Fringe Itu
Apa Sih?
Kalau kamu pernah lihat jaket
dengan potongan menjuntai, tas dengan detail bergerak, atau dress yang “hidup”
saat dipakai jalan—nah, itu dia yang disebut fringe atau rumbai-rumbai.
Secara sederhana, fringe adalah
detail berupa helaian kain, benang, kulit, atau material lain yang dibiarkan
menjuntai bebas di bagian tepi pakaian atau aksesori. Biasanya ada di bagian
lengan, hem (ujung bawah), bahu, atau bahkan seluruh badan outfit.
Yang bikin fringe beda dari detail
lain adalah satu hal: movement. Fringe
bukan cuma dilihat—tapi juga “dirasakan” lewat gerakannya.
Dari
Tradisional Sampai Runway: Sejarah Singkat Fringe
Sumber: www.britannica.com
Fringe bukan tren baru yang
tiba-tiba muncul di TikTok atau runway modern. Detail ini punya perjalanan
panjang dan cukup menarik.
Awalnya, fringe digunakan dalam
berbagai budaya tradisional, termasuk oleh suku asli Amerika (Native American). Saat itu, fungsinya
bukan estetika, tapi praktis—membantu air hujan mengalir lebih cepat dari
pakaian berbahan kulit.
Sumber: flapperboutique.com
Masuk ke era 1920-an, fringe mulai
punya makna baru. Di era flapper,
perempuan memakai dress dengan rumbai sebagai simbol kebebasan dan ekspresi
diri. Gerakan fringe saat menari jadi statement visual yang kuat—menandakan
perubahan sosial saat itu.
Lalu di tahun 1970-an, fringe
kembali populer lewat gaya bohemian dan hippie. Jaket suede dengan rumbai jadi
ikon, identik dengan kebebasan, alam, dan gaya hidup anti-mainstream.
Sekarang? Fringe hadir lagi, tapi
dengan pendekatan yang jauh lebih luas—dari boho sampai quiet luxury.
Kenapa
Fringe Selalu Balik Lagi?
Sumber: ricamour.com
Di dunia fashion yang terus
berubah, nggak semua tren bisa bertahan. Tapi fringe termasuk yang “abadi”
dalam siklus tren. Alasannya cukup kuat: Fringe punya kemampuan unik untuk
membuat outfit terasa lebih dinamis tanpa harus menambah warna atau pola yang
ramai. Bahkan outfit paling minimal pun bisa langsung naik level hanya dengan
satu sentuhan fringe.
Selain itu, fringe juga fleksibel
secara gaya. Mau tampil bohemian, edgy, glam, atau bahkan clean dan
elegan—semuanya bisa dicapai tergantung material dan cara styling-nya.
Dan yang paling penting, fringe bisa
kasih statement tanpa terlihat berusaha terlalu keras.
Jenis-Jenis
Fringe yang Perlu Kamu Tahu
Biar nggak salah pilih, penting
juga buat kenal variasi fringe. Karena nggak semua rumbai punya vibe yang sama.
1. Micro Fringe: Fringe dengan potongan pendek dan halus. Biasanya
dipakai untuk tampilan yang lebih elegan dan subtle. Cocok buat kamu yang pengen coba fringe tapi nggak mau
terlalu mencolok.
2. Long Fringe: Ini versi dramatisnya. Panjang, mencolok, dan sangat
bergerak. Biasanya dipakai di dress, outer, atau statement piece lainnya.
3. Layered Fringe: Fringe yang disusun bertumpuk, sering ditemukan di
dress ala 1920-an. Memberikan efek volume dan tekstur yang kaya.
4. Leather Fringe: Biasanya ada di jaket atau tas berbahan kulit. Vibenya
langsung mengarah ke western, biker, atau boho klasik.
5. Beaded Fringe: Fringe yang terbuat dari manik-manik. Lebih glam dan
sering muncul di evening wear atau
outfit pesta.
