Siapa sih yang nggak kenal Levi’s?
Nama yang selalu terlintas saat membahas tentang jeans dan segala produk
berbahan dasar kain denim. Evolusi Levi’s dari merek seragam pekerja tambang
hingga menjadi ikon fashion lintas generasi membuktikan bahwa kualitas, cerita,
dan identitas bisa melampaui apa yang sekedar ‘tren’.
Levi’s pernah begitu melekat di benak masyarakat Indonesia hingga istilah “celana levis” digunakan untuk menyebut hampir semua celana jeans. Sebuah bukti bahwa Levi’s telah menjadi bagian dari ingatan kolektif tentang denim itu sendiri. Yuk, simak sejarah dan faktanya!
Sejarah Levi’s dimulai pada tahun 1853, ketika Levi Strauss, seorang imigran asal Jerman, membuka bisnis grosir kain di San Francisco, Amerika Serikat. Saat itu, California sedang dilanda gold rush alias demam emas. Para pekerja tambang pun membutuhkan pakaian yang tidak hanya nyaman, tetapi juga tidak mudah robek, dan tahan untuk aktivitas berat.

Sumber: https://id.pinterest.com/
Melihat gejolak tersebut, Levi
Strauss yang awalnya hanya menjual kain kanvas untuk tenda pun akhirnya mencoba
membuat celana kerja. Namun, titik baliknya baru terjadi ketika ia bekerja sama
dengan Jacob Davis, seorang
penjahit yang menemukan ide memperkuat desain celana kerja dengan memasang paku keling (rivets) pada bagian-bagian yang rawan robek seperti saku dan
jahitan.
Baru pada tahun 1873, Levi Strauss dan Jacob Davis
resmi mematenkan celana kerja ber-rivet, yang kemudian dikenal sebagai blue jeans pertama di dunia. Guna memperkuat
identitas merek, Levi’s menambahkan simbol-simbol ikonik berupa:
1.
Patch kulit bergambar dua kuda
yang mencoba menarik celana untuk membuktikan kekuatan materialnya (tahun 1886)
2.
Penggunaan nomor lot 501 pada tahun 1890 sebagai
penanda produk unggulan.
3.
Serta melawan produk KW dengan pemberian Red
Tab (label merah) pada kantong belakang di tahun 1936.
Fokus produk yang awalnya murni sebagai pakaian kerja fungsional mulai bergeser menjadi simbol budaya populer pada era 1950-an. Meski komoditas utamanya tetap material denim, namun kini Levi’s juga memproduksi item-item fashion penunjang seperti jaket trucker, T-shirt, kemeja, rok, hingga ikat pinggang, topi dan aksesori lain. Tentunya, tanpa sedikitpun mengubah identitas bahan yang kuat serta fungsi dan desain yang jujur.

Sumber: https://www.gresiksatu.com/
Dibalik popularitasnya, Levi’s
menyimpan banyak fakta menarik yang sering luput dari perhatian. Levi’s bukan
sekadar merek jeans melainkan bagian dari
sejarah pakaian modern. Berikut beberapa fakta yang mengiringi
perjalanan brand Levi’s:
Secara historis, Levi’s diakui sebagai pencipta celana jeans pertama. Paten
tahun 1873 yang diajukan oleh Levi Strauss dan Jacob Davis bukan hanya soal
desain celana, melainkan sistem
konstruksi pakaian. Khususnya berkaitan dengan penggunaan paku keling
(rivets) untuk memperkuat jahitan.
Inovasi tersebut menjawab kebutuhan nyata para pekerja
tambang akan pakaian yang tidak mudah rusak. Levi’s juga memperkenalkan sudut
pandang baru, bahwa pakaian harus
mengikuti aktivitas manusia, bukan sebaliknya.
Di Indonesia, “celana levis” pernah jadi istilah generik untuk menyebut segala jenis jeans meski bukan dari brand Levi Strauss & Co. Fenomena ini menunjukkan pengaruh brand Levi’s yang begitu kuat sebagai pencipta sekaligus produsen jeans berkualitas premium.
Baca Juga: |
Tidak banyak merek fashion yang namanya bisa melebur
menjadi istilah sehari-hari. Fakta ini menegaskan bahwa Levi’s berhasil mendefinisikan kategori produk mereka.
Levi’s sejak awal menggunakan pewarna indigo
pada denim mereka. Alasan utamanya bukan estetika, melainkan teknis. Indigo
tidak menyerap sepenuhnya ke serat kain, sehingga:
·
Jeans lebih tahan lama
·
Kain tidak cepat rusak
·
Warna memudar secara alami
Hasilnya,
setiap celana Levi’s akan membentuk karakter berbeda sesuai kebiasaan
pemakainya. Inilah yang membuat denim Levi’s terasa personal dan tidak pernah
benar-benar sama satu dengan lainnya.
Levi’s 501 Original adalah salah satu produk fashion
dengan umur desain terpanjang di dunia. Potongan lurus (straight leg), warna indigo klasik, kancing (button fly), dan konstruksi sederhana dengan struktur jahitan yang
kuat tetap dipertahankan hingga kini.
