“Produk bagus itu penting. Tapi membuat orang merasa bahwa kesempatan
ini tak selalu ada. Itu yang sering mengubah minat menjadi pembelian.” Kalimat
yang ringan tapi maknanya begitu dalam, bahwa konsumen tidak hanya butuh kualitas
tetapi juga ‘alasan’ untuk segera membeli sebuah produk. Disinilah scarcity marketing alias pemasaran
berbasis kelangkaan memainkan perannya.
Merek lokal hingga brand-brand besar seperti Aerostreet, Rucas, Nike, Adidas, Supreme, hingga perusahaan teknologi. Apple Inc. terbukti sukses menerapkan strategi ini. Lantas, apa itu scarcity marketing?
Dan bagaimana pengaruhnya? Simak ulasan berikut ini, yuk!
Scarcity marketing adalah strategi pemasaran yang memanfaatkan prinsip psikologi kelangkaan untuk mendorong konsumen segera melakukan pembelian. Caranya yaitu dengan menekanan bahwa ketersediaan suatu produk atau penawaran yang sangat terbatas. Baik dari segi jumlah, rentang waktu, maupun kemudahan akses.
Strategi ini bekerja dengan
menciptakan urgensi atau rasa takut ketinggalan (Fear of Missing Out)
di benak pelanggan. Cara kerjanya bukan “memaksa”, melainkan memicu reaksi
psikologis alami manusia yang cenderung lebih menghargai kelangkaan. Ketika
seseorang merasa suatu barang hampir habis atau penawaran akan segera berakhir,
di mata mereka nilai barang tersebut cenderung meningkat.
Meski terdengar teknis, namun
faktanya konsep scarcity sudah sangat
melekat dalam budaya belanja modern. Mulai dari euforia flash sale di marketplace, edisi terbatas di industri fashion,
hingga notifikasi “tinggal satu kamar” saat memesan hotel. Kelangkaan diam-diam
berhasil membentuk urgensi seseorang dalam
mengambil keputusan.
Dalam praktiknya, marketing berbasis scarcity hadir dalam beberapa versi. Dimana masing-masing mempunyai pendekatan psikologis yang berbeda.

Berikut jenis-jenis pemasaran berbasis kelangkaan yang kerap ditemui dalam praktik bisnis:
Pendekatan ini membatasi periode penawaran sehingga konsumen merasa perlu membeli sebelum kesempatan tersebut berakhir. Contoh konkrit dari limited-time scarcity ialah program flash sale alias promo dalam waktu terbatas. Bisa dalam batasan menit, jam, atau hari.
Efek urgensi dari strategi ini biasanya sangat kuat. Konsumen terdorong bertindak cepat karena tenggatnya yang jelas.
Strategi membangun kelangkaan dengan cara membatasi jumlah produk ketersediaan stok atau kuota produk. Dengan menunjukkan bahwa stok cepat habis, konsumen terdorong untuk bertindak cepat agar tidak ketinggalan.
Pesan seperti ‘edisi terbatas, khusus bagi 50 pembeli pertama, 33% sudah diklaim, dll,’memicu rasa takut kehabisan. Limited quantity scarcity ini sangat cocok untuk produk dengan permintaan tinggi.
Beberapa produk dibuat hanya dalam jumlah sangat terbatas atau hanya dibuat untuk segmen tertentu. Contohnya, kolaborasi dengan influencer, brand atau memang edisi khusus yang berkaitan dengan sebuah event. Keterbatasan ini menimbulkan perasaan unik, istimewa, dan tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Produk dirilis dalam versi tertentu, seringkali dilengkapi desain atau fitur unik. Konsumen melihatnya sebagai item eksklusif, sehingga nilai kolektibilitas pun meningkat.
Menampilkan review maupun testimoni dari pelanggan yang puas menjadi bukti konkret bahwa produk tersebut mendapat respons positif. Pendekatan ini membantu calon pembeli merasa lebih yakin karena ada pengalaman nyata dari pengguna sebelumnya.
Ketika konsumen melihat bahwa suatu produk telah dipilih, digunakan, atau diminati banyak orang, rasa percaya mereka cenderung meningkat dan keraguan berkurang.
