Sungai Kalimas menjadi panggung
perayaan Hari Batik Nasional (HBN) 2026. Pada Jumat (2/10/2026), sebanyak 11
perahu hias menyusuri rute sepanjang 1,2 kilometer dari Taman Prestasi menuju
Monumen Kapal Selam (Monkasel) dalam parade “Batik Berlayar”.
Bukan sekadar parade perahu,
kegiatan tersebut membawa motif Batik
Tulungagung ke tengah ruang publik Surabaya. Ornamen batik menghiasi
perahu yang bergerak menyusuri sungai, menciptakan pemandangan berbeda dalam
perayaan HBN tahun ini.
Parade Batik Berlayar menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian perayaan HBN 2026 yang berlangsung di Surabaya. Konsep ini sekaligus memperlihatkan cara baru dalam menghadirkan batik, dari yang selama ini identik dengan kain, busana, dan ruang pamer menjadi bagian dari pertunjukan budaya di tengah kota.

Sumber: https://jatim.jpnn.com/
Motif batik buntal, gringsing dan sogan klasik khas Tulungagung hadir sebagai elemen visual yang menonjol sepanjang parade. Perahu-perahu yang melintas
dihiasi ornamen batik, sementara peserta turut mengenakan busana bermotif
batik.
Pemilihan tersebut tak lepas dari upaya mengangkat potensi batik daerah. Mengingat bahwa kota Tulungagung termasuk salah satu sentra batik di Jawa Timur yang memiliki beragam motif dengan
karakter khas.
Ketua Panitia HBN 2026 Wirasno
menyebut konsep Batik Berlayar menjadi pengalaman baru dalam perayaan Hari
Batik Nasional. Sungai Kalimas dipilih untuk membawa gagasan bahwa batik dapat
terus bergerak, berkembang, dan menjangkau ruang yang lebih luas.
Suasana parade semakin meriah
dengan pertunjukan musik dan pencahayaan yang mengiringi perjalanan perahu
hingga tiba di kawasan Monkasel.
"Batik Berlayar" bukan sekadar konsep estetika visual di atas air. Tema ini membawa filosofi mendalam tentang pergerakan seni batik yang dinamis. Batik digambarkan sebagai warisan budaya yang tidak 'mandek' melainkan terus bergerak maju, beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan berinovasi tanpa kehilangan akar tradisinya.
Ini merupakan simbol perluasan pasar untuk membawa batik menjangkau ranah yang lebih luas serta meningkatkan minat generasi muda pada batik.
Batik Berlayar juga menunjukkan
bagaimana perayaan batik dapat dikemas melalui ruang publik. Masyarakat tidak
hanya melihat batik dalam bentuk kain atau koleksi busana, tetapi dapat
menyaksikannya sebagai bagian dari pertunjukan yang berlangsung secara langsung
di sepanjang Sungai Kalimas.
Konsep tersebut sejalan dengan semangat HBN 2026 yang ingin membawa batik lebih dekat dengan masyarakat, termasuk generasi muda. Sebelumnya, Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia Gita Pratama Kartasasmita menyampaikan bahwa perayaan tahun ini dirancang dengan pendekatan yang lebih terbuka dan interaktif.
Pemilihan Surabaya sebagai lokasi
puncak HBN 2026 juga memberikan ruang bagi batik dari berbagai daerah di Jawa
Timur untuk mendapat perhatian lebih luas. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil
Elestianto Dardak menilai kekayaan batik Indonesia tidak hanya berasal dari
daerah-daerah yang selama ini sudah dikenal sebagai sentra batik. Masih banyak
potensi lokal yang dapat dikembangkan dan diperkenalkan ke pasar yang lebih
luas.
Keterlibatan Batik Tulungagung
dalam parade Batik Berlayar menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan
batik daerah melalui momentum nasional. Selain parade di Sungai Kalimas,
rangkaian HBN 2026 di Surabaya juga diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari
pameran, peragaan busana, workshop, talkshow, hingga pertunjukan budaya.
Festival Hari Batik Nasional 2026 sendiri, berlangsung selama lima hari, mulai 30 September hingga 4 Oktober 2026. Tidak hanya berfokus pada pameran budaya dan peragaan busana (fashion show), acara ini juga menyentuh aspek ekonomi digital.
Salah satu agenda penting dalam festival ini adalah pelatihan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) bagi para perajin dan pelaku Industri Kecil Menengah (IKM). Melalui program ini, pemerintah berharap para pelaku industri batik dapat memanfaatkan AI untuk efisiensi produksi, pengembangan motif baru, hingga strategi pemasaran digital yang lebih masif.
Rangkaian acara tersebut tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga ruang untuk melestarikan
batik. Namun, perayaan di atas air ini juga membawa pekerjaan rumah yang tidak
kecil.
Data BPS mencatat ekspor batik
sepanjang 2025 mencapai US$20,14 juta, naik 32,50 persen dari tahun sebelumnya,
tetapi pada triwulan II 2026 nilainya turun 13,76 persen menjadi US$4,39 juta.
Angka itu menunjukkan bahwa kecintaan terhadap batik belum otomatis berarti
pasar yang stabil.
Lebih dari satu dekade setelah
UNESCO mengakui batik Indonesia pada 2009, tantangannya bukan lagi sekadar
menjaga warisan, tetapi memastikan warisan itu tetap hidup, dipakai, dan
menghidupi para perajinnya. Parade perahu di Kalimas hanya satu malam, tetapi
kalau gagasannya terbawa ke sentra-sentra batik dan ke pasar yang lebih luas,
"berlayar" tidak akan berhenti di dermaga Monkasel.
Batik Berlayar Meriahkan Perayaan Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya
Undone Fashion: Saat Gaya “Berantakan” Justru Jadi Tren para Selebritas di MTV VMAs 2026
Apa Itu Girdle? Kenali Fungsi dan Perbedaannya dengan Korset
9 Cara Merawat Pashmina Viscose yang Benar
Maximalist vs Avant-Garde: Kenapa Fashion yang “Gila” Sering Bikin Bingung?
Kenapa Motif Loreng Disebut Camo? Ini Asal-usulnya!
Atelier vs Butik, Apa Sih Bedanya?
5 Tren Menswear dari Milan Fashion Week SS27: Saat Gaya Pria Makin Berani
Kenapa Serat Kain Satin Mudah Tertarik? Ini Penyebab Snag dan Cara Mencegahnya
Mengenal Kain Bouclé, Rahasia Tekstur Mewah di Balik Jaket Chanel