Motif shibori tidak hanya terbentuk dari proses mengikat kain dan mencelupkannya ke bahan pewarna. Selain jenis pewarna, hasil akhir proyek ikat celup asal Jepang juga sangat ditentukan oleh jenis serta karakteristik kain yang digunakan.
Lantas, kain seperti apa yang paling
‘pas’ untuk teknik pewarnaa ini? Berikut kriteria serta beberapa
rekomendasinya!
Shibori membutuhkan jenis kain yang mudah menyerap zat warna dan tetap mempertahankan bentuknya meski sudah dilipat atau diikat. Itulah kenapa kain
berbahan dasar 100% serat selulosa seperti katun, linen, sutra dan rayon atau shantung lebih sering digunakan
dalam proyek ini.
Bukan berarti semua jenis kain dengan nama tersebut bisa memberikan hasil yang maksimal. Karena konstruksi, gramasi, serta karakteristik kain juga menentukan seberapa jauh zat warna akan menempel pada kain. Kain yang terlalu tebal, sangat rapat, atau licin akan mempersulit proses pengikatan serta penyerapan warna.
Berikut beberapa kriteria kain
untuk mendapatkan hasil motif yang presisi dan warna yang pekat:
Dalam teknik ikat celup, zat pewarna harus bisa menembus
hingga ke lipatan kain terdalam yang tidak terikat. Semakin tinggi daya serap
kain, semakin kaya dan merata variasi gradasi warna yang dihasilkan.
Itulah kenapa kriteria utama bahan shibori adalah kain
wajib terbuat dari serat alami.
Serat ini memiliki struktur pori-pori mikroskopis yang mampu menyerap dan mengikat
molekul pewarna secara kuat.
Kerapatan tenun berpengaruh langsung pada seberapa
tegas motif resist yang terbentuk. Kain dengan tenunan rapat dan konstruksi
presisi menghasilkan garis motif yang lebih jelas karena pewarna tidak mudah
"bocor" ke area yang seharusnya terlindungi ikatan atau lipatan.
Meskipun kain dengan tenunan longgar lebih mudah diikat,
tapi risikonya motif jadi kurang tajam dan garis batas warna nya jadi kabur.
Teknik shibori melibatkan proses manipulasi kain yang
intens, seperti dilipat berulang kali, dililit pada pipa, atau dijahit kerut. Itulah
kenapa dibutuhkan kain yang cukup fleksibel dengan ketebalan sedang. Kain kanvas atau denim yang tebal akan
sangat sulit diikat kencang, sehingga motifnya tidak keluar.
Baca Juga:
Sejarah Dan Penggolongan Kain
Mori Katun
Kain putihan seringkali masih memiliki lapisan kanji,
lilin, atau pelembut pakaian fabrikasi. Lapisan tersebut dapat menghalangi penyerapan zat
warna, sehingga perlu dihilangkan melalui proses pencucian awal (scouring atau pre-washing).
Caranya yaitu dengan menggunakan air hangat (60
derajat) dan detergen atau soda ash. Atau pilihlah jenis kain putihan (mori) yang sudah siap
celup (Ready For Dyeing).
Kain yang licin akan menyulitkan proses pengikatan dan
penyerapan warna. Lebih baik, pilih kain yang teksturnya sedikit kesat atau
sedikit kasar seperti mori dan blacu. Kain sutra katun (cotton silk) juga
sangat bagus dan bisa digunakan untuk teknik ini. Perpaduan dua jenis serat alami
ini menghasilkan kain yang ideal untuk menghasilkan karya shibori premium.
Setelah melihat kriteria di atas, ada beberapa jenis kain yang paling Mincom rekomendasiin buat Sobat Bahankain yang pengen buru-buru uji coba shibori. Beikut diantaranya:
Ini adalah jenis kain katun 100% dengan konstruksi
anyaman rapat, halus, dan tidak berbulu. Cocok untuk shibori dengan target
hasil premium, motif tajam, dan handfeel halus. Pilihan tepat untuk produk
fashion kelas atas atau item dekorasi eksklusif.
Khusus dari koleksi Bahankaincom, Sobat bisa memilih antara
kain primis cap saron atau cap bedhaya. Keduanya sama-sama halus tapi cap saron
lebih unggul dari dari segi gramasi.
