Kalau mendengar istilah fashion icon, nama-nama seperti Audrey
Hepburn, Marilyn Monroe, Jackie Kennedy, Princess Diana, hingga Rihanna mungkin
lebih cepat muncul di kepala. Sementara ketika membicarakan laki-laki, daftar
fashion icon terasa jauh lebih pendek. Padahal, bukan berarti laki-laki tidak
punya gaya yang ikonik. Justru beberapa di antaranya memiliki signature style yang begitu kuat
sampai-sampai kita bisa mengenali sosoknya hanya dari pakaian yang dikenakan.
Lalu, kenapa fenomenanya terasa
berbeda?
Fashion
Icon Bukan Sekadar Orang yang Berpakaian Bagus
Sumber: womenfitnessmag.com
Ada perbedaan antara seseorang yang
fashionable dengan seseorang yang
benar-benar menjadi fashion icon. Orang
fashionable bisa saja selalu tampil
mengikuti tren, mengenakan desainer ternama, atau memiliki selera berpakaian
yang bagus. Namun fashion icon
biasanya memiliki sesuatu yang lebih spesifik: identitas visual yang konsisten dan mudah dikenali.
Istilah yang cocok untuk
menggambarkannya adalah visual shorthand.
Beberapa elemen pakaian, aksesori, atau siluet tertentu begitu melekat pada
seseorang sehingga kita langsung mengingatnya meskipun wajahnya tidak terlihat.
Dan laki-laki sebenarnya punya banyak contoh menarik.
Baca juga: 6 Ikon Gaya Fashion yang Masih Menginspirasi Dunia Mode hingga Kini
James Dean
dan Seragam Sang Rebel
Sumber: www.gq-magazine.co.uk
Lihat saja James Dean dalam Rebel
Without a Cause. Kombinasi jaket merah, kaus putih, jeans, dan gaya
rambutnya menjadi salah satu gambaran paling kuat mengenai citra remaja
pemberontak tahun 1950-an. Gaya tersebut bahkan terus direferensikan dalam menswear hingga sekarang. (The
Guardian)
Menariknya, James Dean sendiri bukan
yang menciptakan kaus putih atau jeans. Ia juga bukan orang pertama yang
mengenakan jaket. Tetapi yang membuatnya ikonik adalah bagaimana elemen-elemen
sederhana tersebut menyatu dengan karakter, film, dan perubahan budaya anak
muda pada masanya. Jadi ketika melihat white
T-shirt, jeans, dan leather jacket
dalam kombinasi tertentu, kita tidak hanya melihat pakaian. Kita melihat sebuah
karakter: si rebel yang cool dan tidak terlalu peduli dengan
aturan.
Michael
Jackson dan Lahirnya Visual Signature
Sumber: ar.inspiredpencil.com
Kalau James Dean punya gaya yang
sederhana, Michael Jackson justru
berada di ujung yang berlawanan. Sarung tangan berpayet, jaket kulit merah,
fedora, kaus kaki putih, loafers
hitam, hingga jaket militer penuh ornamen menjadi bagian dari bahasa visualnya.
Museum dan arsip fashion juga mendokumentasikan berbagai jaket dan sarung
tangan ikonik yang digunakan Jackson sepanjang kariernya. (grammy museum)
Yang menarik, elemen tersebut terus
muncul dalam berbagai fase kariernya. British Vogue bahkan mencatat bahwa
sarung tangan, kaus kaki putih, loafers hitam, dan jaket militer menjadi
komponen yang relatif konsisten dalam gaya Jackson. (British
Vogue)
Di sinilah contoh perbedaan antara “Michael
Jackson adalah orang yang fashionable”
dan “Michael Jackson memiliki signature
style.” Satu elemen seperti jaket militer saja sudah cukup untuk
memunculkan asosiasi dengan dirinya.
Kurt
Cobain: Ikon dari Gaya yang Justru Terlihat Berantakan
Sumber: www.cortis.com
Contoh lainnya adalah Kurt Cobain, frontman band Nirvana. Kemeja flannel, jeans longgar, cardigan,
pakaian thrift, hingga dress menjadi bagian dari gaya grunge yang ia bawa ke arus utama. Vogue
bahkan menyebut pengaruh Cobain terhadap fashion dan bagaimana pakaiannya terus
menjadi referensi desainer. (Vogue)
Menariknya, kekuatan gaya Cobain
justru terletak pada kesan anti-fashion.