Dari sudut pandang psikologi konsumen, efektivitas scarcity marketing bukanlah sesuatu yang terjadi secara acak. Strategi ini bekerja karena selaras dengan cara manusia memproses informasi, menilai risiko, dan mengambil keputusan. Ketika elemen kelangkaan dimunculkan, respons yang muncul umumnya bersifat refleks cepat, emosional, dan kadang di luar perhitungan rasional.

Selain itu, berikut beberapa alasan
kenapa scarcity marketing dianggap sebagai strategi efektif untuk meningkatkan
penjualan:
Ketakutan akan
kehilangan momen alias FOMO muncul ketika konsumen merasa ada peluang
yang bisa hilang jika tidak segera diambil. Pesan seperti “Promo berakhir hari
ini” atau “produk hamper habis”, otak secara otomatis mengaktifkan alarm dan memaksa
harus segera mengambil keputusan.
Rasa takut menyesal di kemudian hari mendorong orang
bertindak lebih cepat. Akibatnya, proses yang biasanya penuh pertimbangan
menjadi lebih singkat.
Produk yang terlihat langka sering dianggap lebih
istimewa. Konsumen cenderung mengaitkan kelangkaan dengan keunikan, kualitas
dan kesan eksklusif. Bahkan tanpa perubahan fitur, nilai produk terasa lebih
tinggi.
Kelangkaan menciptakan aura premium, seolah produk
tersebut memiliki status yang berbeda. Efek inilah yang membuat edisi terbatas
atau rilisan khusus selalu menarik dan habis terjual.
Tantangan
terbesar pemasaran adalah kecenderungan konsumen untuk berkata, “saya
pikir-pikir dulu.” Tanpa adanya batasan, konsumen akan lebih mudah
menunda pembelian karena mereka menganggap ‘besok juga bisa‘.
Namun pemikiran tersebut bisa lenyap ketika ada
batasan waktu serta kelangkaan. Adanya tenggat membuat orang merasa harus
segera memilih. Dalam banyak kasus, tekanan halus ini membantu mengatasi decision
paralysis, yaitu kondisi ketika terlalu banyak pilihan justru membuat
seseorang sulit menentukan keputusan.
Scarcity marketing lebih sering menyentuh ranah
emosional daripada logika murni. Rasa cemas kehabisan dan sensasi puas saat
berhasil mendapatkan produk terbatas, membuat keputusan cepat terasa penting. Emosi ini berperan besar dalam mendorong
tindakan cepat.
Bahkan konsumen
yang sadar bahwa mereka sedang dihadapkan pada strategi pemasaran tetap bisa merasakan
urgensi tersebut.
Secara keseluruhan, strategi kelangkaan efektif karena memadukan tiga elemen penting dalam proses keputusan pembelian yaitu persepsi risiko dan nilai, serta respons emosional. Ketika konsumen merasa ada kemungkinan kehilangan peluang, nilai produk terasa meningkat, dan emosi ikut terlibat. Disini keputusan pun cenderung terjadi lebih cepat.
Meski sudah ak heran jika
scarcity marketing masih menjadi salah satu pendekatan yang relevan di berbagai
industri, dari ritel hingga layanan digital. Semoga pengetahuan ini bermanfaat,
ya!
Scarcity Marketing, Seni Membuat Orang Buru-buru Melakukan Checkout
Normcore Kembali Populer: Saat Fashion “Biasa Saja” Justru Jadi Masa Depan yang Lebih Berkelanjutan
Ketika “Berantakan” Jadi Tren: Kenapa Fashion Suka Terlihat Tidak Rapi?
Fenomena Bahaya Pakaian Berbahan Polyester, Apa Saja Risikonya?
Menguak Rahasia di Balik Kode 'D', Panduan Lengkap Memilih Density Kasur Busa
Sea Silk: Kain Legendaris 2.000 Tahun yang Berkilau Seperti Emas — Kini Bangkit Kembali Lewat Sains
Printing DTF vs DTG, Mana yang Lebih Sesuai Untuk Usahamu?
Kasurmu Bersih? Belum Tentu. Fakta Tentang Tungau yang Jarang Kita Sadari
Cushioning, Rahasia di Balik Sepatu Lari yang Nyaman