Kain Mori
Prima Cap Garuda juga bisa alterantif pertama untuk proyek shibori. Kain
berbahan dasar 100% katun ini
memiliki lebar 115 cm dengan gramasi 102gsm. Ditenun dengan jenis anyaman polos
sehingga menghasilkan permukaan yang lebih halus dan rapat.
Berahan dasar serat selulosa serta konstruksi yang
relatif halus dan rapat membuatnya ideal untuk eksplorasi motif shibori dengan
teknik lipatan atau ikatan teratur serta eksperimen motif geometris.
Pengen hasil
yang lebih jatuh dan adem? Kain rayon jatayu
sepertinya pas buat kamu. Ditenun menggunakan benang rayon 30s dengan pola
anyaman polos, kain ini memiliki karakteristik bahan yang cukup halus, flowy
dan terasa adem saat bersentuhan dengan kulit.
Hasil shibori
pada kain rayon bisa kamu ubah jadi atasan, rok, celana, outer, dan desain
lain.
Baca Juga:
10
Rahasia Membuat Tie Dye, Anti Gagal!
Mori Cap Lily
terbuat dari 100% katun 30s
dengan anyaman 1/1 plain. Permukaannya sebagai halus dan menyebut kain ini
telah melalui proses finishing. Karakter permukaan yang halus bisa menjadi
pertimbangan ketika ingin mengeksplorasi motif shibori dengan detail yang lebih
teratur.
Ideal untuk proyek shibori fashion, motif lipat, dan
eksperimen pewarnaan dengan pola detail.
Nama produknya memang Linen, tetapi kain ini sebenarnya berbahan 100% katun. Hanya ‘look‘-nya
saja yang mirip kain linen, sehingga dinamakanlah kain “linen look”. Kain ini
juga telah melalui proses penghilangan kanji sehingga terasa lebih lembut,
jatuh, dan tidak kaku.
Shibori dari kain linen look bisa jadi pilihan menarik
untuk arahan busana atau produk fashion
dengan tampilan natural. Mulai dari outer, blouse, kemeja, scarf.
Pada akhirnya, tidak ada satu kain yang benar-benar terbaik untuk diproses shibori. Tapi
kalau kamu baru mulai belajar, kain katun dengan konstruksi yang tidak terlalu
tebal bisa jadi awalan yang praktis. Setelah memahami bagaimana lipatan,
ikatan, dan pewarna bekerja pada kain, kamu bisa bereksperimen dengan linen,
rayon, maupun bahan lainnya.
Yang paling penting, jangan hanya
melihat kain dari penampilannya. Kenali
serat, konstruksi, daya serap, dan karakter bahan sebelum menentukan pilihan.
Dan pastikan kamu memilih bahan-bahan berkualitas dari etalase Bahankaincom.
Kami menyediakan berbagai pilihan
kain katun, rayon, hingga sutra dengan karakter yang beragam untuk kebutuhan
craft maupun fashion. Sobat Bahankain juga bisa berkonsultasi terlebih dulu
dengan customer service Bahankaincom,
lho. Mau beli beberapa yard dulu juga boleh.
Yuk, temukan kain yang sesuai untuk proyek shibori kamu di Etalase Produk Bahankaincom!
Jangan Asal Pilih, Ini Kriteria Kain yang Cocok untuk Shibori!
Dari Celana Buruh Jadi Barang Mewah: Saat Calvin Klein Membawa Jeans ke Runway
Mengenal Jenis Table Linen dan Fungsinya
Kompor Minyak vs Kompor Listrik, Mana yang Lebih Praktis Untuk Membatik?
Yakin Rumah Udah Bersih? 8 Kain Ini Ternyata Menyimpan Jutaan Alergen Kalau Nggak Sering Dicuci!
Yves Saint Laurent: Sejarah, Identitas dan Perkembangannya Saat Ini
What Would I Have Looked Like in the 80s? Tren AI yang Bikin Semua Orang Balik ke Masa Lalu
Broken White atau Putih Tulang? Kenali Bedanya Sebelum Salah Pilih!
Batik Kontemporer, Cara Baru Generasi Muda Hidupkan Wastra Nusantara
Jangan Pakai Semir Biasa, Ini Cara Merawat Sepatu Kulit Sintetis Biar Nggak Cepat Rusak