‘YSL,’ salah satu monogram yang paling dikenal di dunia fashion luxury. Tiga huruf yang saling bertautan ini begitu mudah dikenali, bahkan ketika nama Saint Laurent tidak dituliskan secara lengkap. Di balik, logo ikonik ini ada sosok desainer legendaris kota Paris, Yves Saint Laurent, yang namanya telah menjadi bagian penting dari sejarah fashion modern
Selama lebih dari enam dekade, YSL berkembang melampaui dunia haute couture. Rumah mode ini juga merambah ke lini busana ready-to-wear, tas, sepatu, aksesori, hingga produk kecantikan.

YSL atau dikenal dengan nama Saint Laurent adalah rumah mode mewah asal Prancis yang paling berpengaruh dalam sejarah fashion modern. Brand ini
didirikan oleh perancang busana Yves Saint Laurent dan Pierre Bergé pada 1961
di Paris.
Nama Saint Laurent sendiri berasal dari nama belakang pendirinya, Yves
Saint Laurent. Sebelum menggunakan nama Saint Laurent secara penuh sebagai
identitas brand, rumah mode ini dikenal dengan nama Yves Saint Laurent, yang
kemudian sering disingkat menjadi YSL.
Saint Laurent dikenal lewat gaya busana yang memadukan tailoring yang
tajam, siluet elegan, dan sentuhan feminin-maskulin. Salah satu kontribusi
terbesarnya terhadap fashion adalah memperkenalkan le smoking, yaitu tuxedo
atau setelan bergaya pria yang dirancang khusus untuk perempuan.
Selain memproduksi pakaian, rumah mode tersebut memiliki berbagai lini
produk, seperti:
·
Ready-to-wear untuk perempuan dan laki-laki
·
Tas dan
aksesori
·
Sepatu
·
Perhiasan
·
Produk
kecantikan dan parfum
Tas dan aksesori menjadi bagian penting dari identitas komersial Saint
Laurent. Logo YSL yang khas juga membuat sejumlah produknya mudah dikenali
meskipun dilihat tanpa mengetahui nama koleksinya.

Sumber: https://phantomag.com/
Lahir pada 1 Agustus 1936 di Oran, Aljazair, Yves Henri Donat Mathieu-Saint-Laurent kecil sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia fashion karena kegemarannya membuat sketsa busana. Di usia ke-17 tahun,
ia pindah ke Paris untuk mendalami dunia couture.
Bakat tersebut membawa Yves bergabung
dengan Dior tahun 1955 saat usianya masih 19 tahun. Ia kemudian dipercaya
menjadi artistic director rumah mode
tersebut setelah Christian Dior meninggal pada tahun 1957.
Pengalaman tersebut menjadi bekal
penting bagi Yves. Namun, dedikasi dan kreativitas yang radikal mendorongnya menciptakan
YSL sebagai wadah untuk mengekspresikan ide-ide yang melawan batasan norma
sosial.
Di tahun yang sama, seniman
grafis Prancis, Adolphe Jean-Marie Mouron (dikenal sebagai Cassandre),
merancang logo monogram YSL yang
saling bertautan. Logo tersebut tetap menjadi salah satu simbol kemewahan
paling ikonis di dunia hingga detik ini.
Koleksi debut YSL yang
diperkenalkan pada Januari 1962 langsung memanen pujian kritikus internasional.
Alih-alih mendikte apa yang harus dipakai, Yves mendengarkan apa yang
dibutuhkan perempuan modern yang mulai aktif bergerak di ruang publik.

