Coba perhatikan legging yang kamu
pakai saat olahraga pagi ini. Ditarik, ditekuk, dipakai squat berkali-kali,
tapi begitu dilepas, kainnya kembali ke bentuk semula seolah tidak terjadi
apa-apa. Hal yang sama berlaku pada pakaian dalam, kaus kaki kompresi, sampai
celana jeans yang tetap nyaman dipakai duduk seharian. Semua kenyamanan itu
bukan kebetulan. Ada rangkaian proses tekstil yang cukup rumit di baliknya.
Bukan cuma untuk pakaian
olahraga, tapi juga fashion sehari-hari yang menuntut kenyamanan ekstra. Lantas,
kenapa satu jenis kain bisa melar sementara kain lain tetap kaku? Simak ulasan
berikut ini, yuk!.

Kunci utama kain yang bisa melar (stretch) terletak pada satu jenis serat yaitu elastomer. Di dunia tekstil, serat ini lebih
dikenal dengan nama spandeks atau elastane. Merek dagang yang paling populer
tentu saja Lycra, sampai-sampai banyak orang menyebut kain stretch sebagai
"kain lycra" meski sebenarnya itu nama brand, bukan nama serat. Pembuatan
serat spandeks ini melewati dua tahap penting:
·
Polimerisasi. Bahan kimia poliuretan
makrogliol dicampur dengan diisosianat, membentuk rantai polimer panjang yang
punya sifat khas: elastis dan bisa meregang jauh melebihi panjang aslinya.
·
Ekstrusi. Larutan polimer yang sudah
terbentuk kemudian ditekan melalui alat cetak khusus bernama spinneret —
semacam saringan dengan lubang-lubang sangat halus. Dari proses inilah keluar
untaian benang filamen spandeks yang tipis dan siap diolah lebih lanjut.
Tanpa dua tahap ini, tidak akan ada serat yang punya kemampuan meregang hingga beberapa kali lipat dari panjang normalnya, lalu kembali ke bentuk semula.

Ada satu masalah dengan spandeks
murni: teksturnya cenderung lengket dan kurang nyaman kalau langsung
bersentuhan dengan kulit. Karena itu, pabrik tekstil hampir tidak pernah
menenun spandeks sendirian. Serat ini biasanya digabung dulu dengan serat lain seperti
katun, nilon, atau poliester lewat proses yang disebut yarn engineering, atau
rekayasa benang.
Ada tiga pendekatan yang umum
dipakai:
·
Core-spun yarn — serat elastis
diposisikan di bagian inti (tengah), lalu dibungkus rapat oleh serat luar
seperti katun atau wol. Metode ini paling banyak dipilih karena permukaan
luarnya tetap terasa lembut dan nyaman di kulit, sementara sifat melarnya
tersembunyi di dalam.
·
Covered yarn — benang elastis diregangkan
terlebih dahulu, kemudian dililit secara heliks (memutar) oleh benang
konvensional. Teknik ini sering ditemukan pada kaus kaki atau pakaian medis
kompresi yang butuh tekanan merata.
·
Intermingled yarn — benang elastis dan
benang biasa disatukan menggunakan tekanan udara bertekanan tinggi, sampai
serat-seratnya saling mengunci satu sama lain.
Pemilihan metode ini bukan asal-asalan karena menghasilkan karakter kain yang berbeda, tergantung produk akhir yang ingin dibuat.

Setelah benang elastis siap,
tahap berikutnya adalah menentukan bagaimana benang itu dibentuk menjadi kain.
Di sinilah muncul dua pendekatan besar yang hasilnya cukup berbeda.
Rajutan adalah metode paling umum untuk menghasilkan
tekstil elastis. Bayangkan struktur rajutan seperti rantai kecil yang saling
mengunci membentuk lingkaran demi lingkaran (loop). Karena bentuknya berupa loop yang fleksibel, kain rajut
secara alami sudah punya kemampuan melar ke segala arah dikenal dengan istilah 4-way stretch. Bahkan kalau benang yang
dipakai sebenarnya tidak terlalu elastis.
Inilah alasan kenapa sebagian besar pakaian olahraga,
legging, dan pakaian dalam menggunakan kain rajut: fleksibilitasnya jauh lebih
tinggi dan mengikuti gerak tubuh dengan baik.
Berbeda dengan rajutan, kain tenun secara alami
bersifat kaku karena benangnya saling menyilang lurus, bukan membentuk loop.
Supaya kain tenun bisa melar, misalnya untuk membuat celana jeans stretch atau
denim melar. Pabrik harus sengaja menyisipkan benang elastis pada bagian
lungsin (arah vertikal) atau pakan (arah horizontal) saat proses menenun
berlangsung.
Hasilnya biasanya berupa 2-way stretch, yaitu kain yang melar ke satu arah saja. Cocok untuk
produk yang butuh sedikit kelenturan tanpa kehilangan struktur kaku khas tenun,
seperti chino stretch atau jeans
skinny.
Membuat tekstil elastis ternyata melibatkan kombinasi ilmu
kimia polimer dan keahlian teknik tekstil yang cukup presisi — mulai dari
pemilihan serat elastomer, rekayasa benang, sampai penentuan struktur rajut
atau tenun. Kombinasi yang tepat dari ketiganya menghasilkan kain yang tidak
hanya fleksibel, tapi juga tahan lama dan nyaman dipakai sehari-hari.
Kirain Nama Mas-Mas Jawa, Ternyata Raksasa Benang yang Memasok Baju di Lemari Kamu!
Bagaimana Kain Stretch Dibuat?
Fenomena “2026 is The New 2016,” Kenapa Gaya Satu Dekade Lalu Tiba-tiba Muncul Lagi?
Aturan Memakai Jas yang Benar, Pria Wajib Tahu, Nih!
Kembalinya Celana Capri: Dulu Dihujat Ketinggalan Zaman, Kenapa Sekarang Dipakai Semua Selebriti?
History Kemeja Profesional Legendaris, Hugo BOSS
Fashion Alternatif: Dari Pinggiran Jalan ke Etalase Brand Besar
Seam Allowance, Panduan Menentukan Lebar Kampuh pada Pakaian
Siapa Akui Benda Ini? Sejarah Hanger Baju yang Ternyata Melibatkan Presiden AS dan Insiden Kekesalan Pekerja!
Strategi Marketing Mix 4P dan 7P, Racikan Baru Untuk Kelangsungan Bisnismu!