Cara
Styling Fringe Biar Nggak Over
Fringe memang menarik, tapi juga tricky. Salah styling bisa bikin outfit
terlihat terlalu ramai atau bahkan “berat”. Nah, biar aman, ini beberapa
guideline yang bisa kamu pakai:
Fokus ke Satu Item: Kalau kamu pakai fringe jacket, biarkan itu jadi pusat
perhatian. Hindari layering dengan item lain yang juga terlalu ramai.
Balance Siluet: Karena fringe sudah punya volume dan gerakan,
sebaiknya dipadukan dengan item yang clean—seperti celana tailored atau top
yang fitted.
Mulai dari Warna Netral: Hitam, coklat, atau beige adalah
pilihan paling aman. Setelah terbiasa, baru eksplor warna yang lebih bold.
Manfaatkan untuk Layering: Fringe outer di atas outfit minimal
bisa langsung menciptakan tampilan yang lebih “niat” tanpa harus ribet.
Fringe di
Tren Fashion Sekarang
Sumber: theimpression.com
Fringe di era sekarang sudah jauh
berkembang. Nggak lagi terpaku pada satu gaya tertentu. Di tren modern, fringe
muncul dalam berbagai bentuk:
·
Quiet
luxury → fringe yang sangat halus, hampir nggak terlihat tapi tetap
memberi tekstur
·
Y2K revival → fringe
yang playful, kadang shiny atau eksperimental
·
Festival
fashion → fringe jadi favorit karena efek geraknya saat dipakai
beraktivitas
·
Runway high
fashion → fringe digunakan secara konseptual, bahkan dengan material
yang tidak biasa
Artinya, fringe sekarang bukan
sekadar dekorasi—tapi bagian dari eksplorasi desain itu sendiri.
Lebih dari
Sekadar Detail: Makna di Balik Fringe
Yang sering terlewat, fringe
sebenarnya punya dimensi yang lebih dalam dari sekadar estetika.
Dalam banyak konteks, fringe bisa
merepresentasikan:
·
Freedom (kebebasan)
·
Movement (dinamika & energi)
·
Sensuality (gerakan yang mengikuti tubuh)
·
Rebellion (keluar dari struktur kaku fashion klasik)
Itulah kenapa fringe sering dipakai
di runway, editorial, bahkan performance—karena dia “bercerita” lewat gerakan.
Kesimpulan
Fringe adalah bukti bahwa detail
kecil bisa punya dampak besar dalam fashion. Dengan karakter yang dinamis,
fleksibel, dan penuh makna, nggak heran kalau tren ini selalu kembali dalam
berbagai bentuk.
Kuncinya cuma satu: tahu cara
mengontrolnya. Karena di tangan yang tepat, fringe bukan cuma tambahan—tapi
bisa jadi pusat dari seluruh cerita outfit kamu.
Co-ord Set, Tren Outfit Senada dan Cara Padupadannya
Coachella: Festival Musik yang Diam-Diam Mengatur Arah Tren Fashion Dunia
Fringe Fashion Lagi Naik Daun! Ini Alasan Rumbai-Rumbai Bikin Outfit Auto Mahal
Fishnet: Dari Lingerie ke Survival Gear—Perjalanan Paling “Unexpected” di Fashion
Mengenal Pashmina Viscose, Pilihan Hijab Elegan yang Nyaman dan Tetap Rapi
5 Majalah yang Paling Berpengaruh di Dunia Fashion
Wig Itu Bukan Rambut Palsu Biasa—Ini Rahasia Transformasi Instan di Dunia Fashion
Sering Dikira Merek Luar, Ini Rahasia Dibalik Popularitas handuk Terry Palmer!
Regeneration 2030, Transformasi Louis Vuitton Menuju Pemulihan Alam
Kenapa Orang Cenderung Memakai Baju yang Sama? Ini Alasan Psikologisnya