Terlepas dari gerakan sustainable
yang makin riuh disuarakan, drama fast fashion belum juga berakhir hingga saat
ini. Bukan hanya produsen yang terus menyediakan ruang, tapi juga karena
pengaruh tren dan FOMO (Fear of Missing
Out).
Fear of Missing Out atau "takut ketinggalan" adalah
perasaan cemas yang muncul ketika melihat orang lain menikmati pengalaman atau
mengenakan sesuatu. Fenomena psikologis ini memunculkan keinginan memiliki
sesuatu yang sedang hype.
Derasnya arus informasi di media
sosial juga menciptakan korelasi yang sangat kuat dengan perkembangan industri
fast fashion. Sehingga menciptakan dampak buruk yang signifikan bagi
lingkungan.
Bayangkan saja skenario sederhana,
mulai dari kamu membuka Instagram, lalu melihat artis atau influencer mengenakan
outfit terbaru yang sedang viral. Atau, teman-teman di grup WhatsApp sedang
membicarakan "must-have item"
dari koleksi terbaru sebuah merek. Seketika, muncul perasaan ingin punya karena
takut ketinggalan tren dan khawatir jika tidak memilikinya kamu dianggap tidak up-to-date. Itulah esensi dari FOMO.
Media sosial telah menjadi
katalisator utama bagi FOMO dan fast fashion. Dengan algoritma yang terus-menerus menyajikan
konten relevan dan "apa yang sedang tren," kita secara tidak sadar
terus-menerus terpapar pada standar gaya hidup baru. FOMO menciptakan dorongan
impulsif untuk memenuhi hasrat, mencari validasi sosial dan rasa ingin
memiliki, bukan karena kebutuhan.
Fast Fashion: Solusi Cepat untuk
Kebutuhan Instan
Disinilah fast fashion masuk, memenuhi
hasrat instan yang diciptakan oleh FOMO. Model bisnis fast fashion beroperasi
dengan kecepatan tinggi:
·
Meniru tren cepat: Desain-desain dari runway atau desainer kelas atas segera
ditiru dan diproduksi secara massal.
·
Produksi massal dan biaya murah: Pakaian dibuat
dari bahan-bahan murah terutama kain sintetis seperti polyester. Proses
produksinya juga dipersingkat demi memangkas biaya dan waktu.
·
Siklus koleksi singkat: Koleksi baru diluncurkan
tiap minggu atau bahkan dalam hitungan hari, membuat pakaian terasa cepat
usang.
·
Harga terjangkau: Dengan bahan dan biaya
produksi yang minim, harga fast fashion seringkali lebih murah sehingga konsumen
merasa tidak keberatan meski terus membeli. Bahkan untuk barang yang hanya akan
dipakai beberapa kali.
·
Fast fashion dan FOMO menciptakan sebuah
korelasi yang sempurna untuk memenuhi permintaan yang konstan dan tak terbatas
akan " tren terbaru," secara cepat, mudah, dan murah.
Hubungan antara FOMO dan fast
fashion memang menguntungkan industri, tetapi sangat merugikan planet kita.
Berikut adalah beberapa dampak buruk yang telah mengkontaminasi lingkungan:
Karena pakaian fast fashion murah dan cepat usang
(baik secara fisik maupun tren), mereka bisa saja dibuang meski baru beberapa
kali dipakai. Alhasil, tumpukan limbah tekstil pun terus menggunung. Material sintetis
membutuhkan ratusan tahun untuk terurai, sedangkan kain alami yang bercampur
bahan kimia juga mencemari tanah dan air.
·
Konsumsi Sumber Daya Air yang Masif: Produksi
kapas, salah satu bahan baku utama, membutuhkan air dalam jumlah yang sangat
besar. Proses pencelupan dan finishing pakaian juga memakan banyak air dan
menghasilkan air limbah beracun yang seringkali dibuang langsung ke sungai,
mencemari ekosistem.
·
Emisi Gas Rumah Kaca: Seluruh rantai pasok fast
fashion, mulai dari produksi bahan baku, proses manufaktur yang intensif
energi, hingga transportasi global, menghasilkan emisi karbon yang signifikan.
Semakin banyak pakaian diproduksi dan dikirim, semakin besar jejak karbon yang
ditinggalkan.
·
Polusi Mikroplastik: Pakaian berbahan sintetis
seperti poliester, nilon, dan akrilik melepaskan serat mikroplastik setiap kali
dicuci. Mikroplastik ini kemudian berakhir di lautan, mencemari air, dan masuk
ke dalam rantai makanan, bahkan ditemukan dalam tubuh manusia.
·
Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya: Berbagai bahan
kimia digunakan dalam proses pewarnaan dan finishing tekstil, yang tidak hanya
berbahaya bagi pekerja pabrik tetapi juga mencemari lingkungan dan dapat memicu
masalah kesehatan bagi konsumen.
Kecemasan
"takut ketinggalan" telah mendorong kita pada pola konsumsi yang
tidak berkelanjutan. Kita membeli lebih banyak dari yang kita butuhkan,
membuang lebih cepat dari yang seharusnya, dan secara tidak langsung
berkontribusi pada kerusakan lingkungan yang parah.
Sebagai
konsumen, kita memiliki kekuatan untuk memutus lingkaran setan ini.
·
Sadari FOMO: Kenali kapan FOMO memengaruhi keputusan
pembelianmu. Tanyakan pada diri sendiri: Apakah aku benar-benar membutuhkan
ini, atau hanya ingin karena semua orang punya?
·
Pilih kualitas daripada kuantitas: Investasilah
pada pakaian berkualitas baik dan tahan lama, bukan yang sekali pakai.
·
Dukung Sustainable Fashion: Cari merek-merek
yang berkomitmen pada praktik etis dan ramah lingkungan.
·
Beli Bekas atau Tukar Pakaian: Thrifting-prelove atau
menukar pakaian adalah cara bagus untuk mendapatkan "barang baru" tanpa
mendukung produksi baru.
·
Perpanjang Usia Pakaian: Pelajari cara merawat
pakaian agar awet, perbaiki yang rusak, atau daur ulang.
Sadarlah! Lingkungan kita sedang
terancam, dan pilihan busana kita memiliki peran besar dalam hal itu. Dengan
menjadi konsumen yang lebih sadar dan bertanggung jawab, kita bisa mengubah
dampak FOMO dan fast fashion dari ancaman menjadi peluang untuk masa depan yang
lebih hijau.