Beberapa
tahun lalu, dunia fashion terasa seperti lomba lari tanpa garis akhir.
Micro-trend muncul setiap minggu, algoritma media sosial mendorong gaya baru
hampir setiap hari, dan lemari kita diam-diam berubah jadi arsip tren yang
bahkan belum sempat benar-benar dipakai.
Lalu
tiba-tiba, sesuatu yang “membosankan” kembali naik ke permukaan: normcore.
Sebuah
artikel di Forbes yang ditulis oleh Zoe Bayliss Wong pada Maret 2025 membahas
bagaimana gaya ini kembali populer — dan bukan sekadar sebagai estetika, tapi
sebagai respons terhadap kelelahan tren dan dorongan menuju fashion yang lebih
berkelanjutan.
Pertanyaannya
sekarang bukan lagi “kenapa orang berpakaian biasa saja?”, tapi “apakah justru
ini masa depan fashion?”
Dari Anti-Tren ke Arus Utama Lagi
Normcore
pertama kali ramai sekitar pertengahan 2010-an. Filosofinya sederhana:
berpakaian seolah tidak sedang berusaha tampil keren. Kaos polos, jeans lurus,
sneakers netral, sweater abu-abu, tas tanpa logo mencolok. Gaya yang terasa
“default”.
Di
2025, gaya ini kembali. Tapi konteksnya berbeda.
Jika
dulu normcore terasa seperti pernyataan ironis terhadap dunia fashion yang
terlalu serius, kini ia terasa seperti bentuk kelelahan kolektif. Banyak orang
mulai jenuh dengan siklus tren super cepat, overconsumption, dan tekanan untuk
selalu tampil “baru” di media sosial.
Di
platform seperti TikTok, tagar
seperti #normcore dan #blandwear kembali bermunculan dengan
jutaan tayangan. Tapi kali ini bukan sekadar estetika. Ada nada reflektif di
dalamnya.
Kenapa Gaya “Biasa” Justru Terasa
Relevan?
Yang
menarik, kebangkitan normcore tidak berdiri sendiri. Ia beriringan dengan
meningkatnya kesadaran akan dampak industri fashion terhadap lingkungan.
Didasari dari fakta bahwa iIndustri fashion menyumbang sekitar 10% emisi karbon
global. Produksi berlebihan, pakaian sekali pakai, dan siklus tren yang brutal
membuat sistem ini makin sulit dipertahankan.
Di
tengah situasi ini, normcore menawarkan sesuatu yang sederhana tapi radikal: pakai pakaian yang bisa dipakai lama. Contohnya
seperti: Baju polos yang tidak “kadaluarsa” dalam tiga bulan. Jeans klasik
tidak akan tiba-tiba terlihat aneh tahun depan. Atau blazer hitam yang tidak
bergantung pada algoritma.
Dan
yang paling penting — karena keberlanjutan bukan cuma soal bahan ramah
lingkungan, tapi juga soal frekuensi pakai. Semakin sering satu item dipakai,
semakin kecil jejak lingkungannya per penggunaan.
Brand Ikut Masuk, Tapi Dengan Cara Berbeda
Gaya
minimal dan basic elegan kini juga jadi wajah banyak brand besar. Nama seperti
Uniqlo, COS, dan Arket konsisten menonjolkan siluet bersih dan warna netral.
Sedangkan di ranah luxury, ada label seperti The Row, Totême, dan Khaite juga
memperkuat citra “quiet luxury” — mahal, tapi tidak berteriak.
Menariknya,
estetika ini sering terlihat mahal bukan karena detail rumit, melainkan karena
kualitas material dan potongan yang presisi. Namun di sinilah paradoksnya:
ketika normcore menjadi tren, ia tetap berisiko masuk ke dalam mesin tren itu
sendiri.
Apakah Gaya Ini Benar-Benar Lebih Sustainable?
Normcore
memang mendukung ide pakaian tahan lama dan wardrobe
yang lebih kecil. Ia selaras dengan konsep capsule
wardrobe dan repeat outfit yang
kini mulai dinormalisasi. Tapi bukan berarti otomatis berkelanjutan.
Jika
brand memproduksi kaos polos dalam jumlah masif dengan sistem fast fashion yang
sama, dampaknya tetap besar. Jika konsumen tetap membeli “new basic” setiap
musim hanya karena ingin versi yang lebih trendi, maka esensinya akan hilang.
Sustainability bukan terletak pada tampilannya yang simpel,
tapi pada sistem produksi dan pola konsumsi di baliknya. Maka dari itu, normcore
bisa jadi alat menuju fashion yang lebih sadar. Walaupun ia tetap bukan solusi
ajaib.
Antara Ekspresi dan Keheningan
Ada
juga perdebatan menarik: apakah fashion yang terlalu “aman” akan mematikan
kreativitas?
Sebagian
orang merasa fashion adalah medium ekspresi, eksplorasi, bahkan perlawanan.
Jika semua orang kembali ke warna netral dan siluet sederhana, apakah kita
kehilangan keragaman visual?
Mungkin
jawabannya bukan memilih salah satu. Justru di sinilah keseimbangannya: fashion
tidak harus selalu ekstrem untuk bermakna. Dan kesederhanaan tidak berarti
kehilangan identitas.
Tren
normcore baru-baru ini pun terasa lebih dewasa. Bukan lagi sekadar gaya yang “pura-pura
tidak peduli”, tapi menjadi refleksi dari generasi yang mulai mempertanyakan:
“Apakah aku benar-benar butuh semua ini?”
Jadi, Apakah Fashion Membosankan
adalah Masa Depan?
Mungkin
kata “membosankan” bukanlah istilah yang tepat. Akan lebih tepat disebut: tenang,
lebih stabil, atau lebih tahan lama.
Jika
tren sebelumnya didorong oleh kecepatan dan visibilitas, normcore menawarkan
ritme yang lebih lambat. Dan dalam dunia yang terasa semakin cepat, tren ini justru
jadi terasa revolusioner. Bukan karena mencolok, tapi karena ia memilih untuk
tidak ikut berlari.
Scarcity Marketing, Seni Membuat Orang Buru-buru Melakukan Checkout
Normcore Kembali Populer: Saat Fashion “Biasa Saja” Justru Jadi Masa Depan yang Lebih Berkelanjutan
Ketika “Berantakan” Jadi Tren: Kenapa Fashion Suka Terlihat Tidak Rapi?
Fenomena Bahaya Pakaian Berbahan Polyester, Apa Saja Risikonya?
Menguak Rahasia di Balik Kode 'D', Panduan Lengkap Memilih Density Kasur Busa
Sea Silk: Kain Legendaris 2.000 Tahun yang Berkilau Seperti Emas — Kini Bangkit Kembali Lewat Sains
Printing DTF vs DTG, Mana yang Lebih Sesuai Untuk Usahamu?
Kasurmu Bersih? Belum Tentu. Fakta Tentang Tungau yang Jarang Kita Sadari
Cushioning, Rahasia di Balik Sepatu Lari yang Nyaman