Di antara berbagai aksesori leher
pria, ascot sering berada di wilayah
abu-abu: dikenal, tapi jarang benar-benar dipahami. Ia bukan dasi kantor, bukan
pula syal kasual. Bentuknya lembut, cara pakainya tidak kaku, namun kesan yang
dihasilkan justru sangat refined.
Ascot adalah jenis aksesori yang langsung memberi sinyal bahwa pemakainya punya
selera—tanpa perlu terlihat terlalu formal atau berlebihan.
Meski kerap diasosiasikan dengan
gaya bangsawan, karakter film klasik, atau estetika vintage Eropa, ascot sebenarnya adalah bagian penting dari evolusi menswear. Ia lahir dari sejarah panjang,
bertahan melewati perubahan zaman, dan kini menemukan kembali relevansinya
dalam fashion modern.
Apa Itu
Ascot dalam Konteks Fashion?
Sumber: https://i.pinimg.com/
Ascot adalah aksesori leher berbentuk kain lebar dengan ujung tumpul atau membulat,
dikenakan di dalam kerah kemeja, bukan menjuntai bebas seperti necktie (dasi). Ascot biasanya dilipat,
disilangkan di bagian depan leher, lalu ujungnya diselipkan ke dalam kemeja
sehingga menciptakan tampilan rapi namun santai.
Berbeda dari dasi yang mengandalkan
struktur dan simpul yang presisi, ascot justru menonjolkan kelembutan material
dan keluwesan bentuk. Karena itulah, ascot sering dianggap sebagai simbol gaya yang tidak terburu-buru—elegan tanpa
terlihat kaku.
Sejarah
Ascot: Dari Cravat hingga Leisurewear Aristokrat
Untuk memahami ascot, kita perlu
mundur ke abad ke-17. Saat itu, aksesori leher yang dikenal sebagai cravat mulai populer di Eropa,
terinspirasi dari cara berpakaian tentara Kroasia. Cravat kemudian diadopsi
oleh bangsawan Prancis dan Inggris, menjadi simbol status sekaligus gaya.
Memasuki abad ke-18 dan ke-19,
cravat berkembang ke berbagai bentuk dan teknik pemakaian. Di Inggris, salah
satu bentuk yang paling populer adalah ascot—aksesori leher yang lebih santai,
nyaman, dan cocok untuk acara sosial siang hari. Ascot banyak dikenakan oleh
pria kelas atas dalam konteks leisure:
pesta taman, pertemuan sosial, hingga
liburan.
Dari sinilah ascot mendapatkan
reputasinya sebagai aksesori aristokrat,
bukan karena kemewahan berlebihan, tetapi karena kesan ease dan kontrol diri yang ia tampilkan.
Perbedaan
Ascot, Cravat, dan Necktie
Meski sering dianggap sama, ascot, cravat, dan necktie
sebenarnya memiliki perbedaan yang cukup jelas, baik secara historis maupun
fungsional. Cravat adalah istilah
paling tua dan paling luas—ia merupakan payung besar bagi hampir semua aksesori
leher pria sebelum munculnya bentuk modern. Pada masanya, cravat merujuk pada
kain yang dililitkan di leher dengan berbagai gaya ikatan, tanpa standar baku.
Dari cravat inilah kemudian lahir
turunan yang lebih spesifik. Ascot
dapat dipahami sebagai versi cravat yang lebih santai dan dekoratif: bentuknya
lebar, bahannya lembut, dikenakan di dalam kerah kemeja, dan tidak dirancang
untuk menjuntai panjang. Ascot menekankan kenyamanan dan estetika, bukan
struktur.
Sementara itu, necktie atau dasi modern adalah hasil evolusi paling formal dan
fungsional—lebih sempit, lebih panjang, dengan simpul yang jelas dan posisi
yang terstandarisasi, sangat cocok untuk konteks profesional dan formal.
Jika cravat adalah asal-usulnya,
ascot mewakili gaya leisure dan aristocratic ease, sedangkan necktie mencerminkan disiplin dan
formalitas dunia modern.
Cara
Memakai Ascot
Ascot biasanya dikenakan bersama
kemeja berkerah yang dibuka satu atau dua kancing. Kain ascot dililitkan
mengelilingi leher, disilangkan di bagian depan, lalu ujungnya dilipat dan
diselipkan ke dalam kemeja. Tidak ada bagian yang menjuntai panjang seperti
dasi.
Tidak seperti necktie, ascot tidak menuntut kesempurnaan bentuk. Justru lipatan
yang sedikit longgar dan jatuh alami menjadi bagian dari daya tariknya.
Beberapa orang menambahkan pin kecil sebagai aksen, sementara yang lain
membiarkannya polos agar terlihat lebih effortless.
Ascot dalam
Fashion Modern
Sumber: https://id.pinterest.com/
Meski berakar dari tradisi lama,
ascot tidak pernah benar-benar menghilang. Ia hanya berpindah panggung. Dalam
dunia fashion modern, ascot sering muncul dalam editorial menswear, runway
bertema vintage revival, hingga gaya resort dan summer tailoring.
Ascot kini sering dipadukan dengan
blazer ringan, jas tanpa dasi, kemeja linen, atau bahkan outer kasual yang
rapi. Di sini, ascot tidak lagi menjadi simbol kelas sosial tertentu, melainkan
penanda selera personal dan keberanian bereksperimen dengan gaya klasik.
Filosofi di
Balik Ascot
Ascot merepresentasikan filosofi
bahwa keanggunan tidak selalu harus kaku. Ia mengajarkan bahwa gaya bisa tetap
sopan tanpa terasa membatasi, dan klasik tanpa harus terlihat kuno. Ascot
berada di tengah-tengah—antara formal dan kasual, antara tradisi dan kebebasan.
Bagi pemakainya, ascot adalah
bentuk kepercayaan diri yang tenang. Ia tidak berteriak untuk diperhatikan,
tetapi selalu terlihat bagi mereka yang peka terhadap detail.
Mengapa
Ascot Tetap Relevan?
Di era ketika fashion pria semakin
santai dan personal, ascot justru menemukan momentumnya kembali. Ia menjadi
alternatif bagi pria yang ingin tampil rapi tanpa kesan terlalu “kantoran”,
klasik tanpa terlihat ketinggalan zaman, dan elegan tanpa harus tunduk pada
aturan formal yang kaku.
Ascot bukan tren sesaat. Ia adalah
aksesori lintas generasi—lahir dari sejarah, beradaptasi dengan zaman, dan
tetap hidup melalui interpretasi modern.
Sudah Dicuci Bersih tapi Warnanya Menguning? Cek Cara Menyimpan Baju Putihmu
Ascot: Aksesori Leher Klasik yang Lebih Santai dari Dasi, Lebih Elegan dari Sekadar Scarf
TikTok Shop by Tokopedia Rilis Program Fashion Playground, Apa Manfaatnya?
Mirip Kulit Asli, Ini Ciri Khas, Kelebihan, Kekurangan, Serta Pemanfaatan Bahan Oscar
Prediksi Tren Menswear 2026, Dari Poetcore hingga Rugged Luxury
Power Dressing: Cara Berpakaian yang Bentuk Kepercayaan Diri dan Profesionalitas
Fascinator: Topi Mini yang Punya Sejarah Panjang dan Aura Bangsawan
Sneakerina, Sepatu “Setengah Sneakers Setengah Balerina” yang Curi Perhatian
Sejarah Dowa Bag, Tas Rajut Handmade Indonesia yang Menembus Pasar Global
Bukan Cuma Outfit, Ini 7 Kebiasaan yang Bikin Kamu Terlihat Elegan