Sumber: https://teyxo.com/l
Jika ada satu alasan mengapa YSL
begitu dihormati, itu adalah keberaniannya mendobrak batas-batas pakaian
berbasis gender pada era 1960-an dan 1970-an. Yves Saint Laurent mengambil
elemen maskulin dari lemari pakaian pria dan menyulapnya menjadi siluet pakaian
wanita yang berdaya, bebas, namun tetap elegan.
Di saat dunia menuntut perempuan
tampil dalam batasan gaun-gaun kaku, YSL hadir membawa potongan siluet
androgini yang lebih bebas. Tahun 1966
tercatat sebagai salah satu momen paling krusial dalam sejarah mode modern
melalui dua gebrakan utama YSL, yaitu:
Dimana YSL memperkenalkan Le Smoking, setelan
tuksedo pria yang didekonstruksi khusus untuk anatomi wanita. Di era tersebut,
restoran-restoran mewah di New York bahkan sempat melarang wanita masuk jika
mereka mengenakan celana panjang. Le Smoking bukan sekadar pakaian; itu
adalah simbol kekuatan, seksualitas yang elegan, dan penentangan politik
gender.
Pada tahun yang sama, Yves membuka butik Saint Laurent
Rive Gauche di Left Bank, Paris. Ini adalah langkah eksperimental pertama
di mana seorang desainer haute couture memproduksi lini pakaian siap pakai (ready-to-wear)
premium berskala massal. Langkah ini mengubah total model bisnis mode mewah
dunia hingga hari ini.
Langkah tersebut menjadi bagian
penting dari perubahan industri fashion karena memperlihatkan bahwa desain
rumah couture dapat diterjemahkan ke dalam pakaian siap pakai yang lebih dekat
dengan kehidupan sehari-hari.
Kesuksesan YSL di dunia
fashion kemudian diikuti dengan ekspansinya ke industri wewangian. Pada 1964, Yves Saint Laurent meluncurkan
parfum pertamanya, Y.
Beberapa tahun kemudian, lahir
salah satu parfum paling terkenal dalam sejarah brand, yaitu Opium pada 1977. Nama dan kampanye
parfum tersebut sempat menimbulkan kontroversi, tetapi justru membantu
memperkuat citra YSL sebagai brand yang berani mengambil pendekatan berbeda
dalam industri luxury.
Ekspansi tersebut berkembang menjadi YSL Beauté,
yang mencakup produk kosmetik serta perawatan kecantikan. Berbeda dengan lini
fashion yang kini menggunakan nama Saint Laurent, divisi kecantikan tetap
mempertahankan nama Yves Saint Laurent
dan monogram YSL.
Perjalanan YSL sebagai entitas
bisnis sebenarnya sudah berubah arah jauh sebelum rebranding besar-besaran
terjadi. Pada November 1999, Gucci Group—yang
saat itu dimiliki oleh konglomerat Prancis PPR (berganti nama jadi Kering pada
2013)—mengakuisisi YSL. Sempat ada beberapa nama desainer yang mengisi kursi
direktur kreatif ready-to-wear.
Namun, perubahan besar terjadi setelah Kering menunjuk Hedi Slimane sebagai
direktur kreatif pada 2012.
Slimane dikenal punya visi kuat
soal estetika minimalis dan rock-and-roll, dan salah satu langkah paling berani
yang ia ambil adalah merombak total identitas visual brand. Termasuk logo dan
penamaan produk ready-to-wear dari
YSL yang disingkat menjadi "Saint Laurent Paris".
Sedangkan identitas korporasi global dan divisi kecantikan raksasa mereka ‘YSL Beauty,’ tetap mempertahankan nama lengkap sang pendiri serta logo monogram legendaris buatan Cassandre.
Sejak April 2016, tongkat estafet kreatif berpindah ke tangan Anthony Vaccarello, yang hingga kini masih memimpin arah desain Saint Laurent. Di bawah kendalinya, brand ini makin dikenal dengan siluet yang tegas, sensual, dan berani, sekaligus tetap menjaga DNA rock-chic yang dibangun Slimane sebelumnya.
Konsistensi desain serta
adaptasinya dengan tren Gen Z dan milenial, berhasil membawa YSL di puncak mode
mewah. Kolaborasinya bersama selebritas global dan duta merek dunia seperti Rosé BLACKPINK kian mengukuhkan posisinya
sebagai brand yang relevan, edgy, dan berkelas.
Yves Saint Laurent: Sejarah, Identitas dan Perkembangannya Saat Ini
What Would I Have Looked Like in the 80s? Tren AI yang Bikin Semua Orang Balik ke Masa Lalu
Broken White atau Putih Tulang? Kenali Bedanya Sebelum Salah Pilih!
Batik Kontemporer, Cara Baru Generasi Muda Hidupkan Wastra Nusantara
Jangan Pakai Semir Biasa, Ini Cara Merawat Sepatu Kulit Sintetis Biar Nggak Cepat Rusak
Kain TC vs TR, Apa Sih Bedanya?
Fashion Week Ternyata Punya Aturan Tak Tertulis: Dari Front Row sampai Siapa yang Bayar Tiket
Soda Ash, Fungsi dan Cara Menggunakannya untuk Pewarnaan Kain
Warna Pakaian yang Pantang Buat Kamu yang Gampang Berkeringat
Rahasia Di Balik Kacamata Hitam Selebriti: Alasan Kenapa Bikin Look Langsung Naik Kelas!