Kalau diperhatikan, dunia fashion
sering terasa seperti sedang bermain dengan istilah. Kombinasi pakaian yang
secara visual mirip—bahkan nyaris sama—bisa punya nama gaya berbeda, lengkap
dengan makna dan kesan yang ikut berubah.
Celana longgar, atasan netral,
sepatu sederhana. Di satu konteks disebut minimalist,
di tempat lain jadi quiet luxury,
lalu bergeser lagi menjadi office core
atau clean aesthetic.
Pertanyaannya sederhana: kalau bajunya mirip, kenapa harus dinamai
berbeda?
Jawabannya ternyata tidak
sesederhana soal pakaian, tapi tentang bagaimana fashion bekerja sebagai
bahasa.
Nama Gaya
Bukan Penanda Kebaruan, tapi Cara Berbicara
Banyak orang mengira gaya diberi
nama karena ada sesuatu yang benar-benar baru. Padahal, dalam praktiknya,
sebagian besar tren fashion adalah pengulangan siluet, potongan, dan kombinasi
yang sudah lama ada. Yang berubah bukan bentuknya, melainkan cara kita
membicarakannya.
Nama gaya berfungsi sebagai jalan
pintas komunikasi. Daripada menjelaskan panjang lebar tentang potongan longgar,
warna netral, dan kesan rapi tapi santai, satu istilah sudah cukup untuk
memunculkan gambaran di kepala banyak orang. Dalam konteks ini, penamaan bukan
klaim orisinalitas, melainkan alat untuk memadatkan cerita visual.
Industri
Fashion Bergerak dengan Label
Fashion tidak hanya hidup sebagai
ekspresi personal, tapi juga sebagai sistem besar yang melibatkan brand, media,
retail, marketplace, dan algoritma media sosial. Semua sistem ini bekerja lebih
rapi ketika ada label.
Dengan adanya nama gaya, media bisa
mengemasnya sebagai tren, brand punya narasi untuk koleksi mereka, marketplace
bisa mengelompokkan produk, dan media sosial bisa membangun estetika yang mudah
dikenali. Tanpa penamaan, outfit hanyalah outfit. Dengan nama, ia berubah
menjadi sesuatu yang terasa relevan dan “sedang terjadi”.
Padahal secara teknis, potongan
bajunya bisa saja sama dengan yang sudah kita pakai bertahun-tahun.
Yang Sering
Berbeda Bukan Pakaiannya, tapi Konteksnya
Di sinilah letak hal menariknya.
Satu rangkaian pakaian bisa memiliki makna yang berbeda tergantung siapa yang
memakainya, di lingkungan sosial apa, dan dengan narasi seperti apa ia
dibingkai.
Kemeja putih dan celana hitam,
misalnya, bisa dibaca sebagai tampilan profesional, simbol kesederhanaan yang
elegan, representasi understated luxury,
atau bahkan sikap anti-tren. Makna itu tidak benar-benar melekat pada bajunya,
tapi pada cerita yang mengiringinya.
Penamaan
Gaya Membantu Menciptakan Rasa “Ini Baru”
Fashion hidup dari rasa kebaruan,
sementara bentuknya terus berulang. Karena itu, kebaruan sering diciptakan
lewat bahasa, bukan desain.
Dengan memberi nama baru, kombinasi
lama bisa terasa segar kembali. Sesuatu yang sebelumnya dianggap biasa bisa
terasa relevan, dan orang merasa sedang mengikuti perkembangan zaman. Ini bukan
selalu soal menipu konsumen, tapi lebih sebagai strategi bertahan dalam
industri yang bergerak cepat dan penuh siklus.
Nama Gaya
dan Identitas Sosial
Menariknya, penamaan gaya tidak
hanya menguntungkan industri, tapi juga individu. Jauh lebih mudah mengatakan
“aku suka gaya clean girl” daripada harus menjelaskan preferensi berpakaian
secara detail.
Nama gaya memberi rasa identitas,
bahasa bersama, dan bahkan rasa keanggotaan. Meski begitu, batas antar gaya
sebenarnya cair dan sering tumpang tindih. Banyak orang memakai elemen dari
berbagai gaya sekaligus tanpa sadar.
Jadi,
Perlukah Gaya Fashion Diberi Nama?
Perlu, selama kita sadar fungsinya.
Masalah muncul ketika nama gaya dianggap sebagai aturan kaku, identitas mutlak,
atau klaim bahwa sesuatu benar-benar baru. Padahal fashion selalu bergerak
secara siklikal. Yang berubah bukan bentuknya, melainkan cara ia dimaknai.
Mungkin cara paling jujur melihat
tren fashion adalah memahami bahwa ia jarang tentang menciptakan pakaian baru,
melainkan tentang memberi cerita baru
pada hal yang sebenarnya sudah kita kenal.
Kenapa Gaya Fashion Harus Diberi Nama, Padahal Bajunya Mirip-Mirip?
Icy Blue Warnai Tren Fashion Musim Dingin 2026
Kisah Sepatu Piero, Brand Asal Yogyakarta yang Sering Dikira Merek Italia
Kain Voal, Solusi Kantong Saku yang Ringan, Nyaman dan Tahan Lama
Hati-hati Ghost Stores: Penipuan Toko Fashion Online yang Semakin Sulit Dibedakan
Tren Fashion yang Sebenarnya Lahir dari Kesalahan (dan Kenapa Dunia Menerimanya)
Kenapa Kita Lebih Percaya Diri Pakai Outfit Lama daripada yang Baru?
Teknologi Vulkanisasi, Rahasia Dibalik Daya Tahan dan Fleksibilitas Sneakers Legendaris
Pakaian Longgar vs Ketat: Sejarah Moral, Agama, dan Cara Tubuh Dikontrol Lewat Busana
Dari “New Look” hingga LVMH, Inilah Sejarah Perjalanan Dior Dari Waktu ke Waktu