Ini menunjukkan bahwa Levi’s selalu menempatkan fungsi dan struktur di atas tren
sesaat. Konsistensi tersebut menjadi kekuatan utama di dunia fashion yang terus
berubah.
Label
merah kecil di saku belakang Levi’s diperkenalkan pada tahun 1936 sebagai
pembeda dari produk tiruan yang muka. Red
tab ini kemudian berkembang menjadi salah satu penanda keaslian jeans Levi’s
sekaligus elemen branding paling ikonik di dunia fashion. Mereka mempunyai dua
varian label yaitu Big E dan Small e.
Varian “Big E” merujuk pada Levi’s yang diproduksi
tahun 1971 ke bawah dengan huruf E di kata "LEVI’S" kapital. Konon, jeans
berlabel ini jadi incaran kolektor denim vintage karena karakternya yang
otentik dan berkualitas tinggi. Sedangkan versi “Small e,” dengan huruf ‘e’
kecil di kata "Levi’s" adalah standar produksi massal modern sejak tahun 1971 hingga
sekarang.
Levi’s tidak sekadar hadir dalam lemari pakaian,
tetapi juga dalam budaya populer. Jeans Levi’s dikenakan oleh aktor, musisi,
hingga aktivis lintas generasi. Dari simbol pemberontakan anak muda era 1950-an
hingga bagian dari gaya streetwear modern, Levi’s menunjukkan bahwa satu jenis pakaian bisa punya banyak makna
sosial.
Di akhir 1990-an, Levi’s sempat kehilangan relevansi karena perubahan tren dan munculnya banyak brand denim baru. Namun, Levi’s tidak mengubah jati dirinya secara drastis.
Sebaliknya, mereka kembali menekankan:
·
Kualitas bahan
·
Cerita heritage
·
Desain autentik
Pendekatan tersebut membawa Levi’s kembali ke posisi kuat di pasar global.
Kualitas tiap produk Levi’s sangat merepresentasikan
isu keberlanjutan. Mulai dari pemilihan bahan, detail jahitan yang presisi, dan
penambahan rivet, semuanya mewakili kualitas serta ketahanan produknya yang
luar biasa.
Levi’s juga mengembangkan teknologi Water<Less™ untuk mengurangi
penggunaan air dalam proses produksi. Mereka juga mendorong penggunaan bahan
daur ulang dan memperpanjang usia pakai pakaian. Sebuah langkah besar yang
menggeser fokus dari kuantitas ke tanggung
jawab jangka panjang.
Alih-alih sering mencuci, perusahaan legendaris ini justru
menyarankan konsumennya agar tidak
terlalu sering mencuci jeans. Selain menjaga struktur dan warna kain,
kebiasaan ini juga mengurangi penggunaan air dan energi. Sebuah langkah
sederhana yang menunjukkan bahwa Levi’s tidak hanya menjual produk, tetapi juga
gaya hidup yang lebih sadar bahan.
Mantan CEO Levi's, Chip Bergh secara terbuka menyatakan bahwa ia jarang mencuci jeans favoritnya. Bahkan produk denim yang lusuh, terkikis dan robek karena pemakaian seringkali lebih dihargai para Denimhead.
Itu dia sejarah brand Levi’s serta fakta-fakta yang mengiringi
perjalanannya. Merek buatan Levi Straus ini membuktikan bahwa jeans bukan
sekadar tren fashion, melainkan hasil dari pemahaman bahan, fungsi, serta
kebutuhan dasar manusia. Pada akhirnya, kualitas pakaian sangat ditentukan oleh
pemilihan kain dan cara perawatan yang tepat.
Nah, kalau Sobat Bahankain sedang mencari supplier kain
denim berkualitas untuk produksi celana, jaket serta kebutuhan lain, Bahankaincom
bisa jadi alternatif terbaik. Kami menyediakn berbagai pilihan kain denim
dengan kualitas yang mumpuni dan siap diolah.
Silahkan cek di kategori produk Kain Denim.
Atau langsung hubungi customer service kami untuk detail produk,
pemesanan, serta konsultasi seputar kebutuhan kain dan dapatkan penawaran
berbagai penawaran menarik. Kami tunggu kabar baiknya, ya!
Nggak Cuma Bikin Tenang, Ini 7 Manfaat Outfit Repeater
Busana Plague Doctor: Kostum Paling Ikonik (dan Paling Menyeramkan) dalam Sejarah Medis
Mengenal Kain Sherpa, Bahan Andalan untuk Outdoor Wear dan Pakaian Musim Dingin
Sejarah Levi’s, Brand Jeans Paling Legendaris di Dunia
Supermodel: Dari Ikon Abadi sampai Era Nepo Baby — Kenapa Definisinya Kini Berubah?
5 Jenis Bahan Pakaian yang Pantang Disetrika
Cara Merawat Dompet Kulit Sintetis Agar Tidak Mudah Cracking
Sepatu Mary Jane dan Pesonanya yang Tak Pernah Usang
Tips Memilih Handuk Wajah Untuk Kulit yang Sehat
Cerdik! Ini 7 Strategi Rahasia Aerostreet Dalam Membangun Brandnya