Sama-sama diproses dengan metode rajut (knitting), tapi arah rajutan benang bisa sangat menentukan karakteristik dan sifat kain yang dihasilkan, lho. Beberapa lebih gampang melar saat ditarik, namun sebagian yang lain bisa tetap kokoh dan stabil. Perbedaan tersebut berkaitan dengan bagaimana benang bergerak dan membentuk rangkaian loop. Apakah dia berjalan ke arah lusi (warp knitting) atau arah pakan (weft knitting).
Lantas, apa saja perbedaan kain
yang dibuat dengan rajutan lusi dan rajutan pakan? Simak ulasan berikut ini,
yuk!
Pada proses knitting, kain
dibentuk dari rangkaian jeratan benang (loop)
yang saling bertaut. Jeratan-jeratn tersebut kemudian disusun menjadi barisan
dan kolom. Dalam terminologi rajut, barisan loop
yang membentang ke arah horizontal dinamai course, sedangkan deretan loop
yang memanjang secara vertikal disebut wale.
Arah pembentukan lubang jeratan
inilah yang menjadi dasar pengelompokan kain rajut menjadi weft knitting (rajutan dari arah pakan) dan warp
knitting (rajutan dari arah
lusi). Pada weft knit, loop
terbentuk secara berurutan di course-wise. Sedangkan, loop pada warp knit dibentuk di wale-wise.
Weft knitting (rajut pakan) adalah metode pembentukan kain dengan cara membuat loop dari benang yang bergerak melintang mengikuti arah lebar kain.
Dalam proses ini, satu benang membentuk
rangkaian loop secara berurutan. Kemudian mesin membentuk loop baru dan
mengaitkannya dengan loop pertama untuk terbentuk lembaran kain. Weft knitting
dapat dilakukan menggunakan mesin rajut datar (flat knitting) maupun
mesin rajut bundar (circular knitting).
Hasilnya, berupa kain dengan
kemampuan meregang yang cukup tinggi. Sehingga bahan dengan konstruksi ini
kerap digunakan dalam produksi pakaian yang membutuhkan fleksibilitas dan kemampuan
mengikuti gerakan tubuh.
Baca Juga:
Rajutan 3D: Struktur, Teknik, dan Aplikasi dalam Tekstil Modern
Konstruksi rajutan pakan meliputi:
·
Single
jersey
·
Rib
·
Interlock
·
Purl
Tak seperti weft knit, teknik
rajut arah lusi (warp knit) menggunakan benang pembentuk panjang kain. Dari warp
beam, benang tersebut
diarahkan ke jarum lewat elemen pembentuk rajutan. Disini ratusan bahkan ribuan
benang benang ditarik dan diproses secara bersamaan sehingga loop terbentuk sepanjang lebar kain.
Deretan loop tersebut saling mengunci. Sehingga hasil kainnya memiliki stabilitas dimensi yang lebih tinggi dan
struktur jeratan yang kuat. Contoh konstruksi yang umum digunakan pada
rajutan arah lusi yaitu tricot
dan Raschel.
Kalau hanya melihat permukaannya,
perbedaan kedua kain tersebut mungkin tidak selalu mudah dikenali. Namun,
karakter keduanya akan lebih terasa ketika kain ditarik, dipotong, dicuci, atau
mengalami kerusakan.
Berikut penjelasan lengkapnya:
Perbedaan paling menonjol antara kain rajut lusi dan
pakan adalah kemampuan kain untuk
meregang.
Weft knit konstruksi sederhana cenderung memiliki extensibility lebih tinggi. Struktur
loop yang terbentuk secara berurutan membuat kain lebih mudah mengikuti arah tarikan.
Sementara, elastisitas
warp knit jauh lebih terkontrol. Kain dengan rajutan ini umumnya lebih
datar, rapat, dan kurang elastis. Namun, bukan berarti semua weft knit itu elastis
atau warp knit itu kaku. Karena, jenis benang, konstruksi loop, kerapatan
rajutan, serta penggunaan elastane tetap bisa mengubah sifat akhir kain secara
signifikan.
