Punya sepatu kulit favorit memang
menyenangkan. Selain tampilannya yang elegan dan mudah dipadukan dengan beragam
gaya, sepatu kulit juga awet jika cara merawatnya tepat. Banyak orang akhirnya
menjadikan satu pasang sepatu kulit sebagai alas kaki andalah untuk berbagai
rutinitas. Mulai dari bekerja, menghadiri acara formal, hingga jalan-jalan
santai setiap hari.
Meski terlihat ‘baik-baik saja,’ sepatu
kulit sebenarnya tidak dirancang untuk dipakai terus-menerus, lho. Kenapa
demikian? Simak ulasan berikut ini, yuk!
Sepatu kulit, sering dianggap
sebagai salah satu investasi terbaik dalam dunia fashion. Karakteristik material
yang fleksibel dan breathable, membuatnya
lebih nyaman sekaligus awet dibandingkan sepatu lain. Tidak heran jika banyak
orang rela mengeluarkan biaya lebih untuk memilikinya.
Karena hal itu pula, banyak orang
menganggap bahwa makin sering dipakai, makin maksimal pula pemanfaatnya. Padahal
sama seperti tubuh manusia yang butuh istirahat setelah beraktivitas, sepatu
kulit juga perlu jeda untuk "bernapas" dan memulihkan kondisinya. Para
pengrajin sepatu, kolektor, hingga pecinta alas kaki premium menyarankan agar
sepatu ini tidak dipakai secara terus-menerus tanpa jeda.

Anjuran untuk mengistirahatkan sepatu kulit mungkin terdengar berlebihan. Padahal, ini merupakan bentuk perawatan paling sederhana yang dapat memperpanjang usia pakai sepatu kulit.
Selain itu, berikut beberapa
alasan paling masuk akal kenapa sepatu kulit perlu diistirahatkan setelah
dipakai seharian:
1.
Sepatu
Kulit Menyerap Kelembapan Selama Dipakai
Sebagai material alami, kulit hewan memiliki sifat yang sangat mirip
dengan kulit manusia, berpori, mudah bernafas (breathable) dan mampu menyerap kelembapan. Ia akan menyerap
keringat dan panas dari kaki, serta menciptakan sensasi yang nyaman.
Namun, karena sifat itulah material kulit butuh waktu agar bisa
melepaskan kandungan air berlebih yang tersimpan di dalam seratnya. Proses
pengeringan alami tidak akan maksimal jika sepatu langsung digunakan lagi
keesokan harinya. Kelembapan yang terus menumpuk bisa membuat bagian dalam
sepatu menjadi lembap, kurang nyaman, dan berbau kurang sedap.
2.
Memberikan
Kesempatan bagi Kulit untuk "Bernapas"
Bayangkan selembar kulit yang terus ditekuk dan
ditekan sepanjang hari. Kurang lebih itulah yang terjadi pada sepatu kulit
ketika digunakan berjalan, berdiri, naik tangga, atau melakukan aktivitas lain.
Selama pemakaian, material kulit akan mengikuti bentuk
gerakan kaki dan mengalami banyak lipatan, terutama pada area punggung kaki. Meski
tak bisa dihindari, mengistirahatkannya selama beberapa waktu bisa membantu material
kulit untuk kembali ke kondisi yang lebih stabil. Sehingga struktur dan
fleksibilitasnya bisa lebih terjaga.
3.
Mengurangi
Risiko Bau Tidak Sedap
Kamu ‘ngeuh’
ngga sih, kalau sepatu lebih mudah berbau kalau dipakai berhari-hari dan
berturut-turut? Kondisi ini sebenarnya berkaitan erat dengan kelembapan yang
terperangkap di dalam sepatu. Karena bagian tersebut adalah area ideal bagi
pertumbuhan mikroorganisme seperti jamur dan bakteri. Ketika bakteri mulai
memecah keringat dan sel kulit mati yang menempel di bagian dalam sepatu,
muncullah aroma tidak sedap yang sering mengganggu.
Membiarkan
sepatu di rak terbuka selama satu hari bisa membantu mengurangi sisa kelembapan.
Dengan sirkulasi udara yang cukup, bagian dalam sepatu dapat mengering secara
alami sehingga pertumbuhan bakteri jadi lebih terkendali.
