Kita hidup di era visual. Setiap
hari kita melihat ratusan outfit lewat layar — dari Instagram, TikTok, runway,
sampai street style. Kita dengan
mudah bisa bilang, “Gayanya keren banget.” Tapi anehnya, ketika membayangkan
outfit yang sama ada di tubuh kita sendiri, rasanya berubah. Mendadak jadi
ragu.
Fenomena ini sebenarnya cukup umum,
dan ada penjelasan psikologis yang masuk akal di baliknya.
Mengagumi
Itu Aman, Memakai Itu Berisiko
Secara sederhana, mengagumi gaya
orang lain adalah posisi yang aman. Kita hanya mengamati. Tidak ada risiko
sosial. Tidak ada kemungkinan dinilai. Tapi ketika kita memakainya sendiri,
situasinya berubah. Kita tidak lagi melihat — kita dilihat. Dan di situlah rasa
tidak nyaman mulai muncul.
Fashion bukan cuma soal kain dan
potongan. Dalam banyak studi psikologi sosial, pakaian dipahami sebagai bentuk
komunikasi nonverbal. Apa yang kita kenakan bisa memengaruhi cara orang lain
mempersepsikan kita — dan bahkan cara kita mempersepsikan diri sendiri. Konsep
ini dikenal sebagai enclothed cognition, yaitu bagaimana pakaian memengaruhi
kondisi psikologis dan performa seseorang.
Artinya, ketika kita memakai
sesuatu yang berbeda dari biasanya, kita bukan hanya mengubah penampilan, tapi
juga “mengubah pesan” yang kita kirim ke lingkungan sekitar. Dan tidak semua
orang siap dengan perubahan pesan itu.
Gaya Kuat
Terlihat Meyakinkan Karena Identitasnya Sudah Terbentuk
Sering kali kita menyukai outfit
yang terlihat berkarakter kuat: siluet oversized
yang tegas, warna kontras yang mencolok, layering yang kompleks, atau gaya
maskulin-feminin yang eksploratif. Kita kagum pada bagaimana gaya itu terlihat
menyatu dengan pemakainya. Misalnya gaya effortless
minimalis yang sering diasosiasikan dengan Hailey Bieber, atau eksplorasi gaya
gender-fluid yang kerap dimainkan oleh Harry Styles.
Ketika melihat mereka, kita tidak
hanya melihat baju. Kita melihat rasa percaya diri, bahasa tubuh, dan
konsistensi persona. Outfit tersebut terasa “tepat” karena selaras dengan
identitas yang sudah terbentuk. Di sinilah letak perbedaannya: kita
membandingkan versi matang orang lain dengan versi diri kita yang masih penuh
pertanyaan.
Tanpa sadar, muncul pikiran
seperti, “Gaya itu cocok untuk mereka, tapi bukan untuk aku.” Padahal sering
kali maksud tersembunyinya adalah, “Aku belum terbiasa melihat diriku seperti
itu.”
Zona Aman
Visual dan Rasa Takut Dinilai
Setiap orang punya zona aman
visual. Biasanya terdiri dari warna netral, potongan yang familiar, dan gaya
yang tidak terlalu menarik perhatian. Zona ini memberi rasa stabil dan aman
secara sosial. Kita tahu bagaimana reaksi orang terhadapnya. Kita tahu kita
tidak akan terlihat “terlalu”.
Begitu kita keluar dari pola itu,
ada sensasi seperti berdiri tanpa pelindung. Perhatian terasa lebih besar.
Tatapan terasa lebih jelas. Padahal dalam realitas sosial, sebagian besar orang
sebenarnya terlalu sibuk dengan diri mereka sendiri untuk benar-benar
memerhatikan detail outfit kita.
Rasa takut yang muncul sering kali
bukan takut salah gaya, melainkan takut terlihat berbeda. Dalam psikologi
sosial, ada konsep fear of negative evaluation — ketakutan akan penilaian
negatif dari orang lain. Ketakutan ini sangat manusiawi. Kita adalah makhluk sosial,
dan sejak lama penerimaan kelompok menjadi bagian penting dari rasa aman.
Kita
Membandingkan Proses Diri dengan Hasil Akhir Orang Lain
Menariknya, saat kita mengagumi
outfit orang lain, kita melihat hasil akhirnya. Kita tidak melihat proses
mereka membangun kenyamanan itu. Kita tidak melihat momen pertama kali mereka
merasa canggung. Kita hanya melihat versi yang sudah percaya diri. Sementara
saat membayangkan diri sendiri, kita langsung membayangkan versi paling tidak
siap.
Perbandingan ini jelas tidak
seimbang. Padahal identitas bukan sesuatu yang statis. Gaya justru sering
menjadi alat eksplorasi identitas. Banyak tren besar lahir dari keberanian
seseorang mencoba sesuatu yang awalnya terasa “bukan dirinya”. Seiring waktu,
yang dulu terasa asing bisa menjadi bagian dari persona yang baru.
“Itu Bukan Gayaku”
Sering Kali Hanya Soal Kebiasaan
Kalimat “itu bukan gayaku” sering
terdengar final, seolah identitas sudah selesai dibentuk. Padahal dalam banyak
kasus, hal itu hanya berarti kita belum memberi diri kesempatan untuk mencoba.
Tidak harus langsung ekstrem.
Perubahan gaya bisa dimulai dari detail kecil: warna yang sedikit lebih berani
dari biasanya, siluet yang sedikit berbeda, aksesori yang memberi aksen baru.
Identitas berkembang lewat repetisi dan pengalaman, bukan lewat teori semata.
Pada akhirnya, menyukai outfit
orang lain sebenarnya adalah sinyal. Itu menunjukkan ada bagian dalam diri kita
yang tertarik pada kemungkinan tertentu — mungkin sisi yang lebih ekspresif,
lebih playful, lebih tegas, atau lebih bebas.
Pertanyaannya bukan lagi “Cocok
nggak ya?” Melainkan, “Berani nggak ya mencoba?”
Karena kadang, gaya yang selama ini kita kagumi pada orang lain bukan benar-benar milik orang lain. Ia hanya menunggu kita cukup berani untuk memakainya.
Kenapa Kita Sering Suka Outfit Orang Lain, Tapi Nggak Berani Memakainya?
Distressed Fashion Makin Ekstrem, Ketika Kemeja Gosong Dianggap Sebagai Seni
Berhenti Menebak-nebak! Ini Cara Memilih Ukuran Bra yang Pas
90-an Bangkit Lagi: Deretan Tren Fashion yang Siap Menguasai 2026
Black Opium YSL, Rahasia Dibalik Aroma Sensual Favorit Banyak Orang
Private Label, Cara Cerdas Ciptakan Brand Eksklusifmu!
Bukan Rusak! Ini Fakta Tentang Patina Kulit yang Sesungguhnya
Wrong Shoe Theory: Ketika Sepatu “Salah” Justru Jadi Kunci Outfit Paling Menarik
Scarcity Marketing, Seni Membuat Orang Buru-buru Melakukan Checkout
Normcore Kembali Populer: Saat Fashion “Biasa Saja” Justru Jadi Masa Depan yang Lebih Berkelanjutan