Meski menawarkan banyak
keunggulan, kain blended (campuran serat) seperti TC, CVC, spandek katun
memiliki satu masalah besar, yaitu sulitnya proses daur ulang. Kenapa? Karena pada
dasarnya mekanisme ini hanya dirancang untuk mengolah satu jenis serat. Sedangkan,
blended fabric terbuat dari jalinan erat
dua kategori serat yang berbeda.
Butuh metode pemisahan yang
kompleks, mahal, dan belum tersedia secara massal. Serumit apakah prosesnya?
Simak ulasan berikut ini, yuk!

Blended fabric alias kain campuran adalah kain yang dibuat dari
kombinasi dua atau lebih jenis serat berbeda, umumnya berupa serat alami dan
serat sintetis. Serat-serat tersebut dipintal secara bersamaan menjadi satu
benang lalu ditenun atau dirajut menjadi lembaran kain. Tujuan utamanya yaitu menggabungkan
kelebihan masing-masing serat sekaligus menutupi kekurangannya.
Berikut beberapa jenis kain
blended yang paling umum dijumpai di industri garmen:
·
TC (Tetron Cotton) — mencamputkan serat
poliester dan katun untuk memberikan sifat tahan kusut, awet, dan harga yang
lebih terjangkau dari katun murni.
·
CVC (Cotton Viscose) — campuran katun dan
rayon/viscose dengan rasio katun lebih dominan (biasanya sekitar 55-90%).
Menghasilkan kain yang lembut dengan daya serap tinggi, mendekati karakter katun
murni.
·
TR (Tetron Rayon) —gabungan poliester dan
rayon, sering dipakai untuk bahan seragam kerja karena ringan dan jatuh dengan
baik.
·
Poliester-spandex — penambahkan
elastisitas pada serat kain, umum ditemukan pada pakaian olahraga atau kaos yang
membutuhkan sedikit stretch.
Komposisi campuran seratnya cukup
bervariasi, tergantung produsen serta tujuan penggunaan kain. Variasi inilah
yang mempersulit proses daur ulang, karena tidak ada metode pemisahan yang bisa
berlaku seragam untuk semua jenis dan rasio campiran serat.
Meski menawarkan berbagai keunggulan, memisahkan dua varian serat dengan karakteristik yang saling berlawanan bukan perkara mudah. Dan ironisnya, Textile Exchange Materials Market Report 2025 meunjukkan bahwa dua pertiga pakaian bekas adalah serat campuran. Hal tersebut membatasi potensi daur ulangnya secara signifikan.

Lantas, kenapa serat campuran ini
sangat sulit didaur ulang? Berikut penyebabnnya:
Ketika katun dan poliester dipintal menjadi satu
benang atau diproses membantuk kain, keduanya tidak sekadar
"bercampur" tetapi menyatu secara fisik di tingkat serat. Agar bisa
didaur ulang, kedua jenis serat harus dipisahkan terlebih dahulu. Dan di
sinilah masalah utamanya dimulai.
Serat alami seperti katun atau linen tersusun dari
rantai selulosa, sedangkan poliester adalah polimer sintetis berbasis minyak
bumi. Keduanya memiliki struktur kimia yang sangat berbeda.
Misalnya, serat polyester yang dibakar akan meleleh
dan bisa diolah menjadi serat baru. Namun, di saat bersamaan katun justru hangus
dan terbakar menjadi abu. Dan mesin daur ulang mekanis yang biasa mencacah dan
memintal ulang serat kapas murni tidak bisa langsung memproses jika ada campuan
polyester di dalamnya.
Metode pengolahan limbah tekstil yang paling umum digunakan adalah
daur ulang mekanis, yaitu kain lama dicacah dan diurai kembali menjadi serat
pendek untuk dipintal. Masalahnya, proses ini memperpendek ukuran serat secara
signifikan.
Pada kain blended, serat katun yang sudah pendek bisa makin
rapuh saat harus dipisahkan paksa dari serat poliester. Hasil daur ulang seratnya
pun cenderung berkualitas rendah dan hanya bisa diaplikasikan pada produk non-tekstil.
Bukan untuk dipintal menjadi benang baru yang layak jual.

