Pernah memotong kain untuk
membuat baju, tetapi benang-benang di bagian tepinya terus terlepas? Kondisi
ini disebut kain bertiras atau fraying, yaitu terurainya benang pada
pinggiran kain yang dipotong atau tidak memiliki penyelesaian tepi.
Masalah ini cukup umum ditemukan
ketika menjahit pakaian, membuat tas, maupun mengerjakan proyek kerajinan
berbahan tekstil. Jika dibiarkan, benang yang terurai bisa mengganggu kerapian
hasil jahitan, bahkan mengurangi bagian kain yang tersedia untuk dijahit.
Namun, kenapa ada kain yang mudah
bertiras, sementara kain lainnya terlihat lebih rapi meskipun sama-sama
dipotong? Simak ulasan berikut ini, yuk!
Kain bertiras adalah kondisi
ketika benang penyusun kain terlepas atau terurai dari bagian tepinya. Dalam
istilah tekstil, fenomena ini dikenal sebagai fraying atau ravelling.
Kondisi tersebut paling mudah
dijumpai pada kain tenun (woven fabric). Kain tenun terbentuk dari dua
kelompok benang yang saling bersilangan, yaitu benang lusi yang memanjang dan
benang pakan yang melintang.
Ketika kain dipotong, sebagian
benang pada garis potongan akan terputus. Ujung benang yang terbuka kemudian
dapat bergeser dan terlepas akibat gesekan, tarikan, maupun pencucian.
Berbeda dengan kain yang sekadar
memiliki serat halus mencuat di permukaannya, kain bertiras mengalami
penguraian benang pada bagian tepi. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa
membuat pinggiran kain semakin tidak rata dan menyulitkan proses penjahitan.
Kain bertiras terjadi ketika benang penyusun kain terlepas dari struktur kain, terutama pada bagian tepi yang dipotong. Dalam ilmu tekstil, kecenderungan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari konstruksi kain hingga karakteristik benang yang digunakan.
Sumber: https://blogs.sussex.ac.uk/
Ada beberapa faktor yang
memengaruhi kecenderungan kain bertiras. Berikut penjelasannya.
Kerapatan konstruksi kain berpengaruh terhadap kestabilan
benang pada bagian tepi. Pada kain tenun dengan susunan benang yang relatif
renggang, benang cenderung lebih mudah bergeser ketika ujungnya terputus. Akibatnya,
benang yang berada di sepanjang garis potongan lebih mudah terlepas akibat
gesekan atau tarikan.
Sebaliknya, kain dengan konstruksi yang lebih rapat
umumnya memberikan tahanan lebih besar terhadap pergeseran benang. Meski
demikian, kerapatan bukan satu-satunya faktor penentu karena jenis benang dan
pola tenun juga berpengaruh.
Jenis permukaan benang turut memengaruhi ketahanan
pinggiran kain. Benang yang licin dan memiliki daya cengkeram ant benang
relatif rendah dapat lebih mudah bergeser dari susunan kain. Karakteristik ini
dapat ditemukan pada sejumlah kain berbahan filamen sintetis atau kain dengan
konstruksi tertentu, seperti satin.
Pada kain satin, misalnya, susunan benangnya
menghasilkan permukaan yang halus dan berkilau. Akan tetapi, beberapa konstruksi
satin memiliki titik persilangan benang yang lebih jarang dibandingkan tenun
polos. Hal ini dapat membuat benang lebih mudah bergeser pada bagian tepi yang
dipotong.
Serat penyusun kain memengaruhi karakteristik benang,
termasuk kehalusan, kekuatan, dan kemampuannya mempertahankan posisi dalam
konstruksi kain.
Meski demikian, kain bertiras tidak selalu disebabkan
oleh jenis serat tertentu. Kain katun, rayon, linen, maupun polyester sama-sama
dapat mengalami tiras jika struktur tenunnya memungkinkan benang mudah
terlepas. Karena itu, komposisi serat saja tidak cukup untuk menentukan apakah
suatu kain mudah bertiras. Karakteristik benang dan konstruksi kain juga perlu
dipertimbangkan.
Alat potong yang tumpul dapat membuat benang tertarik,
terjepit, atau terpotong secara tidak sempurna. Akibatnya, pinggiran kain
menjadi kurang rapi dan lebih mudah terurai ketika ditangani. Penggunaan
gunting kain yang tajam atau rotary cutter yang sesuai dapat membantu
menghasilkan garis potongan lebih bersih.
Selain itu, hindari menarik benang yang sudah terlepas
secara paksa. Tarikan tersebut dapat membuat benang lain ikut bergeser dan
memperbesar area tiras.
Pinggiran kain yang belum dirapikan lebih rentan
mengalami penguraian saat digeser di atas meja, ditarik ketika dijahit, atau
dimasukkan ke mesin cuci. Gesekan berulang dapat membuat ujung benang semakin
terlepas dari susunan kain. Pada bahan yang mudah bertiras, kerusakan ini dapat
terjadi bahkan sebelum pakaian selesai dijahit.
Itulah sebabnya, penanganan kain setelah pemotongan perlu
diperhatikan, terutama ketika mengerjakan bahan yang licin, tipis, atau
memiliki konstruksi longgar.
Intinya, pinggiran kain mudah
bertiras dikarenakan benang penyusunnya terlepas dari struktur kain, terutama
setelah bagian tepi dipotong. Konstruksi yang longgar, karakteristik benang
yang licin, pemotongan yang kurang rapi, serta gesekan selama penanganan.
Untuk mencegah masalah ini,
gunakan alat potong yang tajam, hindari menarik benang yang terlepas, dan pilih
finishing tepi sesuai karakteristik bahan.
5 Penyebab Utama Kain Mudah Bertiras atau Fraying
Jegging, Celana Mirip Jeans yang Nyaman Sekaligus Stylish
Bolehkah Menyimpan Kain Kafan di Rumah? Ini Fakta dan Caranya
Fashion dan Horor: Ketika Hal Menyeramkan Justru Jadi Inspirasi Desainer
Mengenal Bateeq, Brand Lokal yang Bikin Batik Makin Kekinian
Kain Mudah Luntur, Apakah Tanda Kualitasnya Buruk? Cek Faktanya, Yuk!
Fast Fashion Jual Baju Bekasnya Sendiri, Strategi Bisnis atau Tren Sustainability?
6 Tren Fashion yang Bikin Outfit Terlihat Mahal Tanpa Bikin Boncos
Garuda Indonesia X EIGER Sulap Rompi Pelampung Bekas Jadi Tas
Kenapa Brand Fashion Besar Kebanyakan Berasal dari Eropa?