4.
Membantu
Mempertahankan Bentuk Sepatu
Selain mempengaruhi kenyamanan, penggunaan sepatu
tanpa jeda juga dapat berdampak pada penampilannya. Sepatu kulit yang
terus-menerus digunakan cenderung lebih cepat menunjukkan tanda-tanda keausan
seperti kerutan yang dalam, bentuk yang berubah, atau bagian tertentu yang
terlihat turun.
Hal itu karena kulit tidak memiliki cukup waktu untuk
memulihkan diri setelah mengalami tekanan sepanjang hari. Hanya dengan memberi
waktu istirahat, material bisa beradaptasi dan mempertahankan bentuknya dengan
lebih baik. Makin maksimal lagi kalau kamu meletakkan shoe tree atau penyangga sepatu.
5.
Membuat
Umur Pakai Sepatu Menjadi Lebih Panjang
Pada akhirnya, semua manfaat tersebut bermuara pada
satu hal, yaitu memperpanjang usia pakai sepatu. Material kulit yang punya
waktu istirahat, mengering dan kembali stabil akan mengalami tingkat keausan
yang lebih rendah dibandingkan kulit yang dipakai setiap hari. Risiko kulit
mengeras, retak, atau kehilangan fleksibilitasnya pun menjadi lebih kecil.
Karena alasan inilah banyak penggemar sepatu kulit
menyarankan sistem rotasi. Tak perlu banyak koleksi, cukup dua atau tiga pasang
saja sudah dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap daya tahan
masing-masing sepatu.

Mengistirahatkan sepatu
sebenarnya tidak sulit. Setelah digunakan, lepaskan sepatu dan simpan di tempat
yang memiliki sirkulasi udara baik. Hindari langsung memasukkannya ke dalam
kotak tertutup saat kondisi bagian dalam masih lembap.
Sebelum disimpan, bersihkan debu
dan kotoran yang menempel pada permukaan sepatu. Jika memungkinkan, gunakan
shoe tree berbahan kayu untuk membantu menyerap kelembapan sekaligus menjaga
bentuk sepatu tetap ideal.
Yang tidak kalah penting, hindari
menjemur sepatu kulit di bawah sinar matahari langsung. Panas berlebihan justru
dapat membuat kulit kehilangan kelembapan alaminya dan lebih mudah retak.
Pada akhirnya, meskipun sepatu
kulit dirancang untuk tahan lama, daya tahannya tetap dipengaruhi oleh penggunaan
serta cara perawatannya. Termasuk memberikan waktu istirahat setelah digunakan.
Meski terdengar sederhana, kebiasaan ini membantu mengurangi kelembapan, mencegah bau tidak sedap, menjaga bentuk sepatu, sekaligus memperpanjang usia pakainya. Jadi, resetlah kebiasaan lamamu memakai satu pasang sepatu kulit yang sama setiap hari dan mulai terapkan sistem rotasi penggunaan.
So, udah tau kan alasan kenapa sepatu kulit sebaiknya tidak dipakai tiap hari? Semoga pengetahuan ini bermanfaat, ya!
Apa Itu Kupnat? Fungsi, Jenis, dan Perannya dalam Busana
Praktis dan Modern, Tapi Kenapa Kancing Magnet Tidak Pernah Jadi Standar Fashion?
Jangan Dipakai Setiap Hari! Ini 5 Alasan Kenapa Sepatu Kulit Perlu Diistirahatkan
Benarkah Polyester Lebih Mudah Sebabkan Bau Badan? Ini Fakta Ilmiahnya!
Kode Rahasia di Balik Kipas Tangan: Benarkah Dulu Orang Berkirim Pesan Cinta Lewat Kipas?
Sofa angin, worth it kah untuk dibeli? Cek ulasannya, yuk!
Dari Wisata Alam ke Kain Batik, Tumpak Sewu Siap Jadi Bagian dari Wastra Khas Lumajang
Panduan Mencuci Pakaian Olahraga Agar Tetap Awet dan Bebas Bau
AI dan Janji Produksi Tanpa Limbah, Bagaimana Implementasinya?
Mengenal Kain Ramilook: Pengertian, Karakteristik dan Penggunaanya