Daur ulang kimia, di mana pelarut kimia digunakan
untuk melarutkan salah satu jenis serat sehingga yang lain bisa dipisahkan
secara utuh. Teknologi ini memang mampu memisahkan campuran poliester-katun
dengan hasil yang jauh lebih baik dibanding metode mekanis.
Namun teknologi ini masih menghadapi beberapa kendala:
·
Biaya tinggi — instalasi dan proses recycle kimia membutuhkan investasi
besar pada teknologi serta infrastruktur.
·
Skala terbatas — sebagian besar fasilitas
pengolahan ulang kimiawi untuk tekstil blended masih dalam tahap uji coba dan
terbatas dalam kapasitas kecil.
·
Komposisi kain yang tidak konsisten —
satu batch kain bekas bisa berisi
campuran dengan rasio serat yang berbeda-beda (70/30, 65/35, 50/50). Sehingga tidak
memungkinkan untuk diproses dalam satu siklus produksi.
Katun umumnya
diwarnai dengan pewarna reaktif, sedangkan poliester memakai pewarna dispersi. Ketika
kain campuran masuk ke fasilitas daur ulang, kombinasi berbagai zat ini akan
menyulitkan proses pemurnian serat. Butuh proses pemutihan (bleaching) intensif yang menghasilkan
emisi tinggi serta limbah cair dalam jumlah besar.
Teknologi pemisahan
kain campuran secara kimiawi sebenarnya sudah mulai dikembangkan oleh sejumlah
perusahaan rintisan (startup) di
sektor tekstil hijau. Namun, hasilnya masih jauh dari siap untuk diadopsi
secara massal.
Biaya investasi
mesin, operasional, dan energi untuk daur ulang kimia jauh lebih mahal
dibanding memproduksi poliester baru dari minyak bumi. Selisih biaya inilah
yang membuat industri lebih suka memproduksi bahan baru daripada mendaur ulang
yang lama. Akibatnya, jutaan ton pakaian bermeterial campuran berakhir di
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau dibakar di insinerator.
Melihat kompleksitas di atas,
jelas bahwa daur ulang bukan satu-satunya solusi untuk menangani permasalahan sampah
fashion blended. Selama industri
fesyen masih bergantung pada kain campuran, tumpukan limbah yang sulit terurai
akan terus bertambah.
Salah satu cara yang paling masuk
akal yaitu mengesampingkan fungsionalitas dan fokus pada produksi busana dari
material tunggal (100% katun atau 100% polyester). Atau setidaknya, pilih pakaian
blended yang berkualitas dan rawatlah
dengan benar agar usia pakainya makin panjang.
Semoga pengetahuan ini,
bermanfaat ya!
Kenapa Kain Campuran Sulit Didaur Ulang? Ini Penjelasannya!
Jangan Asal Pakai! Bedah Tuntas Jenis Topi & Cara Pilih Sesuai Wajah Biar Karisma Lu Melonjak 200%
Industri Padat Karya Waspadai Tarif Baru AS, Tekstil dan Alas Kaki Dinilai Paling Rentan
Mengenal Modacrylic, Serat Sintetis Serat Sintetis dengan Ketahanan Api Tinggi untuk Beragam Aplikasi
Cara Mencuci Boneka yang Benar: Panduan Agar Tetap Lembut dan Awet
Saat Idol Jadi Inspiration Wear: HYBE x Korea Fashion Association Bikin Gebrakan Baru!
Gak Jadi Bersih! Ini 5 Bahaya Merendam Pakaian Terlalu Lama
Bukan Cuma Pelindung Kaki! Evolusi Sepatu Boots dari Alat Perang Hingga Rajai Pop Culture
Kasur busa vs spring bed, Mana yang Harus Dipilih?
Hari Kebaya Nasional 2026 Bakal Meriah, Dari Rekor MURI hingga Pameran Wastra Nusantara