Bayangkan sedang berjalan keluar
dari sebuah restoran dan tiba-tiba kamera paparazzi menyorot dari berbagai
arah. Biasanya, orang akan menunduk, menutupi wajah, atau mempercepat langkah.
Namun beberapa tahun lalu, muncul ide yang jauh lebih unik: bagaimana kalau pakaian justru dibuat untuk
mengacaukan hasil foto?
Sekitar pertengahan 2010-an, konsep
anti-paparazzi clothing sempat
menarik perhatian dunia fashion dan teknologi. Sejumlah desainer dan perusahaan
memperkenalkan pakaian serta aksesori dengan material sangat reflektif. Dalam
kondisi biasa, tampilannya relatif normal. Namun ketika terkena flash kamera,
material tersebut dapat memantulkan cahaya kembali ke arah kamera dan membuat
hasil foto terlalu terang atau kehilangan detail.
Jadi, apakah pakaian ini
benar-benar bisa membuat seseorang “menghilang”?
Dari
Kesalahan Foto Menjadi Ide Fashion
Sumber: www.mariefranceasia.com
Salah satu proyek yang banyak
dibicarakan adalah Flashback Collection,
yang dikembangkan DJ dan produser musik Chris Holmes bersama Betabrand sekitar
2015.
Idenya muncul secara tidak sengaja.
Saat mengikuti tur Paul McCartney, Holmes memperhatikan material reflektif pada
pakaian atau perlengkapannya membuat sejumlah foto pertunjukan terlihat aneh
akibat pantulan flash. Ia kemudian melihat kemungkinan bahwa efek tersebut bisa
sengaja dimanfaatkan untuk menghadapi paparazzi.
Dari sinilah lahir koleksi
Flashback, yang mencakup hoodie, scarf, topi, hingga pakaian formal. Rahasianya
berada pada material reflektif yang digunakan untuk memantulkan cahaya flash
secara kuat.
Rahasianya
Ada pada Material Retroreflective
Sumber: techwear-uk.com
Teknologi ini sebenarnya bukan
sesuatu yang benar-benar baru. Material retroreflective
telah lama digunakan pada perlengkapan keselamatan dan pakaian dengan
visibilitas tinggi.
Bedanya, material tersebut biasanya
digunakan agar seseorang lebih mudah
terlihat. Pada pakaian anti-paparazzi, kemampuan yang sama justru
dimanfaatkan untuk membuat kamera kesulitan menghasilkan foto normal.
Pada Flashback, misalnya,
materialnya menggunakan glass
nanospheres, yaitu bola-bola kaca berukuran sangat kecil yang membantu
memantulkan cahaya kembali ke sumbernya. Ketika sumber cahaya adalah flash
kamera yang posisinya dekat dengan lensa, pantulan kuat tersebut dapat membuat
material terlihat sangat terang di dalam foto.
Baca juga: Mengenal Teknologi Smart Textile
Kenapa Flash Bisa Membuat Foto “Rusak”?
Kamera menggunakan sistem
pengukuran cahaya untuk menentukan tingkat pencahayaan yang sesuai. Material
reflektif yang sangat terang dapat mengganggu perhitungan tersebut.
Akibatnya, bagian reflektif bisa
menjadi sangat terang, sementara detail objek lainnya justru hilang. Hasilnya
dapat berupa bercak putih menyilaukan, tubuh yang gelap, atau wajah yang tidak
terlihat jelas. Jadi, baju ini tidak benar-benar membuat seseorang tidak bisa
difoto. Baju tersebut lebih tepat membuat kondisi pencahayaan foto menjadi
kacau.
Lalu Muncul
ISHU Privacy Scarf
Sumber: www.demilked.com
Kalau Flashback menunjukkan
bagaimana konsep tersebut diterapkan pada pakaian, ISHU Privacy Scarf membawanya ke ranah aksesori fashion.
Diperkenalkan oleh entrepreneur
Saif Siddiqui, scarf ini menggunakan pola dan material reflektif khusus yang
dirancang untuk memantulkan cahaya flash. Secara visual, bentuknya tetap
menyerupai aksesori fashion dengan pola geometris, bukan perangkat teknologi.
Konsep tersebut kemudian menarik
perhatian sejumlah selebriti. Paris Hilton, Cameron Diaz, Nicole Richie, serta
Joe dan Nick Jonas termasuk nama-nama yang diberitakan menggunakan atau
memiliki aksesori tersebut.
Karena itulah istilah seperti “privacy scarf” atau invisibility scarf sempat populer. Namun
istilah tersebut tentu lebih merupakan gambaran efeknya, bukan berarti
pemakainya benar-benar menjadi tidak terlihat.
Tapi Apakah
Baju Anti-Paparazzi Benar-Benar Ampuh?
Tidak sepenuhnya.
Efek material retroreflective sangat bergantung pada posisi sumber cahaya dan
kamera. Teknologi ini bekerja paling efektif ketika cahaya datang dari arah
yang relatif dekat dengan kamera dan kemudian dipantulkan kembali ke sumbernya.
