Perkembangan artificial intelligence (AI) mulai membawa perubahan besar dalam
industri fashion. Jika sebelumnya kampanye iklan membutuhkan fotografer, stylist, makeup artist, hingga model profesional, kini sebagian proses
tersebut bisa dilakukan secara digital. Brand bahkan dapat menciptakan model
virtual yang terlihat realistis tanpa harus menggelar sesi pemotretan.
Teknologi ini menawarkan efisiensi
biaya dan waktu. Namun, di balik kemudahannya, muncul persoalan baru: bagaimana
jika wajah dan tubuh seorang model bisa digunakan kembali oleh brand tanpa kehadirannya, bahkan tanpa
kompensasi tambahan?
Model AI:
Solusi Hemat untuk Industri Fashion
Sumber: petapixel.com
Penggunaan model berbasis AI
semakin populer, terutama dalam industri e-commerce.
Brand yang harus menampilkan ratusan
hingga ribuan produk membutuhkan materi visual dalam jumlah besar. Dengan AI,
gambar model virtual bisa dibuat hanya melalui proses digital, lengkap dengan
pakaian, pose, latar belakang, hingga pencahayaan yang dapat disesuaikan.
Menurut investigasi Reuters
pada Oktober 2026, teknologi ini berpotensi memangkas biaya produksi gambar
hingga lebih dari 90% dibandingkan pemotretan konvensional. Salah satu
contohnya adalah Scayle Studios, unit bisnis About You yang mengembangkan
layanan produksi gambar fashion berbasis AI. Perusahaan tersebut mengklaim
mampu menghasilkan ratusan ribu visual outfit untuk berbagai klien dalam waktu
relatif singkat.
Face Swap
dan Digital Twin: Ketika Identitas Model Bisa Direplikasi
London-based model Alexsandrah Gondora. Sumber: www.dailysabah.com
Selain menciptakan model virtual
dari nol, AI juga memungkinkan brand
memodifikasi foto model manusia yang sudah ada. Dua teknologi yang menjadi
perhatian adalah face swap dan digital twin. Face swap memungkinkan wajah seseorang dipindahkan ke tubuh orang
lain dalam sebuah gambar atau video. Sementara itu, digital twin merupakan replika digital seseorang yang dibuat
berdasarkan karakteristik fisiknya dan dapat digunakan untuk menghasilkan berbagai
visual baru tanpa perlu kehadiran orang tersebut.
Masalahnya, penggunaan teknologi
ini tidak selalu disertai persetujuan dan kompensasi yang jelas. Dalam
investigasi Reuters, ditemukan sejumlah draft
kontrak pemotretan dari brand seperti
Diesel dan Calvin Klein yang memuat ketentuan terkait modifikasi gambar
menggunakan AI. Beberapa dokumen bahkan mencantumkan permintaan izin untuk
menggunakan gambar model sebagai bahan pelatihan teknologi AI. Artinya, foto
yang awalnya dibuat untuk satu kampanye berpotensi dimanfaatkan jauh melampaui
tujuan awalnya.
Apakah
Model Manusia Akan Kehilangan Pekerjaan?
Sumber: www.vogue.com
Salah satu pihak yang paling
terdampak oleh perkembangan ini tentu saja para model profesional. Terutama
mereka yang mengandalkan pemotretan katalog dan e-commerce sebagai sumber pekerjaan utama.
Jenis pemotretan tersebut cenderung
repetitif sehingga lebih mudah dialihkan ke teknologi AI. Dampaknya mulai
terlihat dari perubahan operasional sejumlah perusahaan. Zalando, salah satu retailer fashion online terbesar di
Eropa, telah menutup dua studio fotografinya di Berlin seiring meningkatnya
penggunaan gambar berbasis AI.
Bagi brand, langkah ini dapat mengurangi biaya produksi secara
signifikan. Namun, bagi model, fotografer, penata gaya, dan pekerja kreatif lainnya,
otomatisasi tersebut berpotensi mengurangi kesempatan kerja.
Meski demikian, bukan berarti
seluruh profesi modeling akan langsung tergantikan. Pemotretan editorial, runway, dan kampanye fashion berskala
besar masih membutuhkan ekspresi, karakter, serta kehadiran manusia yang sulit
direplikasi sepenuhnya.
Persoalan
Etika dan Hak atas Identitas Digital
London-based model Alexsandrah Gondora. Sumber: www.independent.co.uk
Di luar ancaman kehilangan
pekerjaan, penggunaan AI juga memunculkan pertanyaan tentang siapa yang
memiliki hak atas wajah dan tubuh seseorang. Apakah brand boleh menggunakan foto model untuk membuat replika digital
hanya karena model tersebut pernah menandatangani kontrak pemotretan? Bagaimana
jika hasil AI menampilkan wajah atau tubuh model dalam konteks yang tidak
pernah disetujuinya?
Beberapa upaya perlindungan mulai
dikembangkan. Di Amerika Serikat, New
York State Fashion Workers Act yang berlaku sejak Juni 2025 mewajibkan
persetujuan eksplisit sebelum brand
membuat atau memodifikasi replika digital model.
Sementara itu, British Fashion Model Agents Association telah menyusun pedoman
penggunaan AI yang menekankan pentingnya persetujuan model dan kepemilikan digital twin oleh individu yang
bersangkutan. Meski begitu, perlindungan hukum terkait penggunaan AI masih
belum merata di berbagai negara.
Masa Depan
Fashion: Kolaborasi Manusia dan Teknologi?
Sumber: hypebae.com
Tidak dapat dipungkiri bahwa AI
menawarkan peluang besar bagi industri fashion. Produksi visual menjadi lebih
cepat, biaya lebih efisien, dan brand
memiliki kebebasan lebih luas untuk bereksperimen dengan berbagai konsep
kreatif.
Namun, efisiensi seharusnya tidak
mengorbankan hak orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari industri
tersebut. Persetujuan penggunaan identitas digital, batas waktu pemanfaatan,
kepemilikan replika, serta kompensasi yang adil perlu menjadi bagian penting
dalam kontrak kerja.
Pada akhirnya, tantangannya bukan
lagi sekadar menentukan apakah model virtual bisa menggantikan model manusia,
melainkan bagaimana memastikan inovasi tersebut tetap berjalan dengan
menghormati hak dan kesejahteraan para pekerja kreatif.
Sebab, di era ketika wajah
seseorang bisa direplikasi hanya dalam hitungan detik, identitas manusia
seharusnya tetap menjadi sesuatu yang tidak bisa dimiliki begitu saja oleh
teknologi maupun perusahaan.
Baca juga: Dampak Penerapan Artificial Intellegence (AI) Dalam Berbagai Bidang Kehidupan
Cara Mensiasati Tepi Kain Rajut Yang Menggulung Saat Dipotong
Menguak Teknologi Dibalik Payung Anti-Ultraviolet
AI Mengubah Industri Fashion, Tapi Siapa yang Memiliki Wajah Digital Para Model?
Pewarnaan Indigo vs Pewarna Sulfur pada Denim, Apa Bedanya?
Mengenal Proses Coating Tekstil dan Jenis-jenisnya
Fashion Victorian Kembali Tren, Kali Ini Bawa Semangat Female Rage
5 Penyebab Utama Kain Mudah Bertiras atau Fraying
Jegging, Celana Mirip Jeans yang Nyaman Sekaligus Stylish
Bolehkah Menyimpan Kain Kafan di Rumah? Ini Fakta dan Caranya
Fashion dan Horor: Ketika Hal Menyeramkan Justru Jadi Inspirasi Desainer