Adakah diantara
kamu yang suka menjemur baju basah di dalam rumah? Mulai sekarang, lebih baik
dipikir-pikir lagi deh. Karena faktanya, kebiasaan ini menyimpan risiko serta
dampak yang kurang baik untuk kesehatan tubuh mapun area rumah itu sendiri.
Apa saja dampak buruknya? Dan bagaimana cara meminimalisir risikonya? Simak ulasan berikut ini, yuk!
Kebiasaan
menjemur pakaian di dalam ruangan memang bisa jadi solusi praktis bagi pemilik
hunian minimalis dan mereka yang tak punya area terbuka. Selain praktis, kamu
juga nggak perlu lagi drama lari-larian ke luar rumah hanya untuk mengangkat
jemuran.
Sayangnya, segala
kemudahan tersebut bersamaan dengan risiko bahaya yang mengancam kesehatan
serta kondisi dalam ruangan. Bukan hanya masalah bau apek atau pakaian yang lama
kering, tapi kebiasaan menjemur pakaian di dalam rumah bisa berdampak langsung pada
kualitas udara, kesehatan pernapasan,
hingga kondisi bangunan tempat tinggal.
Berikut beberapa
dampak buruk dari kebiasaan menjemur pakaian di dalam rumah:
Risiko paling nyata dari menjemur
pakaian di dalam ruangan adalah lonjakan kelembapan udara. Menurut penelitian,
sekeranjang pakaian basah dapat melepaskan hingga dua liter air ke dalam udara ruangan dan meningkatkan kelembaban
hingga 30%.
Sebuah kondisi lingkungan yang bisa
menjadi inkubator sempurna bagi pertumbuhan jamur dan tungau, terutama Aspergillus
fumigatus. Spora dari jamur ini bisa menyebabkan infeksi paru-paru serius jika
terhirup oleh penderita asma dan seseorang dengan sistem imun yang lemah. Gejalanya
bisa berupa batuk kronis, sesak napas, hingga kerusakan jaringan paru-paru.
Sebagian orang mungkin menganggap aroma baju yang baru dicuci terasa
segar dan menenangkan. Namun, saat ia dijemur di dalam ruangan, bahan kimia dari
deterjen, pewangi maupun pelembut tersebut bisa menguap, tertahan lalu mencemari udara di dalam rumah.
Kandungan senyawa organik yang mudah menguap
atau Volatile Organic Compounds (VOCs) seperti benzena atau
asetaldehida pada agen pencuci, dapat terhirup dalam konsentrasi tinggi. Paparan dalam jangka pendek berisiko memicu sakit kepala, iritasi mata, dan tenggorokan. Sedangkan, jangka paparan terus-menerus bisa bersifat karsinogenik.
Pernah
mencuci baju berkali-kali tapi hasilnya tetap bau apek? Itu terjadi karena
proses pengeringan di dalam ruangan berlangsung terlalu lama. Tanpa sirkulasi
udara dan sinar matahari yang cukup, bakteri penyebab bau akan berkembang biak
di kain. Bau ini tidak hanya menempel di baju, tapi bisa "menetap" di
ruang jemuran hingga berhari-hari lamanya.
Fenomena
ini menandakan adanya proses pengeringan yang tidak optimal dan aktivitas
mikroorganisme selama pakaian basah tergantung terlalu lama.
Kelembapan tinggi bukan hanya
mengundang jamur, tetapi juga tungau dan
debu. Makhluk mikroskopis ini sangat menyukai lingkungan dengan
kelembapan di atas 60%. Bagi penghuni rumah yang memiliki riwayat alergi atau
eksim, peningkatan populasi tungau debu akan memperburuk gejala kulit kemerahan
hingga bersin-bersin yang tak kunjung sembuh.
Pernah
melihat jendela atau dinding yang tampak "berkeringat"? Itu adalah kondensasi.
Uap air dari jemuran yang bertemu permukaan dingin akan berubah menjadi tetesan
air. Jika dibersihkan, ini mungkin sepele. Namun dalam jangka panjang, air ini
meresap ke dalam material rumah, memicu pelapukan kayu, dan membuat cat
mengelupas. Ujungnya jelas, biaya renovasi membengkak
Selain dampak kesehatan, bangunan itu
sendiri turut menanggung beban. Uap air yang terperangkap akan mengendap pada
dinding dan langit-langit, serta menimbulkan berbagai kerusakan structural,
seperti:
·
Wallpaper terkelupas: Lem kehilangan daya rekatnya.
·
Noda hitam (black mold): Munculnya bercak hitam pada sudut tembok yang sulit dihilangkan.
·
Pelapukan furnitur: Kayu menjadi lebih cepat keropos dan berbau apek.
Ventilasi yang
buruk, kelembaban tinggi, serta potensi pertumbuhan jamur menjadikan praktik
mejemur baju di dalam ruangan perlu disikapi dengan lebih bijak. Namun, jika
keadaannya sudah sangat memaksa (misalnya karena hujan badai), pastikan kamu melakukan
langkah mitigasi guna meminimalkan risikonya.
Beberapa
diantaranya yaitu:
·
Wajib Ventilasi Silang: Buka jendela selebar mungkin agar uap air bisa keluar.
·
Ruang Karantina: Hindari menjemur di kamar tidur. Gunakan area yang paling jarang
dilewati.
·
Gunakan Teknologi: Jika ada budget lebih, dehumidifier sangat membantu menyerap
kelembapan udara secara instan.
Menjemur pakaian
memang terlihat seperti urusan sepele. Namun jika dilakukan di dalam ruangan, maka
kamu harus bersiap dengan segala risikonya. menjaga kualitas udara di rumah
adalah investasi kesehatan yang tak ternilai harganya. Jadi, tetap bijak dalam
mengelola jemuranmu, ya!
Awas, Ini 6 Bahaya Menjemur Pakaian Basah di Dalam Rumah
Nike Mind, Sepatu Berbasis Neurosains yang Diklaim Tingkatkan Fokus dan Konsentrasi
Kilau yang Tak Pernah Padam: Sejarah Bling-Bling dan Evolusi Warna Metallic
Ketika Baju Paling Sederhana Justru Paling Sulit Dipilih
Hierarki Tas Hermès, Dari Entry Level hingga Impian Kolektor Sejati
Kain Nomex, Rahasia di Balik Seragam Pemadam Kebakaran yang Super Tangguh
Outfit Rumah vs Outfit Keluar Rumah: Kenapa Bisa Beda Banget?
Batasan yang Mencair, Menguak Fakta Dibalik Tren Fashion yang Semakin Terbuka
Awas Overdrying! Jangan Tunggu Pakaianmu Kering Kerontang dan Kaku
Sejarah Pakaian Berkabung: Kenapa Dulu Harus Hitam?