Siapa sih yang nggak kenal selana
chino? Desainnya yang simpel, membuatnya cocok untuk gaya santai, smart kasual,
ataupun semi-formal. Selain pola potongan yang nyaman, celana chino juga
tersedia dalam berbagai pilihan warna pastel yang lembut dan mudah
dipadupadankan.
Tapi kamu penasaran nggak sih,
kenapa namanya celana Chino? Bukan Japan, Indonesian atau yang lainnya. Nah,
ternyata itu ada sejarahnya lho. Simak ulasan berikut ini, yuk!
Celana chino adalah jenis celana
panjang yang terbuat dari bahan katun twill dengan ciri khas permukaan kain membentuk
pola garis diagonal. Nama “chino” merujuk pada kain yang digunakan dalam
pembuatan celana ini yang secara tradisional merupakan kain twill buatan Cina. Chinos
pants kenal dengan pola potongan yang rapi dan varian warna netral seperti
khaki, krem, navy, atau hitam, serta tampilan yang bisa menyesuaikan antara
gaya kasual dan semi formal.
Kain chino umumnya mengggunakan kain
100% katun atau kombinasi material katun dan polyester. Diproses dengan teknik
tenunan kepar atau twill menghasilkan bahan yang berkarakter halus, kuat, dan
nyaman saat digunakan. Ada juga jenis celana chino melar atau stretch yang dibuat menggunakan bahan
katun spandex.
Tingkat kelenturannya tergantung persentase elastane yang ditambahkan pada kain. Makin banyak komposisinya, tentu bahan celana akan semakin lentur dan gampang melar.
Istilah chino sendiri berasal
dari kata dalam bahasa Spanyol untuk menyebut negara “Cina.” Hal ini karena
kain katun yang digunakan untuk membuat celana ini awalnya diproduksi di
Tiongkok. Celana chino pertama kali digunakan sebagai seragam militer
oleh tentara Amerika dan Eropa pada abad ke-19. Mereka menyukai bahan chino
karena ringan, kuat, dan tetap nyaman digunakan di berbagai kondisi cuaca.
Secara tradisional, celana
militer ini berwarna khaki (cokelat muda kekuningan). Warna tersebut
dipilih agar bisa menjalankan fungsi penyamaran di medan perang. Uniknya,
sampai detik ini pun chinos pants masih
selalu diidentiikan dengan celana panjang berwarna khaki. Meski ada banyak
warna lain, namun chino khaki tetap tak tergantikan.
Celana chino makin populer di
Amerika Serikat pasca Perang Dunia II, tepatnya pada tahun 1950-an.Para mantan
prajurit terus mengenakan celana perang mereka dalam kegiatan sehari-hari, yang
kemudian diadopsi oleh masyarakat umum, termasuk mahasiswa dan pekerja
kantoran. Hal ini mengubah statusnya dari seragam militer menjadi pakaian
sehari-hari.
Masyarakat sipil di Amerika dan
Eropa pun sangat menyukai model bawahan ini. Gaya simpel dan warnanya yang
netral membuat celana chino mudah dipadukan dengan berbagai model atasan. Mulai
dari kemeja, polo shirt, hingga kaus kasual.
Sofa angin, worth it kah untuk dibeli? Cek ulasannya, yuk!
Dari Wisata Alam ke Kain Batik, Tumpak Sewu Siap Jadi Bagian dari Wastra Khas Lumajang
Panduan Mencuci Pakaian Olahraga Agar Tetap Awet dan Bebas Bau
AI dan Janji Produksi Tanpa Limbah, Bagaimana Implementasinya?
Mengenal Kain Ramilook: Pengertian, Karakteristik dan Penggunaanya
Mengapa Kaus Henley Punya Kancing di Dada? Ternyata Berawal dari Seragam Pendayung Inggris
Sertifikasi OEKO-TEX, Standar Emas Keamanan dan Keberlanjutan Produk Tekstil
Adidas Kembali Menggebrak Lewat Climacool, Sepatu 3D Printing yang Diklaim Lebih Sejuk dan Ringan
Mengenal Mélange Yarn, Karakteristik Dan Penggunaannya
Bedong, Sleep Sack, atau Selimut Tebal? Ini Panduan Memilihnya Sesuai Usia Bayi