Pernahkah kamu melihat satu model pakaian yang sekilas terlihat manly tapi juga agak girly? Itulah salah satu indikasi utama
gaya busana alternatif, androgini.
Beberapa waktu belakangan, androgini fashion stye semakin
menegaskan posisinya sebagai salah satu tren penting dalam industri fashion
modern. Ia hadir sebagai bentuk ekspresi berpakaian yang memadukan unsur maskulin dan feminin secara seimbang,
bebas dari batasan gender konvensional.
Seperti apa panampakannya? Simak
ulasan berikut ini, yuk!
Gaya androgini atau androgyny
adalah konsep berpakaian yang menggabungkan karakter maskulin dan feminin pada
satu tampilan. Ia memiliki potongan tegas khas busana pria tapi dipadukan
dengan elemen lembut atau siluet ringan yang identik dengan busana perempuan.
Sehingga menciptakan look yang netral
namun tetap estetis.
Secara etimologis, androgyny
berasal dari bahasa Yunani kuno: andro (pria) dan gynē (wanita),
yang secara harfiah berarti gabungan sifat laki-laki dan perempuan. Dalam
konteks modern, androgini merujuk pada perpaduan
karakteristik maskulin dan feminin, baik dalam mode, perilaku, maupun ekspresi
diri.
Alih-alih mengikuti pakem
berpakaian berbasis gender, gaya ini menempatkan siluet, fungsi, dan karakter personal sebagai elemen utama. Identitas
Androgini berupa perpaduan antara potongan pakaian longgar, siluet tajam, serta
basis warna yang netral seperti hitam, putih, dan abu-abu.
Dalam praktik sehari-hari,
androgini sering terlihat melalui pilihan pakaian seperti:
·
Oversized
blazer atau kemeja yang memberi kesan maskulin kuat namun tetap bisa
dipadukan dengan item feminin.
·
Celana
lurus atau kain longgar yang tidak mengikuti lekuk tubuh, meningkatkan
kesan netral gender.
·
Perpaduan
item klasik maskulin dan elemen feminin ringan, seperti dasi atau
aksesori lembut, yang membuat outfit lebih dinamis tanpa terikat stereotip
Fashion androgini bukanlah
fenomena baru dalam dunia mode. Jauh sebelum menjadi populer, androgini telah hadir sebagai bagian dari budaya, seni, dan
identitas sosial manusia.
Konsep dasarnya dapat ditelusuri
hingga peradaban kuno. Dalam mitologi Yunani, misalnya, androgini digambarkan
sebagai makhluk yang memiliki unsur laki-laki dan perempuan dalam satu tubuh. Gaya
tersebut mencerminkan pandangan bahwa maskulinitas dan femininitas bukanlah dua
hal yang sepenuhnya terpisah.
Sedangkan dalam konteks busana,
masyarakat kuno belum mengenal pemisahan pakaian secara ketat berdasarkan
gender. Disaat toga di Yunani atau jubah di Mesir Kuno dikenakan oleh semua
gender. Pemilihan busana lebih dominan mempertimbangkan fungsi dan status
sosial daripada identitas seksual seseorang.
Seiring waktu, androgynous
berkembang menjadi pernyataan
estetika sekaligus refleksi perubahan sosial. Nama Coco Chanel sering disebut sebagai pionir androgini modern. Ia memperkenalkan celana
panjang, blazer, dan potongan sederhana untuk perempuan—busana yang sebelumnya
identik dengan pria. Langkah ini tidak hanya revolusioner secara estetika,
tetapi juga simbol pembebasan perempuan dari pakaian yang membatasi.
Gaya yang mengaburkan batas
antara maskulin dan feminintas ini, tidak pernah secara eksplisit mendefinisikan diri. Alih-alih mengikuti pakem berpakaian berbasis
gender, gaya ini menempatkan siluet, fungsi, dan karakter personal
sebagai elemen utama. Dalam perkembangannya, androgini tidak hanya menjadi tren
visual, tetapi juga representasi sikap dan identitas.
