Di balik sepasang sepatu lari yang empuk dan ringan saat menapak, ada satu teknologi penting yang sering jadi penentu kenyamanan yaitu cushioning. Sebuah sistem bantalan dalam konstruksi sepatu yang berfungsi menyerap benturan sekaligus memberi respons saat kaki menyentuh tanah.
Bagi pelari pemula maupun profesional, cushioning bukan sekadar soal nyaman atau tidak. Tetapi berkaitan langsung dengan performa, efisiensi langkah, hingga risiko cedera. Lalu, sebenarnya apa itu cushioning? Dan mengapa ia begitu krusial dalam sepatu lari modern?
Secara sederhana, cushioning adalah sistem bantalan yang umumnya terletak pada bagian midsole (lapisan tengah sepatu). Bagian inilah yang bekerja keras menyerap tekanan setiap kali kaki menghantam permukaan.
Saat seseorang berlari, tekanan yang diterima kaki bisa mencapai dua hingga tiga kali berat badan. Tanpa bantalan yang memadai, tekanan tersebut akan langsung diteruskan ke sendi, lutut, hingga punggung bawah. Di sinilah cushioning berfungsi sebagai “peredam kejut”.
Material yang digunakan untuk cushioning terus berkembang. Jika dulu sepatu lari banyak menggunakan busa EVA (ethylene-vinyl acetate), kini banyak brand menghadirkan teknologi foam yang lebih ringan, lebih responsif, dan memiliki daya pantul lebih baik. Beberapa bahkan menggabungkannya dengan pelat karbon untuk meningkatkan efisiensi energi.
Bantalan alias cushion sepatu memegang peranan besar dalam menciptakan sensasi stabil dan nyaman saat berlari, terutama dalam jarak menengah hingga jauh. Berikut beberapa alasan utamanya:
Setiap langkah lari menghasilkan impact yang cukup besar. Cushioning membantu meredam benturan tersebut sehingga tekanan tidak langsung diteruskan ke tulang dan sendi. Hal ini sangat penting bagi pelari yang rutin berlatih di permukaan keras seperti aspal atau beton.
Bantalan yang tepat dapat membantu menurunkan risiko cedera akibat overuse, seperti shin splints, plantar fasciitis, atau nyeri lutut. Meski bukan satu-satunya faktor pencegah cedera, cushioning yang baik dapat meminimalkan tekanan berlebih pada titik-titik tertentu di kaki.
Teknologi cushioned modern tidak hanya empuk, tetapi juga responsif. Artinya, setelah menyerap benturan, material akan memberikan “energy return” atau dorongan balik yang membantu langkah berikutnya terasa lebih ringan.
Inilah alasan mengapa sepatu lari masa kini tidak lagi sekadar empuk, tetapi juga terasa “memantul”.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren menunjukkan penggunaan foam berbasis teknologi tinggi yang lebih ringan namun tetap tahan lama. Desain rocker (lekukan pada sol) juga dipadukan dengan cushioning untuk menciptakan transisi langkah yang lebih mulus.
Tak sedikit produsen yang juga mulai memperhatikan aspek keberlanjutan dengan menghadirkan bantalan berbahan ramah lingkungan tanpa mengorbankan performa. Perkembangan ini menunjukkan bahwa cushioning bukan lagi sekadar fitur tambahan, melainkan elemen utama dalam desain sepatu lari modern.
Cushioning umumnya dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan tingkat ketebalan serta impact dari penggunaannya.
Jenis ini memiliki bantalan tipis dan memberikan sensasi lebih dekat dengan permukaan tanah (ground feel). Biasanya digunakan oleh pelari yang menginginkan kontrol dan fleksibilitas lebih tinggi.
Merupakan pilihan paling umum. Memberikan keseimbangan antara bantalan, stabilitas, dan responsivitas. Cocok untuk pelari harian dengan berbagai jenis latihan.
Dikenal dengan midsole tebal dan empuk. Dirancang untuk menyerap benturan secara maksimal, terutama pada lari jarak jauh. Jenis ini banyak diminati karena memberikan kenyamanan ekstra, terutama bagi pelari dengan berat badan lebih tinggi atau yang sering berlari di permukaan keras.
Memasuki tahun 2026, tren sepatu maximalist (full cushion) dengan sol tebal namun sangat ringanmasih mendominasi pasar. Brand-brand besar kini berlomba memadukan cushioning tebal dengan pelat karbon (carbon plate) di tengahnya. Menghasilkan sepatu yang tidak hanya melindungi kaki dari kelelahan otot, tetapi juga secara aktif "mendorong" pelari untuk bergerak lebih cepat.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa "lebih empuk tidak selalu lebih baik". Pelari dengan kecenderungan overpronasi (kaki yang bergulir terlalu jauh ke dalam) mungkin membutuhkan bantalan yang lebih stabil daripada sekadar empuk untuk menghindari risiko cedera plantar fasciitis.
Memilih sepatu lari dengan cushioning yang sesuai sebaiknya disesuaikan dengan beberapa faktor, antara lain:
• Jenis lari (jarak pendek, jarak jauh, atau kompetisi)
• Permukaan lari (aspal, treadmill, trail)
• Berat badan dan gaya berlari
• Preferensi kenyamanan pribadi
Tidak semua pelari membutuhkan bantalan paling tebal. Beberapa justru merasa lebih nyaman dengan cushioning sedang karena memberikan kontrol yang lebih baik. Oleh karena itu, mencoba langsung dan memahami kebutuhan pribadi menjadi langkah penting sebelum membeli.
Cushioning, Rahasia di Balik Sepatu Lari yang Nyaman
Kenapa Gaya Fashion Harus Diberi Nama, Padahal Bajunya Mirip-Mirip?
Icy Blue Warnai Tren Fashion Musim Dingin 2026
Kisah Sepatu Piero, Brand Asal Yogyakarta yang Sering Dikira Merek Italia
Kain Voal, Solusi Kantong Saku yang Ringan, Nyaman dan Tahan Lama
Hati-hati Ghost Stores: Penipuan Toko Fashion Online yang Semakin Sulit Dibedakan
Tren Fashion yang Sebenarnya Lahir dari Kesalahan (dan Kenapa Dunia Menerimanya)
Kenapa Kita Lebih Percaya Diri Pakai Outfit Lama daripada yang Baru?
Teknologi Vulkanisasi, Rahasia Dibalik Daya Tahan dan Fleksibilitas Sneakers Legendaris
Pakaian Longgar vs Ketat: Sejarah Moral, Agama, dan Cara Tubuh Dikontrol Lewat Busana