Belakangan ini, isu bahaya pakaian berbahan polyester kembali ramai dibicarakan di media sosial dan berbagai portal informasi. Banyak konsumen mulai bertanya apakah benar pakaian sintetis ini menyimpan risiko bagi kesehatan tubuh dan lingkungan?
Bagaimana dampak dari penggunaan serat yang selama puluhan tahun menjadi bagian besar dari industri fashion global ini? Berikut ulasannya!
Polyester adalah jenis serat sintetis yang dibuat dari bahan petrokimia, terutama polyethylene terephthalate (PET) yang juga kerap dipakai dalam produksi botol plastik. Bahan ini dipilih karena sifatnya yang tahan lama, awet, gampang dirawat, serta relatif murah dibanding kain alami seperti katun atau linen.
Namun di balik kemudahan tersebut, sejumlah ahli dan laporan media mulai mengangkat berbagai potensi dampak negatif yang perlu dipahami.
·
Iritasi dan sensitivitas kulit
Pakaian yang terbuat
dari polyester cenderung kurang “bernapas” karena tidak bisa menyerap keringat
dengan baik. Akibatnya, kulit menjadi lembab dan hangat, menciptakan kondisi
yang bisa memicu irritasi, ruam, alergi, bahkan dermatitis kontak
terutama bagi orang dengan kulit sensitif.
·
Paparan bahan kimia
Selama proses
produksi, polyester mengalami perlakuan dengan berbagai bahan kimia seperti
formaldehida, ftalat, dan zat pewarna sintetis. Beberapa zat ini dapat
tertinggal di kain dan, ketika dipakai atau dipanaskan (misalnya saat dijemur),
berpotensi meninggalkan residu kimia yang bersentuhan langsung dengan kulit.
·
Potensi gangguan hormon
Bahan kimia
seperti ftalat yang digunakan dalam polyester dikaitkan dengan gangguan sistem
endokrin atau hormon, suatu kondisi yang dapat memengaruhi sistem reproduksi
dan metabolisme tubuh bila terpapar dalam jangka panjang.
·
Serat mikroplastik
Diantara
permasalahan utamanya adalah bagaimana polyester menyumbang mikroplastik ke
lingkungan. Setiap kali pakaian polyester dicuci, serat mikro yang sangat
kecil terlepas ke sistem air dan akhirnya bermuara ke sungai, danau, serta
laut. Serat ini tidak terurai dan dapat masuk ke rantai makanan — mulai dari
plankton, ikan laut, hingga manusia.
·
Tidak mudah terurai
Berbeda dengan
bahan alami seperti katun atau linen, polyester tidak mudah terurai secara
biologis. Pakaian yang dibuang ke tempat pembuangan sampah dapat tetap ada
selama puluhan hingga ratusan tahun, memperparah persoalan limbah plastik
global.
Selain isu kesehatan dan lingkungan, polyester juga
dikenal kurang nyaman dipakai terutama di iklim panas dan lembap seperti
Indonesia. Karena tidak menyerap keringat, pakaian berbahan polyester bisa
membuat tubuh terasa lebih panas, cepat berkeringat, dan menimbulkan bau yang
tidak sedap lebih cepat dibanding bahan alami.
Seiring dengan meningkatnya kesadaran terhadap
kesehatan dan lingkungan, banyak desainer serta konsumen kini mulai
mempertimbangkan penggunaan bahan alami atau ramah lingkungan, seperti:
·
Katun organik: lebih lembut di kulit dan
dapat menyerap keringat.
·
Linen: kuat, sejuk, dan lebih mudah
terurai.
·
Serat bambu: memiliki sifat antibakteri
alami dan nyaman dipakai.
Walaupun bahan polyester memiliki sejumlah keunggulan seperti ketahanan dan harga terjangkau, terdapat sejumlah potensi risiko kesehatan dan dampak lingkungan yang perlu diperhatikan. Konsumen disarankan untuk lebih jeli dalam memilih pakaian, terutama jika memiliki kulit sensitif atau peduli terhadap isu lingkungan.
Menimbang pilihan bahan yang
lebih alami dan ramah kulit bisa menjadi langkah cerdas bagi kesehatan jangka
panjang dan kelestarian bumi.
Fenomena Bahaya Pakaian Berbahan Polyester, Apa Saja Risikonya?
Menguak Rahasia di Balik Kode 'D', Panduan Lengkap Memilih Density Kasur Busa
Sea Silk: Kain Legendaris 2.000 Tahun yang Berkilau Seperti Emas — Kini Bangkit Kembali Lewat Sains
Printing DTF vs DTG, Mana yang Lebih Sesuai Untuk Usahamu?
Kasurmu Bersih? Belum Tentu. Fakta Tentang Tungau yang Jarang Kita Sadari
Cushioning, Rahasia di Balik Sepatu Lari yang Nyaman
Kenapa Gaya Fashion Harus Diberi Nama, Padahal Bajunya Mirip-Mirip?
Icy Blue Warnai Tren Fashion Musim Dingin 2026
Kisah Sepatu Piero, Brand Asal Yogyakarta yang Sering Dikira Merek Italia