Berikut sejumlah ciri khas gaya
androgini yang paling menonjol dalam dunia fashion:
Salah satu
karakter utama gaya androgini adalah penggunaan potongan pakaian yang longgar,
lurus, dan tidak menonjolkan lekuk tubuh. Blazer oversized, kemeja boxy, dan
celana lurus menjadi item yang kerap digunakan karena memberi kesan netral
sekaligus tegas.
Siluet ini
mencerminkan penolakan terhadap standar pakaian yang terlalu feminin atau
maskulin, sekaligus menekankan kenyamanan dan fleksibilitas.
Warna
memainkan peran penting dalam gaya androgini. Palet warna yang sering digunakan
antara lain hitam, putih, abu-abu, cokelat, navy, dan beige. Warna-warna ini
dipilih karena tidak memiliki asosiasi gender yang kuat dan mudah dipadukan
dalam berbagai tampilan.
Penggunaan
warna netral juga memberi kesan minimalis dan elegan, dua nilai yang kerap
melekat pada gaya androgini.
Gaya androgini
cenderung menghindari detail yang terlalu dekoratif. Potongan bersih, desain
sederhana, dan minim ornamen menjadi ciri utama. Fokus utama ada pada bentuk,
struktur, dan kualitas bahan, bukan pada hiasan yang mencolok.
Sejalan dengan
filosofi androgini yang menempatkan esensi busana di atas simbol-simbol gender.
Berbeda dengan
gaya yang mengutamakan estetika semata, androgini menempatkan kenyamanan dan
fungsi sebagai aspek penting. Pemilihan bahan yang jatuh, tidak kaku, dan mudah
bergerak menjadi pertimbangan utama.
Hal itu
membuat gaya androgini relevan untuk aktivitas sehari-hari, sekaligus adaptif
terhadap berbagai situasi.
Ciri paling
khas dari gaya androgini adalah penekanan pada identitas personal dibandingkan
label gender. Pemakainya bebas menafsirkan busana sesuai karakter dan
kenyamanan masing-masing, tanpa terikat pada norma berpakaian tradisional.
Dalam konteks ini,
fashion menjadi medium ekspresi diri, bukan alat klasifikasi sosial.
Lebih dari sekadar gaya
berpakaian, androgini kini menjadi bagian dari percakapan lebih besar tentang identitas, ekspresi diri, dan kebebasan
personal. Gaya ini memberikan ruang bagi individu untuk mengekspresikan
diri tanpa terkungkung oleh norma maskulin atau feminin yang tradisional.
Bagi sejumlah pengamat, androgini
menjadi simbol inklusivitas dalam fashion. Sebuah pengakuan bahwa pakaian bisa
menjadi medium ekspresi yang fleksibel, kreatif, dan bebas dari aturan yang
kaku.
Androgini Style, Gaya Berbusana Yang Menembus Batasan Gender
6 Layanan Reparasi Sepatu yang Bisa Kamu Coba!
Kenapa Tren Selalu Berulang Tiap ±20 Tahun? Ini Penjelasan di Baliknya
Laundry Kiloan vs Self Service, Mana yang Lebih Baik?
Di Balik Nama Dagang Kain, Panduan Memilih Rayon Berkualitas di Bahankaincom
Perbedaan Stocking, Tights, Pantyhose, dan Leggings: Jangan Salah Pilih dalam Fashion
Desainer Legendaris, Valentino Garavani Meninggal Dunia di Usia 93 Tahun
Miu Miu dan Evolusi Fashion Feminin yang Berani dan Eksentrik
Trench Coat: Mantel Klasik yang Nggak Pernah Kehilangan Gaya
Red Bottoms: Ketika Sol Merah Menjadi Simbol Kemewahan dalam Dunia Fashion