Pernahkah kamu mengenakan jaket
yang bagian dalamnya mirip bulu domba? Kemungkinan besar, itu adalah kain
Sherpa, material yang belakangan jadi primadona di dunia fashion musim
dingin dan perlengkapan luar ruangan. Terlepas dari keunikan teksturnya, kain
ini juga memiliki kemampuan menahan panas (insulasi termal) yang sangat baik.
Lantas, apa sebenarnya kain
Sherpa? Dan kenapa bahan ini begitu diandalkan untuk menghadapi cuaca dingin? Cek
karakteristik, kelebihan, hingga penggunaanny, yuk!
Kain Sherpa adalah jenis kain dengan tekstur menyerupai kulit domba berbahan dasar
serat sintetis, biasanya campuran poliester, akrilik, atau katun. Kain ini
dirancang sedemikian rupa agar bisa meniru tampilan, kehangatan dan kelembutan
wol atau bulu domba. Namun dalam versi yang lebih ringan, terjangkau, dan ramah
hewan (vegan-friendly).
Nama "Sherpa" diambil
dari suku bangsa di Nepal yang tinggal di pegunungan Himalaya, dikenal karena
ketangguhan mereka bertahan hidup di cuaca dingin yang ekstrem. Dari sinilah,
kain sherpa dikembangkan sebagai material penghangat berperforma tinggi
Beberapa ciri khas kain Sherpa antara lain:
·
Mempunyai
dua sisi berbeda, sisi depan teksturnya bergelombang seperti bulu domba,
sedangkan sisi belakang halus dan rata.
·
Tekstur
tebal tapi ringan, memberikan volume pada pakaian tanpa kesan berat.
·
Daya insulasi
tinggi, sehingga efektif dalam memerangkap panas tubuh.
Karakter itulah membuat kain
sherpa sangat efektif dalam menjaga suhu tubuh di lingkungan dingin atau
aktivitas luar ruangan.
Kain sherpa mampu memberikan perlindungan ekstra pada suhu tubuh tanpa
mengorbankan kenyamanan pemakainya. Tak heran jika ia kerap dimanfaatkan dalam
produksi jaket musim dingin.
Terlepas dari kemampuan baiknya dalam menjaga suhu tubuh, berikut
beberapa alasan kenapa banyak brand menggunakan Sherpa di koleksi fashion
musim dingin dan perlengkapan outdoor mereka:
·
Kehangatan Maksimal: Sherpa memiliki
kemampuan insulasi yang luar biasa dibandingkan kain sintetis standar lainnya.
·
Ringan dan Nyaman: Berbeda dengan kulit
domba asli yang berat, Sherpa sangat ringan sehingga tidak membebani gerak
pengguna.
·
Harga Terjangkau: Memberikan kemewahan
tekstur bulu dengan harga yang jauh lebih ekonomis dibanding wol asli.
· Cepat Kering: Karena terbuat dari serat sintetis, Sherpa tidak menyerap air sebanyak katun dan lebih cepat kering saat terkena lembap.
Di dunia perlengkapan luar
ruangan (outdoor gear), kain Sherpa kerap dimanfaatkan sebagai lining
atau lapisan dalam. Secara teknis, kain berbulu ini memiliki kemampuan untuk menjaga
tubuh dari ancaman dingin dan perubahan suhu ekstrem melalui:
·
Sistem
Trap Udara (Air Pocketing)
Tekstur keriting pada material sherpa menciptakan
ribuan kantong udara kecil yang berfungsi sebagai isolator alami. Ini
memerangkap panas tubuh di dalam dan menghalau udara dingin dari luar.
·
Efek
"Wicking" (Manajemen
Kelembapan)
Saat mendaki atau berkegiatan aktif di lingkungan
bersuhu dingin, tubuh akan berkeringat. Disini, sherpa sintetis mampu
mengalirkan kelembapan dari kulit, terasa kering dan terhindar dari risiko
hipotermia.
·
Proteksi
Area Vital
Jaket outdoor berkualitas sering menggunakan
bahan ini di bagian badan dan kerah untuk menjaga area ini tetap hangat. Sedangan
bagian lengan menggunakan bahan licin agar ruang gerak tetap fleksibel.
