara yang jauh lebih beragam.
Saat Duka Belum Punya Warna Pasti
Sumber: https://www.ancient-origins.net/
Pada
zaman kuno, duka belum dikunci dalam satu warna tertentu.
Di
Romawi Kuno, orang yang berduka
mengenakan toga pulla—toga berwarna
gelap yang kusam, bukan hitam pekat. Warna ini dipilih bukan karena simbolisme
mendalam, melainkan karena ia tampak sederhana dan tidak meriah. Dalam konteks
itu, berkabung berarti menarik diri dari
perayaan hidup, bukan menampilkan kesedihan secara visual.
Hal
serupa juga terjadi di Yunani Kuno. Duka lebih ditunjukkan lewat ritual,
ekspresi, dan sikap tubuh daripada pakaian. Warna hanyalah pelengkap, bukan
pesan utama.
Di
titik ini, kita bisa melihat bahwa warna
gelap belum berarti “kematian”, melainkan “ketiadaan kemeriahan”.
Abad Pertengahan: Ketika Hitam Mulai
Bermakna Moral
Makna
hitam mulai berubah drastis saat memasuki Abad
Pertengahan di Eropa. Di bawah pengaruh gereja dan nilai religius, hitam
diasosiasikan dengan keseriusan spiritual, kerendahan hati, dan penyangkalan
diri. Warna ini dipakai oleh rohaniwan, bangsawan tertentu, dan mereka yang
ingin menunjukkan kedisiplinan moral.
Dalam
konteks berkabung, hitam menjadi simbol bahwa seseorang sedang:
· Menjauh dari kesenangan duniawi
· Merenungi kefanaan hidup
· Berada dalam fase refleksi spiritual
Sejak
saat itu, duka tidak lagi hanya soal kehilangan, tapi juga soal sikap hidup. Dan pakaian menjadi medium untuk menyampaikannya.
Ratu Victoria dan Lahirnya Aturan
Berkabung
Sumber: https://historyfacts.com/
Segala
sesuatu berubah menjadi jauh lebih kaku pada abad ke-19, ketika Ratu Victoria kehilangan suaminya,
Pangeran Albert. Alih-alih melepas pakaian dukanya setelah beberapa waktu, ia
memilih untuk terus mengenakan hitam
selama hampir 40 tahun hingga akhir hidupnya.
Sebagai
penguasa Inggris dan simbol moral pada masanya, apa yang dikenakan Ratu
Victoria dengan cepat berubah menjadi standar sosial. Dari sinilah lahir apa
yang kita kenal sebagai aturan berkabung.
Berkabung
tidak lagi sekadar perasaan, tapi sistem:
· Ada durasi resmi
· Ada tahapan (full mourning dan half
mourning)
· Ada aturan tekstur, potongan, hingga perhiasan
Hitam
menjadi wajib, polos menjadi keharusan, dan ekspresi personal dikesampingkan.
Ketika Duka Menjadi Alat Kontrol
Sosial
Aturan
berkabung era Victoria paling ketat dirasakan oleh perempuan. Seorang janda
diharapkan mengenakan pakaian hitam dari ujung kepala hingga kaki, sering kali
dilengkapi kerudung atau veil tebal. Ia tidak dianjurkan tampil di ruang
publik, tidak menghadiri acara sosial, dan harus menunjukkan dukanya setiap
saat—secara visual.
Sementara
itu, laki-laki sering kali hanya perlu mengenakan jas gelap atau pita hitam di
lengan.
Di
sini, pakaian berkabung berfungsi bukan hanya sebagai simbol duka, tetapi juga penanda status sosial dan alat pembatas
kebebasan, khususnya bagi perempuan. Duka menjadi sesuatu yang harus
“terlihat”, bukan hanya dirasakan.
Tapi Dunia Tidak Selalu Berkabung
dengan Hitam
Sumber: https://sonofchina.com/
Meskipun
pengaruh Barat sangat kuat, hitam bukanlah simbol duka yang universal. Di
banyak budaya Asia, justru putih
yang menjadi warna berkabung. Putih melambangkan kekosongan, akhir siklus, dan
pelepasan dari dunia material. Di Cina, Jepang, dan Korea, warna ini lebih
dekat dengan kematian daripada hitam.
Di
India, putih dikenakan sebagai simbol pelepasan ikatan duniawi, sementara di
beberapa budaya Afrika, warna merah justru digunakan untuk menandai kehilangan
dan transisi spiritual.
Perbedaan
ini menunjukkan satu hal penting: warna
duka adalah konstruksi budaya, bukan kebenaran mutlak.
Dari Aturan Kaku ke Duka yang Lebih
Personal
Memasuki
abad ke-20, terutama setelah dua Perang Dunia, konsep berkabung mulai berubah.
Dunia mengalami kehilangan massal, dan aturan berpakaian yang kaku terasa tidak
realistis—bahkan tidak manusiawi.
Perlahan,
berkabung menjadi lebih personal:
· Tidak lagi dibatasi durasi tertentu
· Tidak selalu harus hitam
· Tidak wajib ditampilkan secara visual
Hari
ini, seseorang bisa mengenakan warna gelap lain, pakaian sederhana, atau bahkan
tidak mengubah gaya berpakaian sama sekali. Duka kembali menjadi urusan batin,
bukan kewajiban sosial.
Hitam di Masa Kini: Antara Duka dan
Elegansi
Sumber: https://www.youtube.com/
Menariknya,
hitam tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hadir, tapi dengan makna yang
lebih cair. Hitam kini bisa berarti: kesedihan,
kekuatan, ketenangan, dan bahkan keanggunan.
Mungkin
karena itulah hitam bertahan. Ia tidak berisik, tidak menuntut perhatian, dan
memberi ruang bagi emosi—apa pun bentuknya.
Penutup
Sejarah
pakaian berkabung menunjukkan bahwa apa yang kita kenakan saat berduka bukan
sekadar soal warna, tapi soal nilai,
kekuasaan, dan cara masyarakat memandang emosi manusia.
Dari
toga kusam Romawi, gaun hitam era Victoria, hingga kebebasan berekspresi hari
ini, satu hal tetap sama: manusia selalu mencari cara untuk memberi bentuk pada
kehilangan.
Dan
mungkin, di zaman sekarang, berkabung tidak lagi soal apa yang kita pakai—melainkan bagaimana
kita memberi ruang untuk berduka, dengan cara kita sendiri.
Awas Overdrying! Jangan Tunggu Pakaianmu Kering Kerontang dan Kaku
Sejarah Pakaian Berkabung: Kenapa Dulu Harus Hitam?
Bag Charm: Detail Kecil yang Membuat Tas Mu Lebih Ekspresif
Ketika Busana yang Dulu Dianggap Aneh, Kini Jadi Legenda: Ironi Dunia Fashion
Perjalanan SPECS, Dari Pelopor Sepatu Futsal Jadi Merek Sportswear yang Melegenda
Simbol Status dalam Fashion: Dulu vs Sekarang, Apa yang Sebenarnya Berubah?
Androgini Style, Gaya Berbusana Yang Menembus Batasan Gender
6 Layanan Reparasi Sepatu yang Bisa Kamu Coba!
Kenapa Tren Selalu Berulang Tiap ±20 Tahun? Ini Penjelasan di Baliknya
Laundry Kiloan vs Self Service, Mana yang Lebih Baik?