Rompi pelampung dan pelapis kursi
pesawat yang sudah tidak terpakai kini mendapat fungsi baru sebagai tas.
Melalui kolaborasi dengan EIGER, Garuda Indonesia mengolah 90 kilogram material
bekas pesawat menjadi produk fungsional bernilai tambah lewat konsep upcycling.
Dengan sentuhan desain, material tersebut diubah menjadi aksesori fashion yang sangat fungsional. Seperti apa proses dan hasilnya? Simak ulasan berikut ini, yuk!
Dalam kolaborasi ini, Garuda
Indonesia menyediakan sekitar 60 kilogram rompi pelampung bekas dan 30 kilogram
pelapis kursi pesawat. EIGER kemudian mengolah material tersebut menjadi
beberapa varian tas kecil atau pouch.
Produk yang dihasilkan hadir
dengan karakter material yang khas, termasuk pilihan warna hitam dan cokelat
dari pelapis kursi pesawat. Pemanfaatan material asli ini memberikan tampilan
berbeda sekaligus mempertahankan jejak penggunaan sebelumnya.
Sebanyak 200 produk disiapkan untuk diperkenalkan kepada pelanggan melalui penerbangan khusus GA118 rute Jakarta–Kualanamu pada 6 Oktober 2026.
Kolaborasi Garuda Indonesia dan
EIGER menerapkan konsep upcycling, yaitu proses mengolah material bekas
menjadi produk baru yang memiliki nilai guna atau nilai jual lebih tinggi.
Berbeda dari daur ulang yang
dapat melibatkan pemrosesan material menjadi bahan baku baru, upcycling berupaya
mempertahankan dan memanfaatkan karakter material yang sudah ada. Pendekatan
ini membuka peluang untuk mengurangi material terbuang sekaligus menghasilkan
produk dengan desain yang unik.
Dalam industri fashion, konsep tersebut dapat diterapkan pada berbagai material, mulai dari kain sisa produksi, pakaian bekas, hingga material industri yang masih layak diolah. Tantangannya terletak pada pemilihan bahan, proses pembersihan, serta pengembangan desain agar produk akhir tetap aman, nyaman, dan fungsional.
Pemanfaatan material pesawat
bekas menjadi bagian dari upaya Garuda Indonesia mengembangkan konsep green
airline. Pendekatan ini mendorong pengelolaan sumber daya yang lebih
bertanggung jawab, termasuk mencari peluang pemanfaatan material yang sudah
tidak digunakan dalam operasional.
Inisiatif tersebut juga berkaitan
dengan partisipasi Garuda Indonesia dalam The Aviation Challenge 2026,
program yang diselenggarakan SkyTeam untuk mendorong inovasi keberlanjutan di
industri penerbangan.
Kolaborasi Garuda Indonesia dan
EIGER memperlihatkan bahwa material yang sudah tidak terpakai tidak selalu
harus berakhir sebagai limbah. Dengan pemilihan bahan dan pengolahan yang
sesuai, material tersebut dapat kembali dimanfaatkan menjadi produk fungsional.
Langkah ini sekaligus menegaskan
bahwa inovasi fashion berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dari bahan baru.
Pemanfaatan sumber daya yang sudah tersedia dapat menjadi salah satu cara untuk
menciptakan nilai tambah, selama proses produksi dan penggunaan produk tetap
memperhatikan kualitas serta dampak lingkungannya.
Garuda Indonesia X EIGER Sulap Rompi Pelampung Bekas Jadi Tas
Kenapa Brand Fashion Besar Kebanyakan Berasal dari Eropa?
Cara Menjaga Lem Sepatu Tetap Awet agar Sol Tidak Mudah Terlepas
Kenapa Lap Kacamata Selalu Dibuat dari Kain Microfiber? Ini Faktanya!
Sama-sama Dipakai Untuk Logo, Ini Bedanya Emblem Bordir dan Emblem Woven
Perbedaan Top Note, Middle Note, dan Base Note pada Parfum
Victoria’s Secret Angel Wings: Bukan Sekadar Sayap, Ini Rahasia di Balik Ikon Fashion Show!
Dari Seragam sampai Celana Tongkrongan, Ini Alasan American Drill Selalu Dipilih Sebagai Bahan Celana
Berapa Meter Kain Kafan yang Dibutuhkan untuk Satu Jenazah? Ini Perkiraannya!
Fantasy Bra: Ketika Bra Berubah Jadi Perhiasan Bernilai Rp800 Miliar