·
Barier
Angin Ganda
Saat diikombinasikan dengan bahan luar (shell)
seperti nilon atau taslan, lapisan Sherpa menjadi benteng tambahan yang tangguh
melawan hembusan angin kencang di pegunungan.
Selain jaket gunung, kain Sherpa
juga kerap digunakan dalam produksi:
·
Fashion: lining jaket denim, rompi gaya,
hingga sepatu bot.
·
Perlengkapan Bayi: selimut dan gendongan
karena kelembutannya aman untuk kulit sensitif.
·
Dekorasi Rumah: bantal sofa (throw
pillows), selimut santai, hingga alas tidur hewan peliharaan.
Salah satu tantangan material
Sherpa adalah teksturnya yang bisa menjadi kasar jika salah dalam perawatan.
Namun, karakter berbulu pada bahan ini membutuhkan perlakuan khusus agar tidak
cepat rusak, menggumpal, atau kehilangan volume.
Perawatan yang tepat akan membuat
jaket dan produk sherpa tetap nyaman dipakai serta terlihat rapi dalam jangka
panjang:
Suhu tinggi dapat merusak serat sintetis dan membuat
bulu menjadi kaku atau kusut. Air dingin membantu menjaga kelembutan serta
bentuk aslinya.
Jika menggunakan mesin cuci, aktifkan mode gentle
atau delicate. Putaran yang terlalu kuat berisiko membuat bulu
sherpa saling menempel dan menggumpal. Untuk hasil terbaik, masukkan jaket ke
dalam laundry bag.
Hindari deterjen dengan kandungan pemutih atau bahan
kimia keras. Deterjen berformulasi lembut dapat menjaga struktur serat dan mencegah
perubahan tekstur bulunya.
Jangan pula
menggunakan pelembut berlebihan karena bisa meninggalkan residu dan
membuat bulu kehilangan volume alaminya. Cukup gunakan secukupnya dan sesekali
saja.
Memeras jaket sherpa dengan keras dapat merusak
susunan serat dan membuat bentuk pakaian berubah. Cukup tekan perlahan untuk
mengurangi air, lalu lanjutkan dengan pengeringan alami.
Suhu tinggi dari mesin pengering adalah musuh utama
Sherpa. Jadi, sebisa mungkin hindari mengeringkan jaket Sherpa dengan pengering
mesin cuci karena tekstur bulunya bisa berubah jadi kering dan kasar.
Jangan pula menjemurnya di bawah sinar matahari
langsung. Teknik terbaik untuk mengeringkan produk sherpa adalah dengan cara
diangin-anginkan.
Bagian berbulu tidak boleh terkena panas setrika secara
langsung. Jika perlu merapikan, gunakan uap dengan jaga jarak aman atau hanya
perlu setrika bagian luar yang tidak berbulu dengan suhu rendah.
Saat tidak digunakan, simpan jaket atau produk sherpa di
tempat yang kering dan memiliki sirkulasi udara baik. Hindari menekan atau
menumpuk terlalu rapat agar teksturnya tetap mengembang.
Itu dia karakteristik, kelebihan
serta tips merawat pakaian berbahan Sherpa. Pada akhirnya, bahan berbulu ini selalu
bisa diandalkan untuk memberi kenyamanan, kehangatan teknis, serta tampilan
yang stylish.
Apa Itu Perfumery? Sejarah dan Perkembangannya dari Masa ke Masa
Lebih dari Sekadar Gaya: Membongkar Aturan Fashion "Ketat" Para Wanita Kerajaan Eropa
Nggak Cuma Bikin Tenang, Ini 7 Manfaat Outfit Repeater
Busana Plague Doctor: Kostum Paling Ikonik (dan Paling Menyeramkan) dalam Sejarah Medis
Mengenal Kain Sherpa, Bahan Andalan untuk Outdoor Wear dan Pakaian Musim Dingin
Sejarah Levi’s, Brand Jeans Paling Legendaris di Dunia
Supermodel: Dari Ikon Abadi sampai Era Nepo Baby — Kenapa Definisinya Kini Berubah?
5 Jenis Bahan Pakaian yang Pantang Disetrika
Cara Merawat Dompet Kulit Sintetis Agar Tidak Mudah Cracking
Sepatu Mary Jane dan Pesonanya yang Tak Pernah Usang