Lanjut ke dimensional stability atau stabilitas dimensi. Dalam hal
ini, kain dengan rajutan pakan bisa dibilang ‘kalah’ karena ia mudah berubah
bentuk saat mengalami tarikan atau perlakuan mekanis. Sebaliknya, dimensi kain
yang dibuat dengan teknik rajutan lusi cenderung stabil. Ideal untuk
produk-produk yang membutuhkan konsistensi bentuk.
Pernah menemukan struktur rajutan yang rusak di satu
bagian lalu membentuk garis seperti tangga?
Fenomena ini disebut dengan istilah run atau laddering. Pada
beberapa kain weft knit, kerusakan struktur loop bisa membuat agian lain ikut
terurai.
Baca Juga:
9 Panduan Utama Memotong Kain Rajut
Lain halnya dengan warp knit, karena struktur loop-nya lebih saling mengunci otomatis
konstruksinya lebih kuat dan lebih run-resistant. Karakter inilah yang
jadi keunggulan utama rajutan benang lusi disaat kain perlu dipotong dan
diproses lebih lanjut.
Jenis konstruksi seringkali memengaruhi bagaimana
bagian tepi kain bereaksi setelah dipotong. Beberapa kain weft knited, terutama single
jersey cenderung mengalami edge curling atau tepian yang menggulung.
Hal itu berkaitan dengan karakter lubang jeratan serta keseimbangan tegangan kain.
Di sisi lain, warp
knitted yang lebih stabil, sehingga bagian tepi lebih terkendali. Meski,
terkadang konstruksi rib dan interlock yang memiliki struktur berbeda dan respon
bagian tepi-nya juga tidak sama.
Konstruksi warp dan weft juga dapat menghasilkan
tampilan permukaan yang berbeda.
Pada tricot (rajutan
lusi), permukaan kain dapat memperlihatkan wale
vertikal yang halus dan berkarakter di sisi belakang. Beda dengan single
jersey, rib, interlock, dan purl yang menghasilkan tampilan serta tekstur
berbeda.
Pada akhirnya, warp knitting dan weft knitting merupakan dua metode utama
dalam pembuatan kain rajut yang berbeda dari segi arah dan mekanisme
pembentukan loop.
Weft knit menghasilkan kain yang
lebih fleksibel dan mudah meregang.
Sedangkan, hasil warp knit cenderung stabil
secara dimensi dan tahan terhadap run. Namun, hal itu bukanlah aturan
mutlak. Karena sifat akhir kain rajut juga bisa dipengaruhi oleh jenis serat,
benang, konstruksi loop, kerapatan rajutan, elastane, dan finishing.
Sudah jelas kan? Semoga pengetahuan ini bermanfaat ya, Sobat Bahankain!
Rajutan Lusi vs Rajutan Pakan, Bagaimana Efeknya Pada Karakteristik Kain?
Kenapa Warna dan Karakteristik Kain Bisa Berubah Setelah Disetrika? Ini Penjelasannya
Pewarna Indanthrene: Pengertian, Cara Kerja, dan Penggunaannya
Bukan Cuma Indonesia! Menguak Misteri Seni Pewarnaan Rintang Lilin di Berbagai Belahan Dunia
Karpet Dalam Desain Interior: Fungsi, Jenis, dan Teknik Pembuatannya
Macam-Macam Istilah Toko Baju: Jangan Mengaku Pecinta Fashion Kalau Belum Tahu Bedanya Butik, Distro, dan Concept Store!
Seberapa Sering Harus Mencuci Matress Protector? Ini Penjelasannya!
Sagara Bootmaker, Rahasia Boots Handmade Indonesa yang Diburu Dunia
Bukan Sekadar Baju Rumah: Ketika Pakaian Longgar Jadi Fashion Statement