Siapa di sini yang di lemarinya
minimal punya satu kemeja flanel? Mau dipakai buat kuliah, nongkrong di coffee shop, jadi outer kaos polos, atau
bahkan diikat di pinggang ala-ala anak grunge,
flanel emang jadi fashion item sejuta umat yang nggak pernah mati gaya.
Tapi, pernah nggak sih kamu mikir,
dari mana sebenarnya asal-usul kemeja motif kotak-kotak yang nyaman ini?
Mengapa baju yang dulunya identik sama bapak-bapak penebang pohon di Amerika,
sekarang bisa nangkring di panggung runway
fashion dunia?
Yuk, kita bedah perjalanan panjang
si flanel dari masa ke masa!
Abad ke-17:
Lahir dari Dinginnya Tanah Wales
Sumber: www.macculloch-wallis.co.uk
Banyak yang mengira flanel asli
dari Amerika karena sering muncul di film-film Hollywood. Padahal, flanel lahir
jauh melintasi Samudra Atlantik, tepatnya di Wales, Inggris Britania Raya,
pada abad ke-17.
Awalnya, kata "flanel"
merujuk pada jenis kainnya, bukan motifnya. Para peternak domba di Wales butuh
pakaian yang kuat, tebal, dan bisa melindungi mereka dari cuaca dingin yang
ekstrem dan hujan yang sering mengguyur wilayah tersebut.
Mereka memanfaatkan wol domba sisa,
lalu memprosesnya dengan teknik khusus bernama carding untuk menyikat kain agar teksturnya menjadi lembut dan
berserabut tebal. Serabut inilah yang sukses menahan panas tubuh. Menariknya,
flanel zaman dulu itu polos dan warnanya cenderung kusam, belum ada motif
kotak-kotak estetik seperti sekarang.
Abad ke-19:
Masuk Amerika dan Lahirnya Si Motif Kotak-Kotak
Sumber: fahertybrand.com
Memasuki era Revolusi Industri di
abad ke-19, kain flanel mulai menyeberang ke Amerika Serikat. Di sinilah
transformasi besar-besaran terjadi. Pada tahun 1889, seorang pria bernama Hamilton Carhartt melihat potensi besar
dari kain ini. Ia mendirikan perusahaan pakaian khusus untuk para pekerja
kasar, seperti buruh pabrik, pekerja kereta api, dan penebang pohon (lumberjack).
Fun Fact: Di era inilah motif kotak-kotak (plaid atau tartan) yang
diadopsi dari budaya Skotlandia mulai dipadukan secara massal dengan kain
flanel. Motif yang paling legendaris yakni merah-hitam yang dinamakan Buffalo Plaid. Kenapa? Konon, sang
desainer punya kawanan kerbau peliharaan!
Sejak saat itu, kemeja flanel
kotak-kotak resmi jadi seragam "wajib" para pekerja keras di Amerika
karena durabilitasnya yang luar biasa.
Era
1990-an: Ledakan Subkultur Grunge dan Kurt Cobain
Sumber: animalia-life.club
Lalu, bagaimana baju kerja kasar
ini bisa masuk ke radar dunia fashion anak muda? Jawabannya ada di satu kata: Grunge.
Pada awal tahun 1990-an, skena
musik alternatif di Seattle, AS, mulai meledak. Band-band seperti Nirvana, Pearl Jam, dan Soundgarden
merajai tangga lagu dunia. Sang vokalis Nirvana, Kurt Cobain, tanpa sengaja menjadi ikon fashion global hanya karena
ia malas tampil rapi.
Kurt dan anak-anak muda Seattle
saat itu sering membeli baju bekas di thrift
shop demi menghemat uang. Kemeja flanel yang murah, kebesaran (oversized), dan agak belel menjadi
pilihan utama mereka untuk melawan estetika pop tahun 80-an yang serba gemerlap
dan ketat.
Seketika, flanel berubah citra:
dari simbol pekerja kelas bawah menjadi simbol pemberontakan anak muda yang
anti-mainstream!
Abad ke-21
hingga Kini: Jadi Raja Gaya Kasual yang Abadi
Sumber: fashioninclusive.com
Setelah era grunge mereda, flanel
tidak lantas dilupakan. Desainer papan atas seperti Marc Jacobs membawa flanel
ke panggung catwalk, membuktikan
bahwa kain murah ini bisa terlihat mewah jika dipotong dengan benar.
Kini, kemeja flanel telah
bertransformasi total. Bahan pembuatnya bukan lagi melulu dari wol domba yang
tebal dan bikin gerah di negara tropis, melainkan sudah dicampur dengan katun, serat sintetik, atau flanel
ringan yang adem dan cocok dipakai di Indonesia.
Alasan flanel tetap bertahan sangat
simpel: fleksibilitas.
·
Mau tampil ala streetwear?
Tinggal pakai flanel oversized
sebagai luaran kaos grafis.
·
Mau tampil agak rapi (smart-casual)? Kancingkan flanelmu, padukan dengan celana chino dan
sepatu boots atau sneakers bersih.
Kesimpulan
Kemeja flanel yang kamu pakai hari
ini punya sejarah panjang yang kaya. Ia bukan sekadar tren musiman yang bakal
hilang tahun depan. Dari melindungi peternak Wales yang kedinginan, menemani
buruh Amerika membangun rel kereta, hingga dipakai Kurt Cobain saat menggebrak
panggung musik dunia, flanel adalah bukti nyata bagaimana pakaian fungsional
bisa berevolusi menjadi identitas gaya hidup.
Jadi, gaya flanel apa yang paling
sering kamu pakai minggu ini?
Baca juga: Jangan Asal! Gini Loh Cara Yang Benar Mencuci Kemeja Flanel
Perjalanan Jimmy Choo, Brand Heels Mewah Favorit Putri Diana
Lebih dari Sekadar Baju Kotak-Kotak: Bongkar Sejarah Rahasia Kemeja Flanel yang Bikin Kamu Syok!
RFID dan Paspor Digital Diproyeksikan Jadi Kunci Daya Saing Baru Industri Tekstil
Oxford Shoes vs Derby Shoes: Jangan Sampai Salah Pilih (Bisa Merusak OOTD-mu!)
Shoe Tree, Rahasia Sepatu Tetap Awet dan Terlihat Seperti Baru
Bukan Salah Mesin Cuci, Ini Alasan Kenapa Beberapa Jenis Kaos Lebih Cepat Melar
Misteri Terpecahkan: Kenapa Label Baju Sering Bikin Gatal? (Dari Kain Kaku Sampai Teknologi ‘Hilang’)
Rahasia Jemur Baju: Beneran Perlu Dibalik atau Cuma Mitos Netizen?
Bukan Sekadar Aturan, Ini 4 Alasan Kenapa Sepatu Sekolah Harus Hitam
Tips Styling Headscarf Aesthetic dan Anti-Geser