Fotografer masih dapat mengurangi
efek tersebut dengan mengubah posisi flash, menggunakan sumber cahaya yang
tidak berada dekat lensa, atau mengambil gambar tanpa flash.
Jadi, pakaian anti-paparazzi bukan jubah
Harry Potter versi dunia nyata. Ia lebih tepat disebut sebagai trik optik yang
bekerja dalam kondisi tertentu.
Ketika
Fashion Berubah Menjadi Alat Privasi
Yang membuat fenomena ini menarik
bukan hanya teknologinya, tetapi juga gagasannya.
Sumber: emonthlynews.com
Pakaian biasanya dipandang sebagai
sesuatu yang berfungsi melindungi tubuh, memberi kenyamanan, menunjukkan
identitas, atau mempercantik penampilan. Flashback dan ISHU menunjukkan
kemungkinan lain: pakaian dapat
digunakan untuk mengendalikan bagaimana tubuh kita direkam oleh teknologi.
Di satu sisi, pakaian reflektif
dibuat agar manusia semakin mudah terlihat. Di sisi lain, teknologi yang sama
dapat dimanfaatkan untuk membuat kamera kesulitan menangkap gambar dengan
jelas.
Fenomena ini menunjukkan bahwa
hubungan fashion dan teknologi tidak selalu soal smartwatch atau pakaian bersensor. Kadang, teknologi paling menarik
justru tersembunyi di dalam material yang terlihat sederhana.
Dari Paparazzi ke Era Surveillance
Gagasan tersebut terasa semakin
relevan ketika kamera semakin banyak hadir dalam kehidupan sehari-hari. Jika
dulu masalahnya adalah paparazzi, kini kamera dapat ditemukan di ruang publik,
kendaraan, toko, gedung, dan berbagai sistem keamanan.
Namun perlu dibedakan: pakaian
anti-paparazzi berbasis reflektif terutama dirancang untuk mengganggu fotografi
dengan flash, bukan sebagai solusi universal untuk kamera pengawas atau sistem
pengenalan wajah.
Justru di situlah daya tariknya
sebagai fenomena fashion. Ia memperlihatkan bagaimana tekstil dapat masuk ke
percakapan yang lebih luas mengenai privasi,
fotografi, teknologi, dan hak seseorang
atas citra dirinya sendiri.
Dari Kain
Biasa Menjadi “Teknologi yang Bisa Dipakai”
Sumber: cloami.com
Fashion anti-paparazzi mungkin tidak berkembang menjadi kategori mainstream. Namun gagasannya meninggalkan satu pelajaran menarik: fungsi kain ternyata bisa jauh lebih luas daripada sekadar menutup tubuh.
Serat, benang, lapisan, pola, dan
struktur permukaan dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi cahaya. Material yang
awalnya dikembangkan untuk keselamatan bahkan dapat menemukan fungsi baru di
dunia fashion dan privasi.
Jadi, kalau suatu hari melihat
seseorang mengenakan pakaian yang tiba-tiba “meledak” putih ketika terkena
flash kamera, jangan buru-buru mengira kameranya rusak.
Bisa jadi, pakaiannya memang sedang
melakukan tugasnya.
Temukan
Lebih Banyak Dunia Kain dan Tekstil di BahanKain.com
Fenomena pakaian anti-paparazzi
menjadi bukti bahwa dunia tekstil terus berkembang dan memiliki hubungan erat
dengan teknologi. Mulai dari karakteristik serat, teknik pembuatan kain,
material fungsional, hingga inovasi tekstil modern, setiap bahan memiliki
cerita menarik untuk dipelajari. Kunjungi BahanKain.com
untuk menemukan lebih banyak informasi seputar kain, tekstil, fashion, dan
berbagai inovasi material yang mungkin belum pernah kamu ketahui.
Baca juga: Inovasi Canggih Tekstil Pintar yang Mengubah Masa Depan Fashion dan Fungsi Pakaian
Katun vs Linen, Mana yang Lebih Cocok Untuk Outfit Musim Panas?
HD Lace Wig Cap, Teknologi Tekstil di Balik Hairline yang Terlihat Natural
Baju Anti-Paparazzi: Ketika Pakaian Dipakai untuk “Mengacaukan” Kamera
Menguak Strategi Price Anchoring, Cara Psikologi Harga Melipatgandakan Penjualan
Apa Itu Understitching? Kenali Fungsi dan Cara Menerapkannya pada Pakaian
Seberapa Penting Angka Heel to Toe Drop pada Sepatu Lari?
Umbul-Umbul: Bukan Sekadar Bendera Panjang, Ini Sejarah, Makna, dan Rahasia di Baliknya
Throw Blanket: Selimut Kecil yang Ternyata Punya Fungsi Besar, Bukan Sekadar Hiasan!
Limbah Tekstil RI Tembus 2,3 Juta Ton per Tahun, Mahasiswa UMY Ubah Perca Jadi Cuan
Hospital Corner, Rahasia Sprei Hotel yang Rapi, Kencang dan Tidak Mudah Bergeser