Ia tidak terlihat seperti seseorang yang berusaha keras tampil fashionable. Namun justru
ketidakteraturan tersebut menjadi identitas visual yang kemudian ditiru dan
dikomodifikasi oleh industri fashion. Ini menunjukkan bahwa menjadi fashion icon tidak selalu berarti
memakai pakaian mahal atau mengikuti tren. Kadang justru menolak aturan fashion
tertentu bisa menghasilkan identitas yang jauh lebih kuat.
Baca juga: Sering Lihat Gambar Smiley Face Ini? Kisah Logo Ikonik Nirvana di Kaos Dunia, Dari Grunge ke Grafis Global
Lalu,
Kenapa Fashion Icon Lebih Sering Perempuan?
Salah satu jawabannya bisa
ditelusuri jauh ke sejarah pakaian Barat. Pada akhir abad ke-18 dan awal abad
ke-19 terjadi perubahan besar dalam busana laki-laki yang sering disebut Great Masculine Renunciation. Pakaian
laki-laki kelas menengah dan atas di dunia Barat semakin meninggalkan warna
mencolok dan ornamen berlebihan, kemudian bergerak menuju tailoring yang lebih sederhana dan formal. Setelan akhirnya menjadi
bagian penting dari standar pakaian laki-laki. (Udesc
Journals)
Namun istilah ini perlu dibaca
secara hati-hati. Sejarawan fashion Chloe
Chapin menunjukkan bahwa perubahan tersebut bukan berarti laki-laki
benar-benar berhenti menggunakan pakaian sebagai ekspresi identitas. Salah satu
dampaknya justru adalah semakin kuatnya
asosiasi “fashion” dengan pakaian perempuan. (Taylor
& Francis Online)
Dengan kata lain, selama
berabad-abad fashion perempuan memperoleh ruang visual yang lebih luas untuk
bermain dengan siluet, warna, ornamen, aksesori, dan perubahan tren. Berbeda
dengan fashion laki-laki yang vocabulary-nya
secara historis lebih terbatas. Walau demikian, ironisnya, kondisi tersebut
justru membuat laki-laki lah yang berhasil menciptakan signature style menjadi sangat menonjol.
Jadi,
Apakah Fashion Icon Laki-Laki Memang Lebih Sedikit?
Belum tentu. Bisa jadi kita hanya lebih
jarang menggunakan label tersebut kepada laki-laki. Faktanya, tak sedikit ikon
fashion lelaki yang justru berhasil menciptakan fashion style yang sangat identik, hingga kita secara otomatis akan
mengasosiakan suatu look sebagai gaya
mereka.
·
James Dean tidak sekadar memakai jeans dan kaus putih.
Ia membantu menjadikan kombinasi tersebut sebagai simbol tertentu.
·
Michael Jackson tidak sekadar memakai sarung tangan
atau jaket militer. Ia mengubahnya menjadi bagian dari identitas visual yang
sangat mudah dikenali.
·
Kurt Cobain tidak sekadar memakai pakaian thrift dan flannel. Ia ikut membentuk bahasa visual grunge yang pengaruhnya
bahkan masuk kembali ke runway.
Itulah mengapa ukuran yang menarik bukanlah siapa yang paling
fashionable, melainkan siapa yang
memiliki gaya yang tetap bisa dikenali bahkan ketika wajahnya dihilangkan. Karena
pada titik itulah pakaian berhenti menjadi sekadar pakaian dan berubah menjadi identitas.
Mungkin itu pula alasan mengapa fashion
icon laki-laki yang benar-benar kuat justru sering terasa begitu memorable. Mereka tidak selalu punya
lemari pakaian paling eksperimental. Mereka punya sesuatu yang lebih sulit
dibuat: signature.
Baca juga: The Death of It Girl: Kenapa Ikon Fashion Tidak Lagi Tunggal di Era Digital
Rajutan Lusi vs Rajutan Pakan, Bagaimana Efeknya Pada Karakteristik Kain?
Kenapa Warna dan Karakteristik Kain Bisa Berubah Setelah Disetrika? Ini Penjelasannya
Pewarna Indanthrene: Pengertian, Cara Kerja, dan Penggunaannya
Bukan Cuma Indonesia! Menguak Misteri Seni Pewarnaan Rintang Lilin di Berbagai Belahan Dunia
Karpet Dalam Desain Interior: Fungsi, Jenis, dan Teknik Pembuatannya
Macam-Macam Istilah Toko Baju: Jangan Mengaku Pecinta Fashion Kalau Belum Tahu Bedanya Butik, Distro, dan Concept Store!
Seberapa Sering Harus Mencuci Matress Protector? Ini Penjelasannya!
Sagara Bootmaker, Rahasia Boots Handmade Indonesa yang Diburu Dunia
Bukan Sekadar Baju Rumah: Ketika Pakaian Longgar Jadi Fashion Statement