Spandeks membuat pakaian lebih
elastis dan nyaman dikenakan. Namun, ketergantungan pada bahan baku fosil serta
sulitnya mendaur ulang kain campuran menjadi tantangan tersendiri bagi industri
tekstil. Menjawab persoalan tersebut, The LYCRA Company mengembangkan dua
solusi, yaitu spandeks berbahan terbarukan dan teknologi pemulihan serat
elastane dari limbah tekstil.
Dilansir dari Innovation in
Textiles pada 9 Oktober 2026, perusahaan tersebut telah mencapai tahap
produksi komersial untuk Renewable LYCRA®, serat spandeks yang mengandung 70%
bahan berbasis tanaman. Sementara itu, teknologi daur ulang spandeks masih
dikembangkan melalui pengujian pada skala percontohan.
Renewable LYCRA® memanfaatkan bahan baku berbasis tanaman, termasuk jagung tipe dent corn yang sebagian besar ditanam di Iowa, Amerika Serikat. Pendekatan ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada bahan baku fosil dalam pembuatan spandeks.
Berdasarkan penilaian daur hidup
komparatif (comparative life cycle assessment) oleh Ramboll pada 2026,
serat ini berpotensi mengurangi jejak karbon hingga 45% dibandingkan LYCRA®
konvensional dalam skenario yang dikaji. Penilaian tersebut membandingkan
penggunaan bahan PTMEG berbasis hayati dengan PTMEG berbasis fosil, salah satu
komponen penting dalam produksi spandeks.
Meski menggunakan bahan baku
terbarukan, Renewable LYCRA® dirancang untuk mempertahankan elastisitas dan
kemampuan kembali ke bentuk semula seperti serat konvensional. Dengan demikian,
produsen dapat mempertimbangkan alternatif bahan baku yang lebih rendah jejak
karbon tanpa mengabaikan performa kain.
Namun, kandungan 70% bahan berbasis tanaman bukan berarti seluruh serat berasal dari sumber nabati. Begitu pula dengan potensi pengurangan jejak karbon hingga 45% yang berlaku berdasarkan ruang lingkup penilaian tersebut, bukan otomatis untuk setiap produk akhir yang menggunakannya.
Selain beralih ke bahan baku
terbarukan, The LYCRA Company berupaya mengatasi persoalan limbah tekstil
melalui pengembangan teknologi daur ulang spandeks.
Tantangannya terletak pada
karakteristik spandeks yang kerap dicampur dengan serat lain, seperti katun,
poliester, atau nilon. Campuran ini membuat proses daur ulang lebih rumit
karena setiap jenis serat memerlukan penanganan berbeda.
Untuk mengatasinya, perusahaan
bekerja sama dengan sejumlah mitra daur ulang tekstil di berbagai negara.
Fokusnya adalah memisahkan spandeks dari serat pendamping dalam limbah tekstil
praproduksi (pre-consumer textile waste), kemudian memulihkannya untuk
menghasilkan serat baru.
Upaya tersebut telah mencapai tahap percontohan. Meski menunjukkan potensi pemanfaatan kembali spandeks, teknologi ini belum siap diterapkan secara komersial. Pengembangannya masih membutuhkan investasi pada infrastruktur dan peningkatan kapasitas pemrosesan.
Pengembangan spandeks berbahan nabati dan teknologi daur ulang menunjukkan dua pendekatan berbeda untuk mengurangi dampak lingkungan produksi tekstil. Pendekatan pertama berfokus pada bahan baku, sedangkan pendekatan kedua berupaya memperpanjang pemanfaatan material setelah menjadi limbah.
The LYCRA Company menilai
kolaborasi di sepanjang rantai pasok menjadi kunci untuk membawa inovasi
tersebut ke skala yang lebih luas. Ketersediaan teknologi saja tidak cukup;
industri juga membutuhkan infrastruktur, kapasitas produksi, dan model bisnis
yang layak.
Kedua perkembangan ini turut
menjadi bagian dari agenda perusahaan dalam Textile Exchange Conference 2026 di
Vancouver, Kanada, pada 12–16 Oktober 2026. Forum tersebut mengangkat tema The
Implementation Era, dengan fokus pada penerapan solusi keberlanjutan di
industri.
Ke depan, bahan baku terbarukan
dan daur ulang serat berpotensi menjadi bagian penting dari transformasi
industri tekstil. Namun, dampaknya akan bergantung pada kemampuan industri
memperluas produksi, menjaga kualitas material, dan membangun sistem daur ulang
yang layak secara teknis maupun ekonomi.
LYCRA Kembangkan Spandeks Berbahan Nabati dan Teknologi Daur Ulang
Kok Ada Kain yang Adem di Kulit, tapi Bikin Gerah Saat Dipakai?
Transaksi Selesai Bukan Berarti Urusan Berakhir! Ini Pentingnya After Sales
Macam-macam Teknik Degumming dalam Pengolahan Sutra
Semakin Besar, Semakin Mewah? Rahasia Lengan Baju dalam Sejarah Fashion
Mengenal Pewarna Reaktif: Pengertian, Cara Kerja, dan Karakteristiknya
Pesona Abadi Opera Gloves, Dari Etiket Berpakaian Kalangan Elite Jadi Ikon Mode
Sudut Inovasi: Limbah Jerami Gandum Berpotensi Jadi Bahan Baku Serat Lyocell
Kenapa Baju Vintage Punya Bentuk Berbeda dari Pakaian Modern?
Apa Itu Core Spun Yarn?