Industri tekstil global tengah
mengalami perubahan besar dalam pengembangan pakaian olahraga dan activewear.
Jika selama bertahun-tahun berbagai produk olahraga mengandalkan bahan kimia
PFAS untuk menciptakan efek tahan air, tahan noda, dan meningkatkan performa
kain, kini banyak produsen mulai mencari alternatif yang lebih aman dan ramah
lingkungan. Perubahan ini didorong oleh meningkatnya tekanan regulasi,
kekhawatiran terhadap dampak lingkungan, serta tuntutan konsumen yang semakin
peduli terhadap keamanan produk yang mereka gunakan.
Tren tekstil bebas PFAS alias PFAS free bukan sekadar wacana. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara dan perusahaan
besar telah mengambil langkah nyata untuk mengurangi bahkan menghapus
penggunaan senyawa tersebut dalam produk tekstil dan pakaian olahraga.

Sumber:https://www.niehs.nih.gov/
PFAS atau Per- and
Polyfluoroalkyl Substances adalah kelompok bahan kimia sintetis yang
sifatnya tidak bisa hancur dan telah digunakan sejak pertengahan abad ke-20. Di lingkungan tekstil, senyawa ini banyak dimanfaatkan untuk memberikan sifat tahan air, tahan
minyak, dan tahan noda pada pakaian luar ruang maupun pakaian olahraga.
Karena kemampuannya yang sangat sulit terurai di lingkungan, PFAS sering dijuluki sebagai forever chemicals atau "bahan kimia abadi". Senyawa ini dapat bertahan dalam tanah, air, dan bahkan terakumulasi dalam tubuh manusia maupun hewan dalam jangka waktu yang sangat lama.

Perhatian terhadap PFAS meningkat
setelah berbagai penelitian dan lembaga lingkungan mengungkap potensi dampaknya
terhadap kesehatan dan lingkungan.
Selain ditemukan pada air dan
tanah, PFAS juga diketahui dapat berpindah melalui rantai makanan. Karena
sifatnya yang persisten, banyak pemerintah mulai memperketat regulasi terkait
penggunaan senyawa ini dalam berbagai produk konsumen, termasuk tekstil.
Di Eropa, langkah regulasi bahkan semakin agresif. Pemerintah Prancis pada 2025 mengesahkan salah satu aturan PFAS paling ketat di dunia yang mencakup pembatasan penggunaan PFAS pada berbagai produk tekstil tertentu mulai 2026 dan perluasan larangan pada tahun-tahun berikutnya.

Sumber: https://mamavation.com/
Laporan terbaru yang
dipublikasikan beberapa hari lalu menunjukkan bahwa sejumlah produsen serat dan
merek pakaian olahraga mulai mengembangkan alternatif PFAS untuk mempertahankan
performa pakaian tanpa menggunakan bahan kimia tersebut.
Perusahaan tekstil seperti
Hyosung dan Lenzing misalnya, mulai mengembangkan kombinasi serat berbasis
hayati, serat daur ulang, serta teknologi finishing bebas PFAS untuk berbagai produk
olahraga dan yoga. Sementara itu, beberapa merek apparel juga telah
memperkenalkan jaket dan pakaian luar ruang dengan perlindungan cuaca tanpa
menggunakan PFAS tambahan.
Perubahan ini menunjukkan bahwa industri tidak lagi hanya berfokus pada performa pakaian, tetapi juga mulai mempertimbangkan dampak lingkungan dari seluruh siklus hidup produk.
Meski terlihat menjanjikan,
transisi menuju tekstil bebas PFAS bukanlah proses yang mudah.
Selama puluhan tahun, PFAS
menjadi standar industri karena kemampuannya memberikan perlindungan yang
sangat efektif terhadap air dan noda. Ketika bahan tersebut dihilangkan,
produsen harus menemukan solusi baru yang mampu menawarkan performa serupa
tanpa mengorbankan kenyamanan maupun daya tahan produk.
Selain itu, proses pengembangan
teknologi baru membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Banyak produsen juga
harus menyesuaikan rantai pasok, proses produksi, hingga sistem pengujian
kualitas agar dapat memenuhi standar baru yang lebih ramah lingkungan.
Dengan semakin ketatnya regulasi
di berbagai negara dan meningkatnya kesadaran konsumen, penggunaan PFAS dalam
pakaian olahraga diperkirakan akan terus menurun. Sebagai gantinya, industri
akan semakin banyak berinvestasi pada material inovatif yang mampu menghadirkan
performa tinggi tanpa meninggalkan jejak lingkungan yang besar.
Jangan Sampai Ketipu Trik Brand! Ini Bedanya Retail vs Flagship yang Wajib Kamu Tahu Biar Nggak Malu Pas Belanja
Industri Pakaian Olahraga Dunia Mulai Tinggalkan PFAS, Apa Dampaknya?
Kerah Kaos Kesayanganmu Melar? Ini 4 Cara Praktis Mengembalikan Bentuknya
Grading Pola, Cara Konveksi Membuat Ukuran S hingga XXL dari Satu Pattern
5 Cara Memadukan Dress Merah agar Tampil Elegan di Berbagai Kesempatan
Louis Vuitton Menswear Spring/Summer 2027: Ketika Kemewahan, Kreativitas, dan Keberlanjutan Bertemu di Satu Panggung
High Rise vs Low Rise, Mana Potongan Celana yang Paling Cocok Untukmu?
Hal-Hal Kecil pada Pakaian yang Ternyata Punya Sejarah Panjang
Apa Itu Kupnat? Fungsi, Jenis, dan Perannya dalam Busana
Praktis dan Modern, Tapi Kenapa Kancing Magnet Tidak Pernah Jadi Standar Fashion?